drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Industrialisasi


Oleh : drh.chaidir, MM

Puasa Ramadhan dari tahun ke tahun rasanya semakin marak saja. Paling tidak dari ukuran fisik pelaksanaannya yang dapat dilihat dengan mata biasa. Indikatoniya antara lain semakin meriahnya penyiaran di seputar Ramadhan itu melalui media elektronika. Semua stasiun televisi kita berlomba-lomba menyajikan acara yang menarik, demikian pula stasiun-stasiun radio.

Secara jujur, keterlibatan media elektronika dalam memeriahkan suasana Ramadhan itu, belum kita temui beberapa tahun yang lalu. Hal itu memang tidak terlepas dari kemajuan industri telekomunikasi yang maju dengan pesat. fada tingkat tertentu, sekarang mi kita memang sedang menikmati hasil proses industrialisasi yang sedang kita lalui. Kemajuan industri telekomunikasi yang sarat dengan muatan iptek telah memberikan terminal yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas dengan mudah dan murah. Memang benar apa yang dikatakan oleh da'i sejuta umat, KH Zainuddin MZ, iptek membuat hidup menjadi mudah.

Bangsa yang ingin maju, kata Presiden Suharto, harus memilih jalur industrialisasi. Alasannya lebih sederhana. Bahan mentah tentu lebih murah harganya daripada bahan yang telah diolah, dan bahan olahan lebih murah pula harga jualnya daripada barang jadi. Kita bisa memilih mau menjual bahan mentahkah, bahan yang telah diolahkah atau menjual barang jadi? Dalam arti sempit, industrialisasi adalah keseluruhan proses pengolahan bahan mentah menjadi sebuah produk jadi yang siap dimanfaatkan. Nah kalau kita alergi dengan industrialisasi itu, orang lain akan melakukannya, akan mendirikan pabrik di depan hidung kita dan membeli bahan baku yang ada di sekitar kita. Hal ini disebabkan karena Tanah Air kita sangat kaya akan Sumber Daya Alam.

Dan sekarang kita memang sedang berada dalam proses industrialisasi itu. Dalam arti sempit, barangkali tidaklah menjadi masalah betul, karena yang diperlukan adalah pembekalan-pembekalan know-how, yang menyangkut keterampilan teknis yang dapat dipacu dengan berbagai macam metoda seperti on the job tranning, magang, bapak asuh dan sebagai bentuk kemitraan lainnya. Tetapi industrialisasi dalam arti luas, sebagai sebuah transformasi bukanlah masalah sederhana karena menyangkut proses social engineering, apalagi bagi Riau yang memerankan diri sebagai ujung tombak pusat pertumbuhan kawasan barat Indonesia, bahkan sebagai ujung tombak IMS-GT dari perspekstif Indonesia.

Industrialisasi yang sukses harus diikuti dengan terciptanya masyarakat industri. Pertanyaannya adalah: Sudahkah optimal upaya kita dalam mempersiapkan masyarakat kita di wilayah ini menjadi suatu masyarakat industri, yang menurut Rostow, memiliki beberapa ciri, seperti memiliki pemikiranan yang beronentasi ke depan, hemat, menghargai waktu, menghargai hasil karya orang lain, dan berorientasi iptek. Optimal atau belum, tidak mudah untuk menjawabnya. Parameter pembangunan kita biasanya adalah pada beberapa indikator makro seperti income percapita, Gini Ratio, PDRB, pertumbuhan ekonomi dan beberapa indikator tingkat kesejahteraan rakyat seperti rasio jumlah dokter, rasio kematian bayi, tingkat pendidikan dan sebagainya.

Tetapi struktur. masyarakat Riau memang unik. Gubernur Soeripto pernah meyampaikan, dari aspek budaya masyarakat Riau dapat digolongkan ke dalam empat strata, yakni: [1] Masyarakat Suku Terasing, [2] Masyarakat Tradisional, [3] Masyarakat Modern, dan [4] Masyarakat supermodern. Komposisi ini hampir serupa dengan pentahapan perkembangan kebudayan masyarakat menurut ahli-ahli sosiologi klasik. Tetapi uniknya Riau memiliki empat tahap itu dalam satu kurun waktu. Dengan demikian pendekatan yang ideal untuk mentransformasikan masyarakat Riau secara optimal dalam industrialisasi yang sekarang sedang kita alami akan sia-sia bila dicarikan modelnya dalam revolusi industri sebagaimana yang terjadi di Eropa pada awal abad ke-19.

Namun demikian beberapa karakter yang muncul dari potret masyarakat kita di daerah ini, memberikan indikasi bahwa secara umum kita agaknya masih berada pada tahap pra-industri, terutama bila dilihat dalam perspektif budaya. Salah satu gejala yang terlihat adalah apabila masyarakat kita misalnya dihadapkan kepada situasi dimana mereka harus memilih, maka kriteria yang mereka pergunakan adalah kriteria yang sifatnya partikularistik, bukan kriteria universal. Kita memang masih harus kerja keras sehingga industrialisasi yang sekarang sedang berlangsung di rumah kita sendiri dapat memberikan manfaat yang lebih besar.


Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/25-Industrialisasi.html