drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 2

Minyaaaaaak


Oleh : drh.chaidir, MM

Pendapat umum yang berkembang, masyarakat tidak memperoleh apa-apa dari hasil minyak yang disedot oleh Caltex [CPI] dari perut Bumi Lancang Kuning ini. Padahal, lebih 60 persen dari keseluruhan produksi minyak di republik ini yang berjumlah sekitar 1,5 juta barel perhari, dihasilkan oleh Riau. Semua hasil tersebut disetor ke pusat.

Tidak usah satu persen, 0,1 persen saja dari hasil tersebut boleh kita manfaatkan secara langsung untuk pembangunan daerah ini demikian biasanya gugatan pemuda dan mahasiswa, maka ceritanya akan lain, Riau barang kali akan menjadi sebuah provinsi yang terkemuka dan kita tidak akan gamang untuk bersaing dengan Malaysia atau bahkan dengan Singapura sekalipun.

Kegalauan pemuda itu dituangkan oleh penyair muda A. Aris Abeba dalam salah satu bait puisi, "tinggal sebotol minyak untuk bertanak, sementara daerah ini adalah daerah minyak", katanya parau. Masyarakat tidak hanya menggugat hasil minyak, sederet somasi lain dilontarkan, masalah penerimaan pegawai yang dianggap tidak akomodatif terhadap tenaga kerja tempatan, masalah kesempatan pengusaha kecil di daerah untuk mendapatkan borongan pekerjaan yang terabaikan, masalah lingkungan hidup dan sebagainya.

Benarkah demikian? Kalangan yang sehari-hari bergelut secara langsung dalam industri tekhnokrat kita yang sudah mampu berfikir panjang dan tidak awam dalam masalah fiskal daerah, tentu akan menjawab lain. Hasil industri perminyakan yang berlokasi di Riau memang disetor semuanya ke pusat, tetapi bukankah pusat mengucurkan kembali ke daerah kita dalam bentuk anggaran-anggaran pembangunan, hanya jumlahnya harus dibagi-bagi berimbang dengan daerah lain.

Dua hari lalu, dalam ekspos PT CPI di depan anggota DPRD Tk I Riau, Tengku Amir Sulaiman SE [salah seorang Vice President PT CPI yang orang Riau asli] nampaknya ingin memberikan tanggapan terhadap sederetan pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat, Pak Tengku menguraikan dengan panjang lebar apa yang telah diperbuat oleh perusahaan itu dalam kiprahnya di Bumi Lancang Kuning ini, bahkan dengan angka-angka aktual. Tahun 1995 misalnya, mereka menyetorkan pajak dan retribusi sebesar Rp. 97 miliyar lebih. itu masih di luar PBB vane mereka setor sebesar 45 miliyar. Uang yang mereka belanjakan untuk kontraktor dan suplier lokal Riau mencakup jumlah Rp. 548 miliyar, jumlah yang tidak dapat dikatakan kecil hampir sama dengan keseluruhan dana pembangunan Riau tahun 1995/ 1996 [APBD dan Sektoral]. Di samping itu ada program-program CPI yang berupaya untuk membantu mengangkat langsung perekonomian masyarakat dengan jalan membangun prasarana jalan, jembatan dan pasar. Ruas jalan antara Perawang dan desa Sepotong, antara Perawang, Siak dan Sei. Apit, ruas Minas dan Perawang, jalan desa Muara Fajar adalah sebagian dari beberapa ruas jalan yang dibangun oleh CPI.

CPI pun rupanya telah merelakan 312 ribu hektar kebun kelapa sawit masyarakat berkembang dalam area! konsesinya.

Dalam rangka menunjang program IDT, pada tahun 1995 CPI telah pula membelanjakan dana sejumlah Rp.873 juta yang meliputi 36 desa yang berada di sekitar areal konsesi.

