drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 3

Kaliku Sayang, Kaliku Malang


Oleh : drh.chaidir, MM

Riau beruntung dialiri empat buah kali besar yaitu Sungai Rokan, Sungai Siak, Sungai Kampar dan Sungai Indragiri, di samping puluhan bahkan ratusan anak-anak sungai yang bermuara keempat sungai besar tersebut. Sungai-sungai itu di manfaatkan oleh anak negeri sebagai sumber air untuk kebutuhan hidup; minum, mandi, mencuci, untuk menangkap ikan, untuk mengairi sawah, dan sebagai prasarana transportasi, baik manusia maupun barang, terutama dalam pengangkutan kayu-kayu balak. Manfaat tersebut sudah di nikmat turun-temurun oleh masyarakat. Dewasa ini fungsi itu mulai terancam, terutama dalam fungsi sebagai air minum dan tempat mencari ikan. Beberapa sungai sudah sangat turun potensi ikannya, beberapa sungai tidak bisa lagi di konsumsi airnya oleh masyarakat karena berbau tidak sedap.

Turunnya manfaat sungai itu di gugat oleh masyarakat Menurut masyarakat, hal itu sebagai akibat dari pembuangan limbah beberapa pabrik yang berlokasi disekitar aliran sungai. Benarkah sebagian dari sungai-sungai itu terancam? Indikasi memang menunjukkan, ada pabrik yang termasuk daftar hitam, ada yang mendapat peringatan, dan ada yang tertangkap basah oleh LSM atau wartawan. Cerita burung yang beredar, ada pula pabrik yang membuang limbahnya secara sembunyi-sembunyi melalui saluran khusus, satu di antaranya ditemui oleh anggota Komisi D DPRD Riau di pabrik pengelolahan sawit milik sebuah Perkebunan Besar Swasta di Kecamatan Benai minggu lalu.

Tetapi kalau kita mau jujur, sungai-sungai yang sangat besar manfaatnya bagi kita itu, tidak hanya dicemari oleh limbah industri. Masyarakat umum, terutama yang tinggal di tepi sungai mencemari dalam derajat tertentu. Semua sampah dibuang ke sungai, demikian juga limbah industri tubuh rnanusia yang namanya tinja. Bukankah ada orang asing yang bilang bahwa sungai-sungai kita laksana sebuah WC terpanjang [di dunia]? Sungai Siak adalah contoh yang mudah dilihat oleh warga Pekanbaru.

Produk yang Akrab Lingkungan
Hari ini di Pekanbaru berlangsung Seminar Sehari tentang "ISO 14000, Cleaner Production Ecolabeling And Trade Globalization" yang diselenggarakan atas kerja sama PT Riau Andalas Pulp and Paper bersama PWI cabang Riau. Ini sebuah sikap proaktif dan upaya yang bagus untuk mengetahui dan memahami pentingnya Produksi Bersih sebagai upaya meraih ISO 14000 dan mendapatkan ekolabel, yakni suatu label yang diberikan untuk produk-produk yang dianggap akrab lingkungan.

Upaya kalangan usahawan industri di daerah ini untuk mendapatkan ISO 14000, menarik untuk dicermati . Kelompok teknokrat yang peduli, yang menaruh keyakinan kuat bahwa pengembangan industri sangat penting maknanya dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah, tentu sangat memahami betapa sertifikat ISO 14000 tersebut sangat diperlukan. Tanpa sertifikat itu, ke mana nanti produk akan dipasarkan? Sementara tata-niaga perdagangan global semakin rumit dan semakin ketat persyaratannya. Mengharapkan pasar domestik jelas tidak rasional, sebab di samping menyangkut perimbangan suplai dan permintaan, pasar domestik tidak akan menguntungkan bagi neraca pembayaran kita. Yang terjadi nanti bukan malah menghasilkan devisa buat negara, tetapi justru menguras devisa. Permasalahannya adalah mampukah kalangan industri kita mempersiapkan diri secara fisik dan dalam sikap mental, untuk secara benar-benar menghasilkan produk yang akrab lingkungan itu?

