drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 4

Kampus Motivator Sebuah Renungan Bersempena Dies Natalis Unri


Oleh : drh.chaidir, MM

Rektor abad 21 itu, Prof. DR. Ir. Muchtar Achmad, MSc sudah hampir dua bulan duduk di singgasana. Masih sangat terlalu pagi untuk membuat sebuah penilaian apakah dia memang orang yang tepat untuk menjadi nakhoda UNRI atau tidak. Team worknya sendiri belum lagi terbentuk. Pengangkatan Pembantu Rektor masih dalam proses. Hari-hari sang Rektor menjelang akhir tahun ini, saya kira, masih dalam posisi inward looking sambil mencernakan petuah-petuah dari segala penjuru angin dan dari segala lapisan, dari yang pintar mapupun yang mengaku pintar.

Pada acara syukuran yang sangat sederhana yang diselenggarakan oleh sebuah yayasan. Dan kebetulan saya hadir, Prof. Muchtar Achmad dalam sambutannya menyinggung masalah patuah-petuah itu. "Banyak orang-orang yang disegani memberi petuah. Muchtar, kamu jangan begini, jangan begitu, ini tidak boleh itu tidak boleh, pandai itu baik, tapi berpandai-pandai jauh lebih baik, dan seterusnya, dan seterusnya". Akhirnya, kata Prof. Muchtar Achmad ketika itu, "agaknya saya dipilih untuk kemudian diharapkan tidak usah berbuat apa-apa, biarkan semuanya status quo, ikuti sajalah arus". Tapi kemudian Profesor bertanya sendiri, "Kalau begitu untuk apa saya dipilih?"

Saya kira itu sebuah ungkapan jujur dan orisinil dari seorang akademi yang tidak biasa. Biasanya orang akan lebih banyak memilih untuk berpandai-pandai dan mengikuti arus saja, dari pada cari perkara. Sikap Prof. Muchtar Achmad yang memperoleh doktrin dari Almamaternya Universitas Tokyo, yang konon pantang mengikuti arus, tentu menarik untuk direnungkan, justru ketika hati dan kepala tidak lagi panas. Pertanyaan asasi, apa sebenarnya tujuan keberadaan sebuah universitas di tengah-tengah masyarakat. Secara normatif semua sudah jelas, ada tugas pokok, ada tugas fungsi, ada kebijaksanaan, ada civitas akademika, tidak ada yang salah. Setiap tahun ratusan sarjana drwisuda dari berbagai disiplin ilmu. Semua terukur. Tetapi secara substantif, bagaiman kita akan mengukur standar tradisi keilmuan yang melingkupi interaksi dosen-mahasiswa kita, sehingga UNRI berada dalam strata yang layak diajak berbicara dalam forum yang bergengsi di rantau ini.

Saya tidak memahami secara persis substansi univer"sitas riset, sebagaimana gagasan Prof. Muchtar Achmad. Tetapi esensinya saya kira, bagaimana menumbuh-kembangkan tradisi keilmuan dan penelitian di universitas pada tingkat yang memenuhi standar. Tanpa tradisi itu, maka universitas tidak akan lebih dari sebuah kebenaran absolut. Mereka yang mendewa-dewakan ilmu sebagai satu-satunya sumber kebenaran, biasanya tidak mengetahui hakekat ilmu yang sebenarnya. Demikian juga sebaliknya dengan mereka yang memalingkaa muka dari ilmu dan tidak mau melihat kenyataan betapa ilmu telah membentuk peradaban manusia, berarti kurang mengenal hakekat ilmu. Universitas adalah tempatnya untuk mempertanyakan atau menguji kebenaran dalil-dalil melalui penelitian [riset]. Bukankah di kampus, mahasiswa dan dosen boleh memperdebatkan apa saja, dari soal yang paling remeh sampai boleh menggugat kebenaran bahwa matahari itu adalah api dan meragukan bumi itu berputar?

***

Dewasa ini terjadi kecenderungan terpolarisasinya persepsi kampus dan eksekutif di luar kampus, walaupun tidak terlalu ekstrim, namun cukup mudah untuk diamati. Tidak jarang kita mendengar, kampus sangat asyik dengan teori-teori tentang kebenaran. Teori-teori yang bersumber dari text-book, konsep yang telah baku dan teruji tentang demokrasi, HAM, lingkungan hidup dan sebagainya. Konflik pemikiran kemudian timbul manakala "tuangan" itu dicocokkan dengan paradigma realitas kehidupan masyarakat yang terjadi di luar kampus. Situasi ini seringkali menimbulkan masalah, karena kampus menganggap, eksekutif yang mewakili otoritas di luar kampus telah menyimpang dari teori-teori baku yang sudah teruji kebenarannya. Akumulasi konflik pemikiran antara kekurang-sesuaian teori dengan realitas, pada akhirnya menimbulkan sikap apriori yang kemudian menyebabkan munculnya sikap apatis atau bentuk lain berupa sikap arogansi yang dikemas dalam tatanan keilmuan. Sebaliknya, pihak eksekutif acap kali menganggap kampus terlalu teoritis, tidak menguasai masalah dan tidak memiliki fakta empirik. Pemerintahlah fang menyusun program, pemerintah yang memiliki dana untuk melaksanakan pro"gram, memiliki fakta empirik, dan tahu persis hambatan-hambatan yang ada.

