drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Bisnis Ayam Kampung


Oleh : drh.chaidir, MM

Suatu kali di Batam , saya dihubungi oleh seorang pengusaha Singapura. Saya diberi chance untuk mensuplai ayam kampung ke Singapura. Benar-benar ayam kampung Iho, jangan negative thingking. Yang diminta oleh kawan itu benar-benar ayam kampung, Inggerisnya, kampong chicken. Ini bisnis halal dan nampaknya sederhana. Persyaratan yang diminta antara lain, kontinuitas pengiriman harus terjamin. Artinya jadwal pengiriman harus tetap dan rutin, tidak seperti ayam gadis bertelur. Syarat lain, jumlah pengiriman harus relatif tetap, berat ayam per-ekor pun harus seragam. Kalau warna bulu tidak menjadi masalah. hitam boleh, putih boleh, pirangpun tak apa.

Setelah kontak kian kemari, bisnis ayam kampung yang nampaknya sederhana itu [sebab tidak menggunakan teknologi canggih, bukan?], tidak berhasil saya rebut, dan "kanthau" pun hilang. Saya memutuskan angkat tangan, sebab tidak ada kepastian kolektor yang dapat membantu saya. Tawaran kawan itu tidak main-main. Bila saya setujui, saya memang akan diikat dalam sebuah kontrak.

Sepuluh tahun kemudian, akhir Agustus 1995, beberapa bulan lalu, saya diminta oleh KNPI untuk menjadi moderator dalam dialog pengusaha muda Selangor [Malaysia] dengan pengusaha muda Riau di Pekanbaru. Para pengusaha muda ini saling tukar menukar informasi bisnis di kedua wilayah. Pengusaha kita mengandalkan sumber daya alam yang melimpah sebagai suatu keunggulan komparatif yang bisa "dijual", sementara pengusaha muda Selangor membeberkan beberapa peluang bisnis yang mungkin terjangkau oleh pengusaha Riau, antara lain, pengerahan tenaga kerja yang memang sudah klasik, menjadi pensuplai produk-produk industri perkayuan seperti meubeler dan wood accessories, sampai kepada industri restoran yang menjual masakan khas seperti Rumah Makan Padang dan sebagainya. Masyarakat Malaysia pada umumnya memang sangat menggemari masakan dengan sentuhan rasa dan aroma seperti yang ditemui di rumah-rumah makan Padang.

Seorang pengusaha muda kita, H.M. Yunus, langsung membuat deal untuk membuka restoran Pondok Patin di Johor Bahru dan di Langkawi. Dalam aspek tertentu ini sebuah keputusan yang bagus dan saya menangkap nada optimis dari Pak Haji. Hidung bisnis memang berperan di sini.

Bahwa restoran Pondok Patin di Johor Bahru dan Langkawi Malaysia itu belum lagi berdiri sampai saat ini, itu ternyata hanya masalah waktu, bukan karena kesulitan bahan baku seperti yang saya alami dalam peluang bisnis ayam kampung itu. Sebab sepengetahuan saya, tidak ada permasalahan dengan permodalan, sudah ada mitra pengusaha muda [Melayu] di sana dan tidak ada masalah dengan bahan baku ikan patin, semua oke. Saya bahkan melihat pondok patin di negeri jiran itu lebih prospektif, paling tidak dari aspek bahan baku. Yakin, di Johor dan langkawi orang tidak akan mempersoalkan apakah itu patin hasil tangkapan alam atau patin hasil budidaya keramba, tidak seperti lidah kita di sini yang sudah sangat manja dan oleh karenanya sangat peka terhadap perbedaan itu.

Hal yang menarik untuk dicermati adalah, bahwa sebenarnya cukup banyak peluang bisnis yang terbuka di negeri jiran kita. Kawasan perdagangan bebas Asean [Asean Free Trade Area-AFTA] memang memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anggotanya, baik untuk saling tukar menukar produk maupun untuk kegiatan-kegiatan investasi. Yang diperlukan adalah keberanian untuk mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat sehingga peluang yang barangkali hanya datang sekali seumur hidup itu dapat dimanfaatkan. Tawaran bisnis ayam kampung itu misalnya, mungkin tak akan pernah lagi saya peroleh.

Agaknya kita terlalu banyak menghabiskan energi, berdebat, berdialog, berseminar, untuk hanya tidak lebih baik dari fighting the problem bukan how to solve the problem. Sementara roda industrialisasi berputar terus. Pasar bebas tidak hanya terbuka bagi mereka tapi juga terbuka bagi kita. Indonesia. Malaysia. Thailand. Vietnam Kamboja Filipina menerapkan strategi open door policy dalam mengembangkan perekonomian bangsanya untuk mampu menjadi warga negara dunia yang maju.

Semua memiliki keunggulan komparatif. Dan kalau semua menjajakan produk yang sama dengan kualitas dan harga yang sama, maka yang akan berbicara adalah efisiensi. Siapa yang lebih efisien dalam proses produksinya dia yang lebih kuat staminanya. Produk yang dihasilkan dari sebuah proses dengan tingkat efesiensi yang tinggi akan menghasilkan "margin" keuntungan yang lebih besar, dan akan lebih mampu bertahan dalam persaingan dalam jangka waktu yang panjang.

Forum dialog pengusaha serantau seperti yang dilakukan oleh pengusaha muda Selangor dengan pengusaha muda Riau itu, dan forum dialog bisnis lainnya akan semakin tinggi frekuensinya dalam wadah IMS-GT. Forum seperti ini senantiasa menawarkan peluang bisnis. Kalau kita tidak memanfaatkan peluang bisnis, orang lain yang akan memanfaatkannya.

Bisnis ayam kampung, bisnis ikan patin atau bisnis meubeler serta wood accessories lainnya adalah bisnis yang tidak memerlukan teknologi tinggi tetapi memiliki pangsa pasar khusus di negeri seberang, Malaysia, apalagi Singapura tidak lagi tertarik dengan bisnis tersebut. Singapura betul-betul hanya merekomendasikan industri dengan teknologi tinggi [yang sudah pasti padat modal], tidak mencemari lingkungan dan sedikit menggunakan air. Negara pulau itu bahkan sudah menjadi ajang bisnis simbolik. Dalam intensitas yang lebih rendah, malaysia sudah mengarah ke sana. Mereka misalnya tidak lagi mengembangkan perkebunan kelapa sawit yang menjadi primadonanya. Satu dan lain alasannya karena keterbatasan tenaga kerja: dan kedua, agaknya Malaysia tidak lagi ingin membuka hutannya lebih luas.

Berubahnya struktur industri di Malaysia pasti memberikan peluang pasar bagi pengusaha kita. Bisnis ayam kampung, bisnis patin adalah sebuah contoh kecil. Tapi bukankah kecil itu indah?


Tulisan ini sudah di baca 187 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/27-Bisnis-Ayam-Kampung.html