drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Meneropong Skenario Prof. Dr. BJ Habibie


Oleh : drh.chaidir, MM

Baru-baru ini, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie, melaporkan kepada Presiden Soeharto mengenai pelaksanaan tugasnya selama 20 tahun sebagai pembantu Presiden. Kalangan pers menyebut kejadiaan itu sebagai sesuatu yang di luar kebiasaan, namun bagaimana jalannya pertemuan dan apa saja yang dilaporkan oleh Habibie, tidak terungkap. Dalam ceramahnya di Rakernas KNPI di Palembang, Habibie menyinggung masalah tersebut. Apa saja intisarinya, berikut catatan drh Chaidir, anggota DPRD Riau, yang hadir pada acara tersebut.

Pengabdian Habibie bermula ketika tahun 1974 diangkat sebagai penasehat Pemerintah Republik Indonesia dalam bidang advanced technology dan teknologi penerbangan yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Empat tahun kemudian, Habibie diangkat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, sampai sekarang.

Sehari sebelum "merayakan" 20 tahun pengabdiannya itu, Habibie memberikan ceramah yang impresif selama lebih dua setengah jam di depan peserta Rakernas KNPI di Palembang. Dalam ceramah tersebut Habibie menyebutkan bahwa laporan 20 tahun pengabdiannya itu sangat tebal. "Memuat semua yang telah saya sumbangkan untuk bangsa ini," katanya penuh retorika.

Tentu mustahil bagi Habibie untuk mengupas semua isi laporan tersebut dalam waktu yang sangat terbatas, kendati sebenarnya ia tidak keberatan. "Pemuda adalah masa depan bangsa, oleh karena itu wajar bila Menteri Negara Ristek memberikan penjelasan bagaimana masa depan negeri ini," kata Menteri bersemangat.

Konon, ketika kali pertamanya direkrut oleh Presiden, Habibie yang ketika itu masih berusia 37 tahun, mencoba memberikan argumentasi. "Saya hanya bisa bikin pesawat terbang." Konon juga, dengan mesem-mesem khas, Presiden memberi komentar: "Kalau kamu bisa bikin pesawat terbang, tentu kamu bisa membuat yang lain."

Ucapan Presiden tersebut, sebagaimana diungkapkan oleh Habibie dalam ceramahnya, ternyata sangat membekas di hati Habibie sehingga memberikan tambahan modal keyakinan tentang kebenaran pilosofi teknologi yang dianutnya: "Berawal dari akhir dan berakhir dari awal." Aneh? Kedengarannya memang rada aneh. Tapi Habibie memberikan penjelasan secara sederhana, kalau bangsa kita sudah mampu membikin pesawat terbang, tentu kita bisa membikin sepeda motor, apa lagi untuk membuat sebuah becak. Jadi untuk menguasai tekhnologi, kita tidak perlu belajar dari awal, bagaimana cara membuat sepeda misalnya, sebab kalau kita belajar dari awal, maka kita akan memerlukan waktu yang sangat lama untuk sampai kepada tekhnologi pembuaatan pesawat terbang [tekhnologi canggih] dan bangsa kita akan tertinggal semakin jauh dari bangsa-bangsa lain.

Alur fikir Profesor Habibie nampak jelas, bahwa proses industrialisasi yang sedang berlangsung tidak boleh dibiarkan mengalami revolusi dengan sendirinya. Sebab kalau dibiarkan sendiri, tergantung pada permintaan pasar bebas, maka kita akan tetap dibiarkan memproduksi produk-produk padat karya dengan nilai tambah yang rendah. Habibie nampak sekali ingin merangsang pemikiran pemuda yang mendengarkan ceramahnya dengan serius untuk secara kritis melihat potret pembangunan perekonomian kita selama ini dan mengajak menatap masa depan dengan pembangunan yang berdimensi tekhnologi.

Pembangunan yang semula lebih terfokus pada modal, uang dan sumber daya alam, kini harus diperluas dengan modal sumberdaya manusia dan tekhnologi. Mobil Baby-Benz dan mobil Kijang, kata Habibie memberi contoh, semula dari lempengan logam yang sama, tetapi mengapa harganya kemudian jadi berbeda jauh? Karena kepadatan tekhnologi yang digunakan memproses lempengan logam untuk Baby-Benz lebih tinggi dari kepadatan tekhnologi yang digunakan memproses lempengan logam untuk Kijang. Jadi lempengan logam untuk Baby-benz lebih banyak mengalami proses nilai tambah. Tetapi yang mengerjakan tetap manusia. Oleh karena tidak ada SDM tidak ada Iptek, akibatnya tidak ada pula nilai tambah. Dengan demikian, maka nilai tambah itu dirumuskan oleh Habibie sebagai fungsi dari SDM, iptek dan uang, adalah modal. Tetapi yang sangat dominan dari ketiganya adalah manusianya.