Indikasi berupa pencemaran sungai sebagaimana tadi saya singgung, menunjukkan bahwa isu pencemaran masih akan sering mencuat ke permukaan. Hal ini sebenarnya seringkali berawal dari sikap kita yang double standard dalam melihat masalah lingkungan hidup. Semacam ada keengganan pihak perusahaan membelanjakan anggaran yang proporsional untuk pengelolaan limbah sebagaimana yang telah ditentukan oleh peraturan perundangan. Sementara pada saat yang sama sebenarnya ada kesadaran bahwa limbah yang dihasilkan, apakah lagi membahayakan, sama sekali tidak menguntungkan baik bagi masyarakat apalagi bagi reputasi perusahan. Penilaian terhadap tingkat pencemaran juga demikian. Dalam dimensi teori atau peraturan perundangan, limbah sebuah pabrik yang dibuang ke sungai misalnya boleh jadi belum melampaui nilai ambang yang di perbolehkan, tetapi bagi masyarakat awam, ukuranya bukan itu. Satu pokok cabe saja layu, atau satu ikan saja mati mengambang di sungai, itu sudah cukup menghujat sebuah pabrik bahwa mereka telah mencemari sungai.

Pertanyaan yang sering menggoda, apakah mungkin Top Management perusahan [umumnya tinggal di Jakarta] yang memiliki perusahan tersebut, membiarkan pabriknya di daerah belum membangun unit pengolahan limbah yang memadai, sehingga mencemari lingkungannya? Rasanya tidak mungkin. Semakin besar perusahannya semakin besar reputasinya. Bukankah berita pencemaran itu di era informasi ini akan semakin cepat mengglobal? Bukankah nanti ISO 14000 akan semakin susah dijangkau?

Industri yang Bersahabat
Selama dua dekade terakhir ini, memang muncul keprihatinan global akan dampak negatif pertumbuhan ekonomi yang tinggi terhadap lingkungan hidup. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mempersyaratkan berkembangan industri, baik agroindustri maupun industri manufaktur. Dan ini berarti akan semakin banyak pabrik yang berdiri. Semakin banyak pabrik yang berdiri, semakin potensial pula sungai-sungai kita tercemar limbah.

Perkembangan ini perlu kita cermati, tetapi bersikap phobia terhadap industri industri besar tentu sudah dicari argumentasinya, sementara perekonomian kita memerlukan industri-industri besar sebagai lokomotif untuk menarik gerbong-gerbong ekonomi rakyat kita.

Industri-industri besar memiliki multiplier effect yang mampu mengairahkan perekonomian di daerah. Lebih jauh, sumber daya alam kita memang harus diolah dengan memberinya muatan teknologi untuk mendapatkan nilai tambah supaya dapat memberikan manfaat yang besar bagi peningkatan kesejahteraan umat manusia. Tanpa industri-industri besar itu perekonomian kita akan jalan ditempat.

Tantangan yang perlu mendapatkan pemikiran kita bersama agaknya adalah menciptakan industri-industri besar itu menjadi industri yang bersahabat dengan lingkungan di sekitar kita, baik terhadap alamnya, sungai-sungai, satwa, flora, dan apalagi terhadap manusia-manusinya. Apabila hubungan itu selaras, serasi dan seimbang, maka agaknya kita akan mudah menyamakan visi dan persepsi terhadap ambang pencemaran lingkungan yang mungkin ditimbulkan atau akan tenang dalam program produksi bersih. Kalau indusrtri itu tidak bersahabat dengan lingkunganya, memang menyedihkan. Kaliku sayang, kaliku malang.


Tulisan ini sudah di baca 110 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/28-Kaliku-Sayang,-Kaliku-Malang.html