drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 3

Air Bersih


Oleh : drh.chaidir, MM

Tanggal 6 April lusa, kalau tidak ada halangan, Pemda Tingkat II Bengkalis akan menandatangani sebuah MOU [Memorandum of Understanding] dengan sebuah perusahaan patungan Riau dan Selangor, Malaysia, untuk membangun sebuah proyek penyediaan air minum di Dumai senilai lebih kurang Rp 150 miliar [Riau Pos, 2/4]. Sebagai sebuah proyek yang sifatnya BOT [Built Operation and Transfer], pendanaan sepenuhnya dari swasta. Ini jelas bukan "April mop". Sebab dalam ekspose Bupati Bengkalis di depan Komisi D DPRD Tingkat I Riau awal bulan lalu, hal itu telah diungkapkan. Komisi D DPRD Tingkat I Riau ketika itu memberikan respon yang sangat positif terhadap rencana tersebut. Betapa tidak. Air merupakan benda yang sangat berharga bagi daerah Bengkalis dan sekitarnya. Bukan kerena untuk kepentingan Kawasan Indutri Dumai [KID]; sebab tanpa kehadiran KID itu sekalipun, proyek air bersih itu agaknya tetap akan feasible" sebab telah ditunggu oleh konsumennya, masyarakat Dumai, Duri dan sekitarnya.

Beberapa sentra pemukiman di Kabupaten Bengkalis, seperti Bagan Siapi-api, Sungai Apit, termasuk desa Pusakenya Pak Syarwan Hamid, Selat Panjang; turun ke arah selatan di wilayah Kuala Kampar dan lebih ke Selatan lagi di seluruh wilayah yang termasuk wilayah Kabupaten Indragiri Hilir, air bersih memang sulit diperoleh apalagi di musim kemarau. Air yang mereka konsumsi seadanya, biasanya berwarna coklat.

Tidak dapat disangkal, air bersih memang kebutuhan vital manusia. Tubuh memerlukan air dalam jumlah yang banyak untuk mengatur keseimbangan metabolisme, suhu badan dan reaksi-reaksi kimia lainnya di dalam tubuh, yang memungkinkan tubuh kita akomodatif terhadap lingkungannya. Itu belum untuk kebutuhan mandi, sikat gigi, cuci dan sebagainya. Untuk kebutuhan hotel-hotel, kapal industri, lebih banyak lagi air bersih yang diperlukan. Semakin tinggi tingkat sosial masyarakat semakin banyak pula konsumsi air bersihnya.

Kota modern seperti Singapura misalnya, memerlukan 250 juta galon air bersih per hari, atau hampir mencapai satu miliar liter. Kebutuhan itu, sebagian mereka pasok dari Johor, Malaysia. Bahkan untuk mengantisipasi masalah penyediaan air bersih ini, Singapura sudah sejak lama melarang dibangunnva industri-industri yang boros menggunakan air bersih. Di samping itu, Singapura telah menandatangani MOU dengan Pihak Indonesia untuk memanfaatkan air baku Sungai Kampar guna memenuhi permintaan air bersih kelak di kemudian hari. Pipa air yang akan dibangun dari Sungai Kampar ke Singapura mencapai lebih dari 250 km. Pemipaan air dari Sungai Kampar itu, menurut PM Singapura Goh Chok Tong dalam sebuah pidatonya di Parlemen Singapura tahun 1991, tidak hanya untuk Singapura, tetapi juga akan disambungkan ke Bintan dan Batam untuk memenuhi kebutuhan wilayah itu. Ini tentu merupakan sebuah proyek raksasa. Tapi untuk air bersih, Singapura nampaknya akan melakukan apa saja, mereka wajar merasa riskan bila hanya menggantungkan suplai air bersihnya dari Johor.

Riau sendiri sebenarnya belum pernah mengalami krisis akibat kekurangan air bersih. Bukankah belum pernah terjadi demonstrasi mahasiswa akibat kekurangan air bersih? Barangkali karena provinsi ini dialiri oleh empat buah sungai besar; Sungai Rokan, Siak, Kampar dan Indragiri. Tetapi sebenarnya kecukupan masyarakat kita terhadap air bersih adalah semu. Kita memang memiliki air baku yang melimpah dan sudah ada pula perusahaan air minum daerah untuk memenuhi kebutuhan di kota, tetapi produksi PAM kita masih belum memadai, baik kuantitas apalagi kualitasnya. Di negara-negara maju, air yang keluar dari kran langsung bisa dan aman untuk diminum. Sementara PAM kita masih memiliki banyak keterbatasan. Teknologi, permodalan, manajemen dan sikap mental pengelola dan masyarakat masih selalu menjadi kambing hitam terhadap rendahnya mutu produk.

Permasalahan air bersih di kota tidak sama dengan di desa. Desa-desa yang terletak di pegunungan relatif tidak pernah mengalami masalah dengan air bersih. Mereka bisa mengambil air dari anak-anak sungai yang mengalir dari gunung-gunung yang masih jernih dan bersih airnya. Adakalanya sumber airnya memang jauh, tetapi masyarakat tidak pernah ambil pusing. Yang sering menghadapi masalah kekurangan air bersih ini adalah penduduk yang tinggal di desa-desa yang terletak di dataran rendah dan rawa-rawa pantai timur Sumatera yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkalis, Kuala kampar dan Indragiri Hilir itu.


Tulisan ini sudah di baca 131 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/31-Air-Bersih.html