***

Profesor Habibie, yang selalu tampil dengan pidato yang berapi-api, nampaknya arif membaca situasi. Seakan mewakili floor, Habibie mengajukan pertanyaan sendiri. Betulkah kita memerlukan tekhnologi canggih? Dia kemudian menguraikan alur fikirannya.

Ada tiga macam skenario pembangunan yang penggolongannya berlaku secara universal, yaitu skenario A, skenario B dan skenario C. Skenario A adalah model pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan memberikan nilai tambah seadanya atau bahkan tanpa proses nilai tambah terhadap sumber daya alam yang terbaharukan maupun SDA yang tidak terbaharukan. Model skenario pembangunan seperti ini tidak dominan lagi dilakukan sekarang. Contohnya ketika Belanda menjajah kita selama tiga setengah abad. Memang skenario ini semata-mata hanya mengeksploitasi SDA tanpa mengindahkan SDM-nya sama sekali. Agaknya Profesor Habibie tidak mengetahui bahwa sebagian besar kegiatan perusahaan hutan tropis kita pun dikelola dengan pendekatan skenario ini. Bedanya, kalau dulu Belanda yang menguras kekayaan alam negara kita, sekarang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha kita yang kurang memiliki kepekaan lingkungan baik dalam aspek tanggung jawab sosial maupun dari aspek lingkungan.

Skenario B adalah model pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan segala upaya berusaha melakukan proses nilai tambah setinggi mungkin terhadap pengusahaan sumber daya alam yang terbaharukan dan yang tidak terbaharukan, dengan memanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung sumber daya manusia. Skenario B inilah yang dilaksanakan sekarang, baik dalam era Widjojonomics maupun dalam era Habibienomics. Hanya ada perbedaan yang cukup mendasar antara dua trend itu kendati tidak terpolarisasi secara tajam.

Dalam era dominasi teknokrat, ekonomi kita mengandalkan keuntungan komparatif, dengan orientasi pasar bebas dan ekspor produk-produk padat karya dan sumber daya alam. Dalam dekade tersebut yang dikembangkan dan dinilai tepat adalah industri-industri padat karya, kerena kita memiliki tenaga yang melimpah tapi tidak memiliki skill. Agaknya memang pentahapan secara alamiah memang demikian, karena pada Pelita I, pembangunan perekonomian kita masih terfokus kepada upaya-upaya rehabilitasi dan konsolidasi perekonomian nasional secara elementer. Belakangan semakin terasa kelemahan pendekatan ini.

Nilai tambah yang kita peroleh kecil, yang menjadi keunggulan komparatif adalah tenaga kerja banyak dan murah [stempel ini sekarang yang ingin kita hapuskan] dan industrinya bisa berpindah-pindah mencari mana upah tenaga kerja yang murah. Dalam konsep ini juga tidak ada lompatan tekhnologi model Habibie. Penerapan tekhnologi harus urut kelas, tamat kelas satu baru kelas dua, kemudian masuk kelas tiga, dan seterusnya. Habibie, sebagaimana disinggung di depan, tidak sabaran, sepertinya ingin mengajak kita ingin masuk universitas tanpa melalui SMP atau SMA. Apa iya bisa? Habibie yakin bisa, toh tidak semua orang harus menguasai tekhnologi canggih itu. Ada yang di jalur cepat, ada yang boleh tetap di jalur lambat.

Skenario yang ketiga adalah skenario C. Skenario ini adalah segala upaya dalam masyarakat untuk melaksanakan proses nilai tambah yang berkesinambungan yang memanfaatkan, langsung maupun tidak langsung, SDA dan SDM. Skenario ini ditandai dengan kegiatan-kegiatan jasa, seperti jasa perhotelan, pariwisata, bongkar muat dan sebagainya. Skenario C, ialah kegiatan yang terpaksa dilakukan sebagai konsekuensi dari kegiatan skenario A dan B.

Habibie memang fanatik dengan konsepnya. Pembangunan adalah proses nilai tambah dengan pengembangan sumber daya dan pengembangan tekhnologi sebagai penggerak utamanya. Profesor Habibie agaknya memang benar. Kita sudah merasakan bahwa eksploitasi kekayaan alam saja, minus pengembangan SDM, akan jadi seperti Dabo Singkep pasca timah. Pasca Minyak Bumi? Dua puluh lima tahun lagi, Bung, dia akan habis. Pernahkah Anda memikirkan skenario Riau pasca minyak nanti? Kenapa tidak meminta jasa BPPT untuk merancang skenario pasca minyak itu? Habibie adalah sebuah fenomena. Sebagai fenomena kita perlu menyelaminya, membuat tinjauan kritis terhadap konsepnya dengan alur pikir yang jernih. Arah pembangunan jangka panjang daerah kita meningkatkan pemerataan melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi memerlukan investasi dan tekhnologi.