CPI nampaknya juga tidak hanya memikirkan hal-hal yang berdampak langsung dalam menggairahkan perekonomian masyarakat daerah ini, yang berdampak tidak langsungpun mendapat perhatian seperti sektor pariwisata, olah raga, agama dan pendidikan. Banyak gedung sekolah yang sudah mereka bangun. Gedung SMA I, gedung SMP 16, gedung SMA dan STM Rumbai, gedung SD Dumai adalah sebagian saja dari gedung sekolah yang mereka bangun. Anda masih ingat atraksi sinar laser yang mengagumkan pada pembukaan MTQN XVII yang dihadiri presiden beberapa waktu yang lalu? Itu adalah sumbangan CPI. Dan jangan kaget bahwa temyata Fakultas Ekonomi Unri menjadi pensuplai terbesar SDM untuk divisi keuangan dan pembukuan CPI. Siapa bilang produk Unri tidak mampu bersaing. Tetapi untuk ahli geologi dan perminyakan masih harus didatangkan dari luar daerah. Kita memang belum memiliki padepokan yang menghasilkan ahli-ahli itu. Kerjasama lainnya yang sering kita lihat adalah dalam bentuk sumbangan-sumbangan terhadap kegiatan-kegiatan kepemudaan seperti kegiatan seminar, olahraga dan sebagainya.

Sebenarnya, kalau CPI mau "ketat-ketatan" membelanjakan uangnya, mereka bisa melakukan itu, sebab mereka telah membayar semua kewajiban mereka kepada Pemerintah Republik Indonesia [dalam hal ini diwakili oleh Pertamina] melalui kontrak yang telah ditetapkan. Semua pengeluaran berbentuk sumbangan sesuai perjanjian harus diprogramkan dan harus disetujui oleh Pertamina. Tetapi nampaknya CPI masih menganut prinsip tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitarnya. Sehingga kendati mereka harus mengeluarkan anggaran "non-budgeter", dalam batas-batas tertentu, itu dapat mereka lakukan.

Kalau kita mau jujur dan tidak menutup mata, keberadaan CPI di daerah ini jelas merupakan komplemen bagi peningkatan perekonomian masyarakat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana gairah perekonomian di daerah ini tanpa kontribusi sebuah industti minyak yang besar seperti CPI itu, yang setiap bulan mengeluarkan uangnya tidak kurang dari Rp 13 miliyar untuk menggaji karyawannya. Ini yang dinamakan multiplier effect, yang susah untuk diukur secara eksak. Palembang merasakan bagaimana perekonomian kota itu terdongkrak karena keberadaan industri pupuk Sriwijaya, Gresik bangga dengan industri tersebut menggairahkan perekonomian setempat, mereka juga bangga dengan klub sepak bola yang disponsori oleh pabrik. New York pun mengakui, tanpa Markas Besar PBB di megapolitan itu, perekonomian kota tidak akan semarak.

Dan kita? Saya tidak meragukan mutiplier effect dari keberadaan CPI, tetapi terus terang untuk membangun persepsi laksana padanan Palembang-PUSRI, atau Gersik-Petrokimia, atau New York-PBB, CPI nampaknya masih memerlukan kiat lain.

Saya melihat, pembangun gcdung STM misalnya, dalam perspektif ide barang kali memang mulia, tetapi dalam aspek lain akan menjadi bumerang bila CPI tidak mampu menampung lulusannya secara optimal dan ini memang sulit untuk dipenuhi. Saya melihat, akan lebih besar dampak positifnya bagi kedua belah pihak, CPI dan masyarakat Riau, bila CPI di samping bantuan-bantuan yang telah ada, memberikan beasiswa kepada siswa-siswa terbaik di daerah ini untuk mengikuti pendidikan di luar negeri khusus bidang perminyakan, geologi dan lingkungan hidup. Dengan demikian secara proaktif CPI telah berperan dalam mencetak ahli-ahli perminyakan, tidak hanya secara pasif memanfaatkan lulusan-lulusan dari ITB, UGM, UPN dan sebagainya. Saya tidak melihat kendala pembiayaan di sini, sebab dibandingkan pengeluaran ekstra lainnya, untuk 20 orang siswa pertahun biayanya relatif kecil. Tahun 2020, akhir kontrak, bukankah masih lama? Kita ingin melihat Tengku Amir-Tengku Amir lainnya kelak, kita tidak ingin membiarkan generasi penerus di Riau ini hanya mampu memikul kaleng-kaleng minyak dari gang ke gang, sambil berteriak,...minyaaaaaaak.


Tulisan ini sudah di baca 145 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/20-Minyaaaaaak.html