drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Mimpi-Mimpi DIP


Oleh : drh.chaidir, MM

DIP, Dumai Industrial Park atau Kawasan Industri Dumai, nampaknya akan segera mulai dibangun. Memorandum of Understanding [MOU] mengenai rencana pembangunannya telah ditandatangani oleh Pihak Johor dan Riau beberapa hari yang lalu di Bukittinggi, ketika berlangsung Senior Officials Meeting IMS-GT. Pihak Riau diwakili oleh Wakil Gubernur, Drs. H. A. Rivaie Rachman, sedangkan Pihak Johor diwakili oleh konglomerat Melayu H.Jauhari.

Kalangan yang peduli terhadap pengembangan perekonomian masyarakat di daerah ini, tentu gembira mendengar peristiwa itu. sebab kendati beium ada jaminan bahwa MOU pasti akan diikuti dengan pembangunan fisik dan investor akan mengucurkan dana, tetapi kita sudah melangkah lebih maju dalam upaya menarik pemodal Malaysia untuk investasi di Bumi Lancang Kuning ini.

DIP, rencananya bukanlah suatu kawasan industry yang istimewa, bahkan agaknya tidak akan lebih besar dari pada Batamindo Industrial Park yang ada di Batam. Tapi proses kelahirannya [sampai tahap MOU] dan permasalahan yang inheren, layak untuk dicermati. Sejauh mana unit-unit kerja terkait mampu mengaktualisasikan diri terhadap kecenderungan-kecenderungan global yang terjadi di sekelilingnya, sehingga tetap mampu menangkap peluang yang muncul. Sebab rasanya agak aneh, kita telah mulai mempopulerkan konsep segitiga pertumbuhan yang kemudian mewarnai kerjasama perekonomian regional di rantau ini, tapi kita nampaknya belum berhasil mengkongkritkan kerjasama bisnis dengan Malaysia. Kita baru berhasil menarik Singapura ke Bintan dan Batam.

Masuknya Malaysia ke Riau jelas memiliki makna sendiri. Bukankah secara faktual sebenarnya kita paling dekat dengan Malaysia, tidak saja secara geografi, terlebih lagi dalam aspek budaya, bahkan pada suatu masa dahulu, Riau dan Johor misalnya, dianggap berada dalam satu wilayah ekonomi.

Sejauh ini Malaysia telah mulai membangun sebuah kawasan industri di Padang. Beberapa hari yang lalu Menteri Besar Johor YAB H. Abdul Ghani Othman telah meletakan batu pertama pembangunan Padang Corporation juga akan segera mendirikan pabrik semen di Kabupaten Pesisir Selatan dan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pasaman. Pengusaha Malaysia tenyata tidak hanya invest di Sumatera, mereka sudah mulai merambah Afrika, bahkan di Afrika Selatan investasi pengusaha Malaysia disana tergolong besar. Konglomerat Malaysia rupanya bukan jago kandang. Akankah mereka buktikan juga di Dumai?

Dumai sebenarnya memiliki letak yang sangat strategis untuk pengembangan suatu kawasan industri, terletak di bibir Selat Malaka dan telah memiliki pelabuhan samudera yang memadai, bahkan juga sebuah "Roro terminal". Apabila DIP itu nanti benar-benar terwujud, DIP akan memperoleh kemudahan dan sebaliknya pelabuhan samudera Dumai juga akan menjadi optimal pemanfaatannya.

Dumai juga didukung oleh hinterland yang kaya dengan SDA, perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan Crude Palm Oil [CPO], karet alam, industri perkayuan [Wood Processing dan sebagainya. Bahkan industri yang mendukung industri perminyakan dan gas yang memang sudah terlebih dahulu eksis di Dumai seperti Hydrotracker Pertamina., akan dapat memanfaatkan DIP. Dalam banyak aspek, DIP nampaknya sangat prospektif. Yang tidak kalah pentingnya, Dumai hanya sejarak batas pandangan dari Melaka.

DIP jelas akan memberikan multiplier effect [manfaat yang bermacam-macam] bagi masyarakat Riau, khususnya masyarakat Dumai. DIP akan mampu mengangkat dan menggairahkan perekonomian rakyat. Banyak sekali kegiatan yang akan melibatkan masyarakat, apa lagi bila DIP itu nanti telah dipenuhi oleh berbagai macam pabrik. Para pemborong dan penyalur barang akan memperoleh ladang baru, penggunaan jasa angkutan darat, laut dan udara akan meningkat pula. Batamindo Industrial Park] di Batam sebagai contoh. Dengan mempekerjakan tidak kurang dari 40.000 orang karyawan, yang setiap hari bergulat di kawasan industri itu, kita bisa menghitung berapa ton sayur-mayur yang mereka konsumsi perhari, bcrapa kwintal daging yang dibutuhkan dan berapa ribu telur diperlukan. Itu baru sebagian saja dari kebutuhan sehari-hari; beras, gula, susu? Belum lagi kebutuhan sekunder dan asesoris lain.

Pembukaan suatu kawasan industri jangan hanya dilihat dari peluang penerimaan tenaga kerja. Itu sudah jelas. Yang paling memberikan harapan justru peluang sampingan itu. Hasil kebun rakyat akan terjual habis, hasil tangkapan nelayan pun tak akan tersisa, tukang bakso pun akan naik kelas. Sektor informal akan berkembang.

Kalaulah Pemda cukup jeli menggariskan kebijakan dalam pembangunan DIP itu nanti, misalnya dengan mengatur bahwa DIP tidak perlu membangun dormitory [pemondokan] seperti apa yang telah dilakukan oleh Batamindo, maka jasa peyewaan pemondokan akan berkembang pula di lingkungan perumahan rakyat yang berada di sekitar DIP.

DIP memang menjanjikan mimpi-mimpi indah bagi meningkatan perekonomian rakyat di daerah ini. Sayangnya DIP itu sendiri masih dalam tahap MOU. Ibaratnya, MOU itu kan baru pertunangan. Pertunangan bisa berlanjut ke akad, bisa pula tidak. Faktor lingkungan eksternal besar sekali pengaruhnya.

Penyedian tanah 500 Ha di Dumai pada lokasi yang strategis bukanlah mudah, kendati secara makro barangkali sudah diplot dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota. pembebasan lokasi suka rumit, bahkan tidak jarang pula membawa muatan politis. Apafcila dibebaskan oleh investor misalnya, masyarakat [kadangkala dipengaruhi oleh oknum tertentu] mematok harga ganti rugi yang kurang rasional, sementara apabila dibebaskan oleh pemerintah, suka lambat diantisipasi oleh aparat sehingga momentum menjadi hilang.

Bagaimanapun, pihak Johor telah menunjukkan minat yang serius, Pimpinan Daerah ini pun telah memberikan komitmen dalam MOU. Yang perlu dicermati agaknya adalah langkah-langkah implementasi pada tingkat subordinasi yang sering harus melakukan kordinasi lintas sektoral. Koordinasi dan sinkronisasi lintas sektoral ini mudah diucapkan tetapi susah untuk dilaksanakan.

Agaknya kita sedang mempertaruhkan nama balk. Jadi atau tidaknya DIP itu nanti tidak lagi sekedar masalah bisnis belaka, tapi dapat pula menjadi cermin sejauh mana unit-unit kerja terkait mampu melakukan akselerasi terhadap kecenderungan yang berubah cepat.


Tulisan ini sudah di baca 149 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/21-Mimpi-Mimpi-DIP.html