Mendengarkan orasi Prof. Habibie tanpa pretensi, membangkitkan idealisme dan motivasi, namun akan segera tertangkap betapa dia berusaha keras mengemas seperangkat argumentasi yang konsisten, bahwa industrialisasi dengan lompatan tekhnologi memang merupakan sebuah kebutuhan bila kita ingin menjadi subjek bukan objek dari proses globalisasi yang melanda seluruh penjuru dunia. Habibie agaknya menyadari benar bahwa dia berada dalam sorotan, sebagai konsekuensi dari langkah-langkahnya yang kian berani dan menarik. Konsep hitech-nya kerap diinterpretasikan sebagai pembangunan tekhnologi untuk tekhnologi karena menyedot anggaran keuangan yang tinggi dan menguras devisa, sampai-sampai dana reboisasi pun dilalap.

Kiprah politiknya yang mencuat dianggap karena dia berambisi untuk menjadi presiden, sementara upayanya untuk menciptakan kualitas berfikir, kualitas berkarya, kualitas bekerja dan kualitas hidup umat Islam dianggap berbau sektarian. Barangkali memang benar ungkapan orang tua-tua, semakin tinggi sebatang pohon, semakin keras pula diterpa angin.

***

Pertanyaan standar yang dilontarkan Habibie adalah, apakah daya kondisi tingkat pendidikan rata-rata penduduk yang 80 % hanya tamat SD itu, kita sudah memerlukan tekhnologi canggih?.

Agaknya model skenario B yang dikemukakan oleh Habibie, dapat membantu kita menyelami alur .fikir "manusia kecil berpandangan raksasa" itu. Skenario B, menurut Habibie, adalah model pembangunan yang dilaksanakan oleh masyarakat dengan segala upaya berusaha melakukan proses nilai tambah setinggi mungkin terhadap pengusahaan sumber daya alam yang tidak terbaharukan dan yang terbaharukan dengan memanfaatkan secara langsung sumber daya manusia. Skenario B inilah yang mendominasi perekonomian kita selama Orde Baru.

Skenario B ini masih digolongkan lagi kedalam tiga kategori, yaitu Bl, B2 dan B3. Bl adalah kelompok industri yang kurang padat modal. Industri ini, dengan kata lain adalah industri padat karya. Termasuk ke dalam katagori ini misalnya industri pakaian jadi (garment), industri furniture, industri perkayuan, dan lain-lain sebagainya. Kategori B2 adalah industri padat modal kelas menengah. Industri yang tergolong kategori B2 adalah industri elektronik sebagaimana dikembangkan di Batam. Sementara itu B3 adalah industri sangat padat modal. Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah industri-industri strategis seperti industri pesawat terbang IPTN, PT PAL, PINDAD, dan industri sejenisnya.

Habibie kemudian memperbandingkannya. Bl dan B2 adalah industri yang murah, perputaran uang cepat, cepat masuk dan cepat pula keluar, dan hasilnya juga sedikit. Sementata itu industri B3 susah mengerjakannya, perlu investasi SDM yang berkualitas, memerlukan modal uang yang tidak sedikit, tetapi hasilnya jauh lebih besar dan industrinya jauh lebih langgeng.

Sampai di sini barangkali masih ada tanda tanya yang tertelan, bagaimana kita mengait-ngaitkan B3 dengan kepentingan besar rakyat kita yang sebagian besar hidup di pedesaan, dengan pola fikir jauh dari produktif dan pola pertanian jauh dari sentuhan tekhnologi, bahkan tepat guna sekalipun?

Analisa Habibie memang terasa samar-samar dan diperlukan optimisme yang luar biasa untuk dapat menyelaminya. Tapi jangan apriori, Habibie rupanya mempunyai tolak ukur. Selama 20 tahun pertama program rehabilitasi dan konsolidasi perekonomian Orde baru yang kita lalui dengan kerja keras, kita hanya mengekspor senilai 800 juta dolar Amerika pertahun, Ekspor ini berasal dari kegiatan-kegiatan hasil skenario A dan C. Hasil skenario B nihil. Tatapi apa yang terjadi pada akhir pelita V ini, nilai ekspor kita melonjak mencapai 3.600 juta dollar Amerika pertahun. Dan dari jumlah tersebut 80 persen berasal dari kegiatan-kegiatan pembangunan yang termasuk skenario B. Itupun baru berasal dari skenario Bl dan B2, sedangkan skenario B3 belum menunjukkan peranannya. Sisa 20 persennya masih berasal dari skenario A dan C.