Menghadapi kecenderungan dua pola pendapat ini, seyogianya kita berdiri di tengah, dengan menyadari bahwa meskipun ilmu memang memberikan kebenaran, namun kebenaran keilmuan bukanlah satu-satunya kebenaran dalam hidup kita ini. Kehidupan terlalu rumit untuk dianalisis hanya oleh satu jalan pemikitan. Agaknya di sinilah konteks Universitas Riset itu pada hemat saya. Pada tahap awal diperlukan komitmen yang luar biasa dan pengorbanan untuk mewujudkannya. Tetapi apabila itu telah terwujud, maka akan terjalinlah interaksi yang berkualitas secara berkesinambungan antara kampus dengan lingkungannya. Bukan interaksi sporadis, misalnya pada musim suksesi, ketika kampus "membuka" diri untuk dipenettasi oleh pihak luar kampus dan mahasiswa turun ke jalan unjuk gigi.

Dalam jangka panjang, Universitas Riset akan dapat mencarikan solusi substansial terhadap permasalahan asasi yang melilit masyarakat di luar kampus, tidak hanya sekedar justifikasi akademik terhadap sebuah program pemerintah yang mengesankan basa-basi atau penelitian yang sangat berbau formalitas. Universitas Riset pada gilirannya akan mengeluarkan alumnus yang berkualitas dan memiliki kelas, sehingga akan membentuk sebuah mata-rantai [link] yang saling isi mengisi dengan lingkungan masyarakat di luar kampus termasuk dengan pemerintah sekalipun. Bila "dapur" kampus, "dapur" eksekutif, "dapur" organisasi politik, dan kemasyarakatan, serta "dapur" legistatif memiliki integritas dan mata-rantai, serta memiliki wawasan ke depan yang sama, maka tidak akan ada lagi pertanyaan, pembangunan untuk siapa atau mitos adu domba.

***

Sabtu beberapa hari lalu, Unri menyelenggarakan Dies Natalis, Momentum Dies Natalis dan momentum rektor baru, yaitu saat yang tepat untuk memberikan masukan dan melakukan kaji ulang terhadap visi, misi dan persepsi keberadaan Unri secara substansial di tengah masyarakat. Tri Dharma Perguruan Tinggi [Pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat] perlu diaktualisasikan. Apalagi di hadapan kita sudah menanti abad baru yang ditandai dengan pertarungan babak baru dengan aturan main baru. Yang tidak memiliki kualifikasi standar, bersiap-siaplah untuk minggir dari arena. Menghadapi agenda baru di abad baru tersebut, mau tidak mau semua unit organisasi yang belum menunjukkan kinerja yang optimal perlu melakukan rekayasa ulang [reinventing] terhadap organisasinya bila masih ingin tetap eksis dan dipandang.

Unri adalah aset nasional yang tidak ternilai harganya bagi daerah ini. Dengan demikian adalah sangat wajar bila masyarakat ingin melihat Unri menjadi besar, memiliki sesuatu yang membanggakan, mampu menjadi kiblat ilmu pengetahuan di daerah ini dan mampu menjadi "dapur" rujukan pemikiran. Dengan demikian, kampus memiliki peran yang besar dalam mewarnai program-program pembangunan daerah.

Melihat kinerja Unri dan mengamati pemikiran-pemikiran Prof Muchtar Ahmad, termasuk gagasannya untuk menjadikan Unri sebagai Universitas Riset serta komentar para pengamat di media massa, rekayasa ulang terhadap visi, misi dan persepsi Unri agaknya tidak terhindarkan apabila kita sungguh-sungguh ingin menjadikan Unri sebagai pusat ilmu pengetahuan yang mampu secara signifikan mem-berikan kontribusi terhadap marf.bat kemanusiaan. Unsur rekayasa ulang Unri, sebagian agaknya telah terpenuhi. Ada visi yang berani dan ada kepemimpinan yang tidak takut menantang arus.

***

Menurut hemat saya ada dua aspek yang menguntungkan apabila terjadi interaksi yang positif antara Unri [kampus] dan penguasa di luar kampus [eksekutif). Pertama, Unri akan mampu mempengaruhi perumusan kebijaksanaan pembangunan daerah secara lebih berbobot dalam nuansa keilmuan. Dengan demikian, akan memotivasi para pengambil keputusan untuk menyusun program terbaik dan berani diuji. Kedua, di tengah menurunnya popularitas penguasa hampir di seluruh pelosok dunia dewasa ini, kalangan kampus, khususnya lagi mahasiswa, menjadi kelompok strategis yang mudah diterima oleh masyarakat marjinal. Rendahnya motivasi berprestasi masyarakat dan rendahnya "fighting spirit" adalah kendala utama dalam menggerakkan masyarakat untuk maju memasuki abad ke-21. Mengapa kita menjadikan kampus sebagai motivator? Sepanjang pro"gram itu jelas menunjukkan keberpihakan dan memberikan manfaat yang besar kepada rakyat kecil, Prof Muchtar Achmad bersama "pasukannya" di kampus saya kira tidak akan enggan berbagi ilmu


Tulisan ini sudah di baca 123 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/32-Kampus-Motivator-Sebuah-Renungan-Bersempena-Dies-Natalis-Unri.html