drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 3

Wajah Kota Wajah Kita


Oleh : drh.chaidir, MM

Judul tersebut pernah saya turunkan dalam artikel saya di Riau Pos sekitar tiga tahun yang lalu, ketika Pekanbaru Kota Bertuah belum memiliki Dinas Tata Kota seperti sekarang. Ketika itu saya merasa, artikel saya itu tidak lebih dari sekedar angin lalu, sebab ketika beberapa hari kemudian saya secara kebetulan berjumpa dengan Pak Wali di Bandara Batam, saya tidak mendapat respon dari beliau, kendati telah coba saya pancing. Kesimpulan saya, Pak Wali agaknya belum membaca artikel tersebut.

Beberapa minggu yang lalu ketika Info Kota terbit, secara spontan saya berfikir, inilah media yang paling sesuai dengan artikel saya tersebut. Sebab segmen "pasarnya" jelas yaitu para pejabat pengambil keputusan di kota ini, yang saya yakini, memiliki komitmen yang sangat kuat untuk menjadikan kota ini sebagai sebuah kota yang indah dan menyenangkan. Oleh karenanya saya berusaha mencari kembali artikel tersebut, untuk kemudian diambil beberapa ide dasarnya dan ditulis kembali.

Taman kota, jelas bukan termasuk sembilan kebutuhan pokok warga kota. Taman kota adalah perangkat sebuah kota modern. Pertanyaannya adalah sudah mendesakkah taman kota itu bagi Pekanbaru kita ini.

Seorang rekan saya, ahli lanskap [landscape enginner], memberikan komentarnya terhadap lanskap Pekanbaru sebagai "wajah kota gaya kampung". Saya protes. Tetapi dia memberikan jurus-jurus pamungkas, cobalah Bung renungkan, apa land mark [ciri] yang menonjol dari Pekanbaru? Contoh, seperti New York dengan Patung Liberty-nya, Paris dengan menara Eiffel, atau Jakarta dengan Menara Monas dan Dunia Fantasi atau Taman Mininya. Yang dekat, ada, Bukittinggi, terkenal dengan Jam Gadang dan Kebun Binatangnya. Pekanbaru? Apa hendak kita sebut, kota nenas, kota durian, kota barijir, atau kota ruko?.

Para pengamat lanskap yang jeli dan peduli terhadap pertamanan akan dengan mudah menangkap ekspresi wajah pertamanan suatu kota, apakah taman-taman kotanya asal berbunga ria, ataukah memiliki sentuhan arsitektur lanskap.

Babak berikutnya, biasanya , pengamat tanpa sadar akan membuat deskripsi mengenai tingkat apresiasi pejabat dan dan warga kotanya terhadap pertamanan dan keindahan dan keindahan. Maka muncullah komentar-komentar spontan : "wah, kotanya gersang, wah... kotanya berdebu, wah... tamannya tidak terawat, atau....[dan ini rada sadis], "pejabatnya mikirin apa saja sih", dan seterusnya, dan seterusnya. Maka tidaklah berlebihan apabila ahli lanskap mengatakan bahwa wajah kota adalah wajah warganya.

Dari kaca mata lanskap. wajah pertamanan sebuah kota memang bisa bercerita banyak mengenai wajah warga kotanya. Bisa mencerminkan status sosial warganya, bisa mencerminkan tingkat kepedulian warganya, atau bisa pula memberikan indikasi terhadap tingkat kebutuhan dasar warganya [basic need]. Makin tinggi basic need warga kotanya, makin maju cara berfikir warganya. Warga yang setiap hari masih bergulat dengan "masalah perut", sukar diharapkan memiliki apresiasi terhadap taman kota. Taman kota juga bisa mencerminkan tingkat disiplin, bisa pula mencerminkan keluhuran budi pekerti warganya.

Bagi sebuah kota modern, taman kota [city park] merupakan bagian yang sangat tidak terpisahkan dari konsep pembangunan kota. Untuk kota yang terbatas luas wilayahnya seperti Singapura dan Batam misalnya, maka dalam penyusunan rencana pengembangan kota, salah satu unsur yang tidak kalah pentingnya adalah pencadangan lahan terbuka [open space] untuk taman kota dan jalur hijau [green belt]. Singapura telah mematok standar untuk open space mereka seluas 0,8 Ha per 1000 orang penduduk. Sekarang, 25 tahun kemudian, tempat terbuka, yang telah dibangun menjadi taman sudah mencapai angka rata-rata 0,7 Ha per 1000 penduduk, hampir optimal.

