drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Agroindustri


Oleh : drh.chaidir, MM

Untuk melanjutkan, meningkatkan dan memperdalam keberhasilan pembangunan pertanian yang telah kita capai dalam PJP I, serta untuk mewujudkan strategi industrialisasi yang telah menjadi model pilihan dalam PJP II yang sedang berlangsung sekarang ini, sebagaimana dimaksud dalam GBHN 1993, maka pembangunan pertanian dalam PJP II dilakukan dengan pendekatan sistem agribisnis dengan agroindustri sebagai sektor yang memimpin [Agroindustry lead development strategy].

Untuk dapat melakukan akselerasi dalam proses agroindustrialisasi itu secara optimal, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang agroindustri itu secara substansial. Dengan demikian diharapkan akan tersusun agenda yang antisipatif, sehingga masyarakat terutama petani memperoleh manfaat yang besar dari gelombang agroindustrialisasi yang sedang kita lalui.

Awam sering mencampur-adukkan istilah agribisnis dan agroindustri. Hal ini dapat dipahami, karena kendati istilah itu sendiri telah lama dikenal, tapi baru lebih memasyarakat semenjak ditetapkannya GBHN 1993, khususnya ketika konsep agribisnis sebagai cara baru memandang pertanian [agribisnis as a new way to look agriclturs] mulai diperkenalkan.

Agribisnis dalam arti sempit atau dalam arti tradisional hanya merujuk pada produsen dan pembuat bahan masukan (input) seperti produsen bibit, produsen makanan ternak, pupuk, bahan kimia, mesin pertanian, bahan bakar, dan perbekalan lainnya. Namun dewasa ini, istilah agribisnis lebih banyak diartikan dalam konsep yang lebih luas, yakni segala kegiatan yang berhubungan dengan pengusahaan komoditas pertanian meliputi komoditi pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan bahkan juga komoditi kehutanan. Pengusahaannya berorientasi pasar. Menurut konsep ini, maka Umar Bakri pegawai golongan satu misalnya, yang menanam kangkung di lahan yang sempit di belakang RSS-nya, kemudian menjualnya ke Pasar Cik Puan, untuk sekadar mencari tambahan THR, dapat digolongkan ke dalam kegiatan agribisnis PT. Indah Kiat yang mengolah kayu menjadi bubur kertas dengan menggunakan bahan kimia, yang cerobong pembuangnya baru-baru ini meledak, juga termasuk dalam kelompok kegiatan agribisnis.

Agroindustri? Agroindustri merupakan salah satu sub-sistem dari agribisnis, merupakan suatu kegiatan usaha yang mengolah bahan baku pertanian, dalam berbagai bentuk transfomasi. Dengan demikian agroindustri sudah pasti agribisnis, tetapi agribisnis belum tentu agroindustri.

Yang dominan dari kegiatan agroindustri adalah terjadinya proses nilai tambah [added value]. Apabila kita menjual pisang "kepok" mentah satu tandan, harganya mungkin hanya Rp 5.000,- tetapi apabila kita jual dalam bentuk pisang goreng, jumlah yang kita peroleh jauh akan lebih besar, walaupun telah dikeluarkan biaya untuk tepung dan minyaknya. Pisang goreng agaknya adalah produk agroindustri yang paling sederhana. Dengan konsep agroindustri ini, kita tidak lagi mengekspor bahan mentah seperti kayu gelondong, tetapi kita mengekspor bahan jadi atau bahan setengah jadi seperti plywood, bubur kertas dan sebagainya. Dengan demikian kita memperoleh nilai tambah dan proses penciptaan nilai tambah tersebut akan melibatkan banyak tenaga kerja.

Keunggulan lain dari industri yang berbasis pertanian adalah keterkaitannya yang sangat luas dengan kegiatan ekonomi rakyat, karena bahan bakunya berasal dari hasil-hasil pertanian seperti kacang-kacangan, ubi kayu, tebu, kayu gelondongan, minyak sawit mentah [CPO], karet mentah dan sebagainya. Ini berbeda dengan industri yang bersifat foot-base-industry seperti industri-industri garmen dan elektronika, yang bahan bakunya sebagian besar berasal dari impor.

Daerah kita sangat kaya akan Sumber Daya Alam yang sebenarnya bisa menyediakan bahan baku yang sangat banyak untuk agroindustri. Di daerah ini juga terdapat beberapa industri besar [agroindustri] yang sebenarnya sangat ideal sebagai lokomotif untuk menghela main agroindustri skala menengah dan skala kecil. Daerah ini juga mudah akses ke pasar global. Ini semua peluang yang semestinya harus dapat kita rebut.


Tulisan ini sudah di baca 156 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/26-Agroindustri.html