drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Kancil, Maleo dan Gatotkoco


Oleh : drh.chaidir, MM

Siapa yang tidak kenal kancil, hewan yang suka makan ketimun, yang karena kecerdikan dan kelincahannya sering menjadi pemeran utama dalam cerita rakyat. Dari Sabang-Marauke bahkan sampai Semenanjung Malaysia, semua kenal dengan kancil.

Dan Maleo? Memang belum banyak yang tahu, apa lagi penduduk yang tinggal di luar Pulau Sulawesi. Maleo memang bukan jenis satwa umum. Satwa yang dilindungi ini termasuk jenis burung berjalan dan habitatnya ada di Sulawesi Utara dan Tengah. Tidak jelas apakah Maleo melegenda di tengah masyarakat di Sulawesi, tetapi agaknya Maleo memang tidak populer seperti kancil. Namun bagimanapun, nama kedua satwa ini sekarang melejit dan ramai dibicarakan. Kancil diabadikan- sebagai nama sedan rakyat di Malaysia dan Maleo rencananya diabadikan sebagai nama sedan rakyat di Indonesia.

Bedanya, sedan Kancil sudah duluan lahir dan sudah merajarela di jalan-jalan raya di Malaysia semenjak tahun 1994, bahkan ketika si Kancil untuk pertama kalinya diluncurkan bersempena Hari Kebangsaan Malaysia Tahun 1994, Kancil mendapat kehormatan yang luar biasa; diluncurkan oleh PM Malaysia Dr. Mahathir Muhammad dalam sebuah acara yang megah di Stadium Negara. Besok harinya dua koran terkemuka Malaysia, Berita Harian yang berbahasa Melayu dan The New Straits Times yang berbahasa Inggeris memuat ucapan selamat untuk peluncuran sang Kancil masing-masing dalam 16 halaman penuh. Tidak tertandingi oleh ucapan selamat untuk peluncuran pesawat terbang N-250 "Gatot Koco" di media cetak Jakarta. Padahal teknologi sang kancil sungguh tak sebanding dengan teknologi Gatot Koco yang sangat membanggakan itu. Tetapi baiklah, agaknya itu hanya perbedaan cara mengekspresikan sebuah kegembiraan saja.

Maleo, sedan rakyat kita, memang belum "menetas". Maleo baru direncanakan meluncur pada tahun 1998 yang akan datang, setelah bulan ini pemerintah mengumumkan kebijaksanaannya di bidang otomotif melalui Instruksi Presiden Nomor 02 Tahun 1996.

Namun demikian walaupun Maleo masih belum "menetas", ada sedan benama Timor yang merupakan produk dari industri mobil nasional kita PT. Timor Putra Nasional yang sudah akan meluncur pada bulan September nanti. Mulai saat itu kita benar-benar memasuki era baru dalam industn otomotif yang selama ini dikuasai oleh mobil-mobil rakitan produk luar negeri yang diproduksi oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang harganya semakin hari semakin menggila, kendati ada di antara jenis mobil-mobil ini yang bernama Kijang. Selama ini Indonesia memang dianggap syurga dalam bisnis jual beli kendaraan bermotor, bahkan harga mobil di Indonesia disebut-sebut termahal di dunia.

Tumbuhnya industri mobil nasional membawa angin segar dalam proses industrialisasi kita. Kita seakan kembali berada dalam dunia nyata setelah dibawa terbang oleh Gatotkoco dalam mimpi-mimpi indah teknologi super canggih yang mengasyikkan. Sungguh, kita memang memerlukan juga teknologi canggih, kita paham maknanya. Bukankah itu untuk mengangkat citra bangsa dan mensejajarkan diri dengan negara-negara lain yang telah maju? Siapa yang tidak bangga dengan Gatotkoco, pesawat terbang N-250 buatan putra-putra terbaik bangsa itu, pesawat terbang tercanggih pada kelasnya di dunia, yang terbang dengan kontrol komputer? Logikanya sangat benar, apa bila kita mampu membikin pesawat terbang, tentu dengan mudah kita bisa membuat mobil, dan dengan mudah pula bisa membikin sepeda motor, motor tempel untuk di sungai, mesin pompa air untuk dusun-dusun di gunung atau mesin-mesin listrik hemat bahan bakar untuk di desa-desa terpencil, dan seterusnya.

Dengan berkembangnya industri mobil nasional, secara filosofis industri kita sudah mulai bergeser dari tahap akhir ke tahap awal. Secara faktual kita mulai lebih rasional memberikan muatan teknologi dalam proses industrialisasi yang sedang kita alami. Kita masih banyak memerlukan teknologi tepat-guna karena banyak sekali desa-desa terpencil yang belum tersentuh teknologi, baik untuk kepentingan hidup sehari-hari maupun untuk mengolah hasil pertanian. Rakyat di Bengkalis dan di Indragiri Hilir misalnya, sudah sekian lama dengan terpaksa masih meminum air payau yang berwarna coklat; belum mampu menjernihkannya. Adakah teknologi sederhana yang bisa didekatkan kepada mereka? Sementara dana untuk proyek pembangunan fisik lainnya yang sampai ke daerah mereka tidak dapat di bilang kecil.

Malaysia memang punya filosofi sendiri dalam proses industrialisasinya, tapi yang jelas mereka bukan memulai dari akhir dan berakhir di awal. Prosesnya barangkali lebih sederhana menurut mereka. Yang jelas sedan kancil, Proton Saga dan Proton Wira yang merupakan produksi dari industri mobil nasionalnya telah merajai sekitar 75% dari keseluruhan mobil yang lalu-lalang di jalan-jalan rayanya. Dan mereka sekarang sudah mulai melebarkan sayap dengan mulai memasuki industri pesawat terbang.

Industri mobil Kancil Malaysia bukan saingan bagi Timor, Maleo dan apa lagi Gatotkoco. Yang pelu diwaspadai adalah persaingan intern sesama masyarakat permobilan. Kita kan suka latah.


Tulisan ini sudah di baca 129 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/24-Kancil,-Maleo-dan-Gatotkoco.html