Pekanbaru sebenarnya masih beruntung. Sebab dengan 500.000 penduduk, maka apabila kita ingin mewujudkan standard open space optimal secara internasional [berarti melebihi Singapura], areal yang diperlukan adalah sekitar 400 Ha [tentu di dalam kota]. Dan ini masih relatif kecil dibandingkan dengan luas wilayah Pekanbaru yang 63.000 Ha. Sudahkah terakomondasikan areal terbuka untuk taman kota dalam RTRWK Pekanbaru?

Kalau sudah tertampung, maka apakah distribusinya seimbang untuk masing-masing sentra pengembangan kota baik yang sudah eksis maupun yang masih dalam rencana?

***

Taman kota adalah sarana yang berfungsi sebagai tempat rekreasi masyarakat warga kota dan terbuka untuk umum. Lapangan terbuka ini biasanya ditanami dengan rumput yang bagus dan bunga-bungaan yang indah serta dilengkapi dengan beberapa fasilitas rekreasi seperti arena joging [joging track], arena bermain anak-anak [playground], bahkan bisa pula berfungsi sebagai camping ground. Lapangan Monas di Jakarta adalah sebuah contoh Taman kota yang cukup luas yang sekarang difungsikan kembali sebagai taman kota setelah sekian lama berubah fungsi. Kota Pekanbaru sendiri, tadi-tadinya juga memiliki taman kota yang cukup luas di Jalan Soedirman, tapi sekarang di sana sudah berdiri dengan megahnya Kantor Gubernur Riau. Taman Kartini Diponegoro, bahkan sama sekali tidak terawat lagi.

Jadi, sebenarnya untuk saat ini Pekanbaru tidak memiliki taman kota, kecuali sebuah play ground mini Taman Putri Kaca Mayang. Taman Alam Mayang dan Danau Buatan masih memerlukan investasi besar untuk memfungsikannya sebagai sebuah taman kota yang ideal. Median-median dan bahu-bahu jalan tidak termasuk dalam kategori taman kota karena tidak memiliki fungsi sebagai tempat rekreasi masyarakat. Median dan bahu jalan; memang harus hijau dan diblok dengan bunga atau tanaman hias tertentu. Penghijauan median dan bahu jalan serta taman-taman kecil di pertigaan atau bundaran jalan, dalam konsep lanscape, dikategorikan sebagai traffic island dan berfungsi sebagai pengatur atau penunjuk arah. Penghijauan median atau bahu jalan tidak bisa "diramas", semua jenis tanaman hias di tanam ramai-ramai. Setiap jalan dalam konsep landscape harus memiliki karakter sendiri. Jalan Sudirman misalnya dominan dengan kembang bougenvile [bunga kertas], Jalan Diponegoro dominan dengan flamboyan yang berbunga merah, sementara jalan A. Yani dominan dengan bunga Alamanda. Ini misalnya.

***

Menjadikan Pekanbaru sebagai Kota Taman yang indah, bukan mustahil. Yang diperlukan adalah sebuah komitmen dan langkah-langkah awal yang tegas. Disiplin yang tinggi dan komitmen yang kuat sangat penting, sebab membangun taman-taman kota yang indah di setiap sentra pemukiman adalah sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan peran serta masyarakat, kesadaran, waktu, kesabaran, kenyinyiran, dan biaya yang tidak kecil. Kesamaan visi dan persepsi diperlukan pada setiap instansi dan semua pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat. Ketiga kutub ini, Pemerintah, Swasta, dan masyarakat bekerjasama saling menguntungkan.

Kampus yang indah dan hijau di Universtas California di Santa Cruz Amerika Serikat, kampus University of Queesland di Brisbane Australia, atau kota Bahrain di gurun pasir yang ternyata bisa dihijaukan, adalah hasil dari sebuah keria keras. Ada kemauan vane kuat untuk berindah-indah. Bagaimana dengan kampus-kampus perguruan tinggi kita, Unri, UIR, IAIN dan Unilak ?

Singapura misalnya, baru berhasil mewujudkan impiannya menjadi kota pulau itu sebagai "Kota Taman Tropis Yang Indah" setelah dua puluh lima tahun, dengan membelanjakan dana sekitar Rp 60 Milyar pertahun. Ini belum termasuk taman-taman yang dibangun oleh sektor swasta khusus untuk kepentingan komersial seperti di Pulau Sentosa. Memang, indah itu mahal.

Agaknya basic need kita memang berbeda, sehingga apresiasi terhadap esensi pertamanan dan keindahan berbeda. Tetapi "need" sebuah kota modern sebenarnya universal. Sebuah kota modern harus memiliki karakter lanskap yang spesifik, yang mampu menggugah kreasi dan daya cipta warganya dalam berkarya.


Tulisan ini sudah di baca 145 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/30-Wajah-Kota-Wajah-Kita.html