drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Bisnis Dormitori


Oleh : drh.chaidir, MM

Dormitori berasal dari bahasa Inggeris dormitory, artinya asrama. Dengan kata lain judul di atas dapat diganti dengan Bisnis Asrama. Sekali lagi: Asrama, bukan asmara. Ini penting karena setting tulisan berkaitan dengan Batam. Istilah Dormitori memang populer di Batam, terutama sejak berdirinya Batamino Industrial Park [BIP] atau Kawasan Industri Batamindo, di Muka Kuning.

Di BIP Batam, dormitori dibangun untuk menampung karyawan yang bekerja di pabrik-pabrik yang berlokasi di dalam kawasan industri tersebut. Dewasa ini lebih kurang setengah dari 40 ribu karyawan yang bekerja di BIP [sebagian besar wanita muda], tinggal di asrama atau dormitori yang dibangun oleh perusahaan. Jika satu kamar dirancang untuk empat orang karyawan saja misalnya, bahkan kalau dirancang untuk dua orang perkamar maka diperlukan 10 ribu kamar. Ini kondisi sekarang, ketika BIP belum sepenuhnya terisi. Di masa mendatang masih akan lebih banyak lagi pabrik-pabrik yang akan berkumpul di BIP dan lebih akan masih banyak pula tenaga kerja yang dibutuhkan pula. Itu berarti diperlukan dormitori-dormitori baru.

Tentu tidak sedikit modal yang dibelanjakan oleh perusahaan untuk membangun dormitori tersebut, tetapi investasi itu tentu tidak akan sia-sia, sebab pada suatu titik, modal tersebut akan kembali bahkan kemudian perusahaan pengelola BIP akan menggeruk keuntungan dari sudut dormitori ini. Bukankah setiap karyawan yang bekerja di pabrik-pabrik dalam BIP itu harus tinggal di dormitori sepanjang kamar masih tersedia? Dan setiap karyawan yang biasanya dikontrak selama dua tahun harus potong gaji untuk itu? Dilihat dari aspek ini, pembangunan dormitori jelas merupakan bisnis yang menguntungkan, di samping kegiatan utama dari sebuah kawasan industri, yakni menyewakan fasilitas dasar bagi pabrik-pabrik tertentu.

Yang menjadi pertanyaan, perlukah sebuah kawasan industri membangun dormitori di dalam kawasannya? Untuk kasus Batam, lebih khusus lagi di BIP, agaknya ya! Dengan pembangunan sekian banyak dormitori itu saja, masih sekitar 20 ribu karyawan yang terpaksa tinggal di luar, baik di rumah-rumah liar [ruli] maupun yang menyewa di rumah-rumah penduduk. Itu baru BIP saja, bagaimana kawasan industri lainnya? Memang ada beberapa kendala yang dihadapi Batam. Pertama, masalah lahan perumahan yang sangat terbatas. Kedua, rata-rata kawasan industri yang ada, apa lagi BIP, jauh dari pemukiman penduduk. Ketiga, hampir seratus persen karyawannya berasal dari luar Pulau Batam.

Membangun dormitori di dalam kawasan industri, memang tidak salah, bahkan dari aspek efisiensi waktu, barangkali akan banyak membantu. Namun apabila dilihat dari aspek multiplier effect pembangunan sebuah kawasan industri terhadap suatu daerah, ceritanya akan sedikit menjadi lain. Apa lagi bila dikaitkan dengan untaian pertanyaan klasik, yang biasanya sering diajukan oleh masyarakat tempatan; seberapa jauh keberadaan sebuah kawasan industri mampu menghela maju gerbong-gerbong kusam masyarakat di sekitarnya yang sarat dengan muatan manusia-manusia yang kurang memiliki know-how. Kerisauan kita, bahkan akan bertambah manakala industri-industri yang ditampung dalam suatu kawasan industri sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan potensi sumber daya alam yang dominan di hinterland dan akrab dengan proses industrialisasi dan terasa sebagai sesuatu yang asing dan perlu kita cermati.

Dormitori yang dibangun di dalam kawasan industri membuat sebuah kawasan industri menjadi eksklusif. Pembangunan dormitori biasanya akan diikuti dengan tuntutan terhadap perlunya kelengkapan lain, seperti toko serba ada, pujasera, warung telepon dan sebagainya, yang biasanya dimonopoli oleh pengusaha penggelola kawasan industri tersebut. Keadaan ini membuat sebuah kawasan industri menjadi tidak bersahabat dengan lingkungannya. Padahal pembangunan kawasan industri yang merupakan sebuah model untuk memudahkan berdirinya pabrik-pabrik karena tersedianya berbagai fasilitas, sudah diakui sebagai sebuah konsep yang akan mampu mempercepat kita mengejar pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat umum.

Oleh karena itu pembangunan kawasan industri di tempat lain, yang tidak menghadapi kendala keadaan sebagaimana yang dihadapi oleh Batam, agaknya memang perlu diarahkan untuk tidak membangun dormitori dalam kawasan industri. Pembangunan dormitori bisa dilakukan di luar Kawasan Industri berupa RSS misalnya, dan ini merupakan rezeki pula bagi pengembang-pengembang kecil kita. Ini jelas akan memberi peluang yang lebih besar kepada pelaku-pelaku ekonomi lainnya untuk ikut menikmati multiplier effect dari kehadiran sebuah kawasan industri. Cara lain, adalah dengan menempatkan karyawan-karyawan suatu kawasan industri itu di rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar Kawasan Industri. Untuk 10.000 karyawan misalnya, bukankah minimal akan menyewa 5.000 kamar dari penduduk sekitarnya? Misalkan satu orang karyawan saja membayar Rp.25.000,- per bulan, bukankah Rp. 250 juta per bulan uang yang tersedot oleh masyarakat di sekitarnya secara langsung? Itu belum termasuk omset sektor imformal yang jauh akan lebih besar lagi Dengan cara ini Insya Allah, perekonomian rakyat di sekitar Kawasan Industri akan terangkat.
Kalaulah kondisinya demikian, masyarakat tempatan akan toleran, walaupun mereka gagal jadi karyawan.


Tulisan ini sudah di baca 116 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/22-Bisnis-Dormitori.html