Memang menarik, dan kita pun membayangkan lompatan yang terjadi dalam nilai ekspor secara nasional dan betapa besarnya devisa yang bisa kita raup bila industri B3 telah unjuk gigi. Sayang pada kesempatan itu, Prof. Habibie tidak dapat membeberkan angka-angka proyeksi secara eksak, tapi menurut hemat saya, itu karena terbatasnya waktu dan ruang. Mustahil seorang Habibie tidak memiliki angka-angka.

Namun demikian, penggunaan ukuran standar makro, seperti nilai ekspor, nilai investasi, produk domestik bruto dan sebagainya, menurut pakar perekonomian, harus banyak dilengkapi dengan ukuran serta gambaran kualitatif yang relevan dengan keadaan setempat. Bila hal ini tidak dilakukan, maka penggunaan ukuran standar makro dapat menyesatkan, sebab ukuran gambaran makro dengan tingkat kesejahteraan riil masyarakat, tidak selalu sejalan. Agaknya konsep Habibie harus diperkaya dengan nuansa ini. Kegiatan industri di Batamindo Industrial Park di Batam misalnya, merupakan sebuah contoh bagaimana rancunya mengaitkan ukuran standar makro itu dengan tingkat kesejahteraan masyarakat [setempat].

Tapi Bank Dunia memberikan raport yang baik terhadap hasil pembangunan secara umum di Indonesia. Indikasinya menurut Bank Dunia, 20 tahun yang lalu 70 persen penduduk Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kini diakhir Pelita V, tinggal 15 persen saja penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam publikasi mutakhirnya, Bank Dunia bahkan memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai suatu miracle, suatu keajaiban di Asia, sehingga Indonesia digolongkan sebagai "macan Asia" sebagaimana layaknya Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura.

Pendapatan perkapita penduduk Indonesia juga meningkat pesat. Dua puluh lima tahun yang lalu pendapatan perkapita hanya 70-80 dolar Amerika setahun, tapi di akhir Pelita V ini sudah mencapai 700 dolar Amerika per tahun, atau meningkat sekitar 10 kali lipat Tapi toh kita masih yang terendah di ASEAN dibandingkan dengan pendapatan perkapita Singapura yang sudah mencapai 15.000 dolar Amerika pertahun, Malaysia 3.000 dolar, Thailand 1.200 dolar dan Philipina sekitar 800 dolar Amerika pertahun.

Adalah manusiawi, bahwa pembangunan yang telah kita laksanakan tidak hanya melulu berisi cerita tentang keberhasilan. Kita masih ada masalah dengan tumbuhnya keangkuhan sosial, kecemburuan sosial, disparitas kemakmuran yang masih tebal dan sebagainya. Kalau tidak ada masalah, maka hal ini tidak diungkapkan secara eksplisit di dalam GBHN 1993. Tapi menutup mata terhadap keberhasilan yang dicapai sebagaimana sikap kelompok yang anti establishment, adalah sikap arogan yang tidak perlu.

Ada dua macam obsesi bangsa kita dalam Pelita VI. Pertama, yang sifatnya ke dalam, yaitu kita ingin mengentaskan kemiskinan. Kedua yang sifatnya keluar, kita ingin mengejar ketinggalan dari bangsa lain dan berada pada level atas pergatdan mternasional.

Pada zaman moderen ini, kolonialisme memang tidak lagi mendapatkan tempat, tapi muncul gelombang globalisasi yang meluluh-lantakkan batas teritorial negara-negara di dunia, dan dalamnya mengalir arus neo-imperialisme dengan andalan utamanya adalah daya saing. Maka dalam pergaulan masyarakat dunia itu sekarang, ibaratnya berlaku hukum rimba, to kill or to be killed. Dan kita adalah bagian dari masyarakat dunia itu.

Skenario BJ Habibie harus dilihat oleh generasi muda dari sudut persaingan dalam era neo-imperialisme ini. Status quo harus dihindari, sebab pemerataan yang kita idam-idamkan bukanlah pemerataan kemiskinan tapi pemerataan dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Dan ingat, Bung, tanpa ayam jantan berkokok sekalipun matahari pasti akan terbit.


Tulisan ini sudah di baca 156 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/23-Meneropong-Skenario-Prof.-Dr.-BJ-Habibie.html