drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 1

In memoriam : Bung Ismed


Oleh : drh.chaidir, MM

Tepat setahun yang lalu Bapak Drs. H. Ismed Harunsyah, wakil ketua DPRD Tingkat I Riau, Wakil Ketua DPD Golkar Tingkat I Riau, yang lebih populer dengan panggilan Bung Ismed atau Si Bung, telah berpulang ke Rahmatullah secara tiba-tiba. Banyak orang tersentak dan terhenyak ketika mendengar berita duka itu. Bapak Rivaie Rachman, wakil Gubernur Riau, yang ketika itu berada di Batam, seakan-akan tak percaya, "Ismed? Ismed? Ismed Harunsyah?" tanyanya berulang-ulang. Dibatalkannya semua yang sudah terprogram di Batam dan pagi itu juga kembali ke Pekanbaru.

Banyak yang tak menyangka dan banyak yang merasa kehilangan, Bung Ismed memang figur yang populer karena dia sangat mudah bergaul dengan siapa saja dan dengan kalangan mana saja. Dia seorang tokoh ekstrovet, energik, periang, perlente dan flamboyan laksana selebritis. Pertemuan atau majelis apapun namanya, akan menjadi hidup dan meriah bila tokoh ini hadir. Pembawaannya yang sangat meriah, selalu "ber-ha-ha-ria", adakala terkesan kurang santun dan terasa kurang pas untuk suatu keadaan, dernikian pula ucapannya yang kadang terasa vulgar. Tapi pada dasarnya dia adalah seorang yang teguh memegang akidah Islam. Puasa Senin-Kamis secara rutin diamalkannya, sekalipun sedang berpergian ke luar kota, dernikian juga sholat tahajud dan membaca Al-Qur'an. Oleh karena itu tidak heran apabila Si Bung selalu membawa koper besar walaupun hanya untuk bepergian satu atau dua hari. Isinya lengkap, mulai dari Al-Qur'an, kain sarung, sajadah, kopiah, sampai sepatu karet dan radio kecil.

Waktu kemudian mencatat, banyak hal yang bisa kita renungkan dari sikap dari ucapan Bung Ismed, justru ketika ruang dan waktu telah memisahkan kita dengannya, justru ketika kita dihapkan kepada realita, suatu keadaan, dimana masyarakat menuntut peran yang lebih besar dari DPRD, ketika kita memerlukan figur motivator dan figur panutan yang selalu menggugah sekaligus menggugat kolektifitas dan kesetiakawanan di antara kita.

Orator yang Dermawan dan Peduli
Bung Ismed adalah seorang orator yang susah dicari tandingannya. Dia selalu tampil di podium dengan semangat dan kepercayaan diri yang tinggi. Semakin diberi aplaus oleh hadirin semakin bersemangat ia berpidato. Atas kepiawaiaannya ini, Bung Ismed mendapat kepercayaan untuk membacakan Pernyataan Politik GOLKAR pada penutupan Munas GOLKAR tahun 1993 di Jakarta International Convention Centre Hotel Hilton di hadapan Wakil Presiden dan Para Menteri Kabinet Pembangunan VI. Tentu tidak mudah mendapat kepercayaan itu. Ketika Bung Ismed tampil dengan semangat tinggi dan suara yang lantang membacakan pernyataan politik tersebut seorang peserta Munas disebelah saya, berucap skeptis, "Kalau begini caranya sebentar lagi suaranya akan hilang". Saya tidak menjawab kendati orang tersebut jelas berbicara kepada saya. Dalam hati saya berkomentar, lihatlah nanti. Dan Bung Ismed menyelesaikan pembacaan Pernyataan Politik itu dengan baik. Agaknya kesempatan itu adalah kesempatan terakhir bagi Si Bung untuk menunjukkan kebolehannya di forum yang sangat bergengsi, setelah itu beliau sibuk dengan tugas-tugas di DPRD dan di DPD GOLKAR Tingkat I Riau, untuk kemudian di sebuah subuh yang hening, pergi untuk selama-lamanya.

Orator ini adalah juga seorang dermawan. Suatu ketika Bapak H. Chaeruddin Mustafa, rekan Bung Ismed memberikan tip satu lembar uang sepuluh ribuan kepada tukang parkir di Departemen Dalam Negeri. Tukang parkir tentu lebih kaget lagi. "Apa salahnya membuat orang kecil senang", kata Chaeruddin Mustafa mengenang komentar Bung Ismed. Tukang sapu di jalan Diponogoro di Pekanbaru konon sering mendapat rezeki yang tak terduga dari Bung Ismed.

Bung Ismed sangat peduli kepada kawan-kawannya dan hubungannya dengan kawan-kawan selalu dipeliharanva dengan sentuhan kekeluargaan yang sangat akrab, dan khas gaya Bung Ismed yang barangkali susah untuk ditiru. Dia tidak segan-segan masuk sampai ke dapur rumah temannya hanya untuk sekedar dibuat rninuman ovaltine kegemarannya. Hampir semua rumah anggota DPRD Tingkat I Riau pernah dikunjunginya dan itu dilakukannya pagi hari, pada saat dia melakukan gerak jalan subuh yang sudah menjadi hobinya, dan dilakukan secara rutin setiap hari sekalipun ketika sedang melakukan kunjungan kerja ke luar kota. Suatu kali Si Bung menggedor Mess Pemda Batam di Jalan Penyengat, tempat saya tinggal untuk beberapa waktu. Sebelum Bu Zainab, pengurus Mess, sempat bertanya, Bung Ismed sudah berada di depan kamar saya, sambil berteriak-teriak membangunkan saya untuk sholat subuh. Si Bung agak terperanjat melihat kamar saya sangat sederhana. "Bilang sama Walikota Batam, kamarmu harus pakai AC, kamarmu harus baik kalau tidak, mana bisa kamu memikirkan 100 ribu rakyat Batam yang kamu wakili", kata Si Bung terkekeh-kekeh sembari berlalu meneruskan jalan paginya dengan radio kecil tergenggam di tangannya.

Di lain pagi, Bung Ismed menyinggahi kediaman Drs. Darmansyah, seorang mubaligh yang juga anggota DPRD Tingkat I. "Masih sekitar 25 meter menjelang rumah saya, Bung Ismed sudah berteriak-teriak memanggil, semua tetangga saya sudah kenal dengan pembawaan beliau yang akrab itu", cerita Darmansyah.

Figur Periang dan Menyenangkan
Sifat periang Bung Ismed menurut Drs. H. Anwar Saleh, seorang anggota senior di DPRD Tingkat I, sudah nampak ketika beliau masih duduk di bangku SMP. Suatu kali saya dijamu oleh Bung Ismed di rumah orang tuanya Dt Harunsyah di Tanjungpinang, waktu itu ia masih duduk di bangku SMP. "Berpuluh-puluh tahun kemudian dia tetap saja dengan karakter seperti itu, selalu dominan dan selalu terkekeh-kekeh riang", kenang Anwar Saleh.

Anehnya, menurut H. Wan Ghalib, Ketua Lembaga Adat Riau, yang juga teman mendiang di DPRD Tingkat. I, sekalipun Si Bung selalu berbicara keras dan ketawa terkekeh-kekeh, tidak ada orang yang merasa tersinggung, semua merasakan itu sebagai sesuatu kewajaran. Kalau orang lain rnelakukannya mungkin tidak pantas. Konon menurut cerita kawan-kawan, semasa Gubernur Bapak Imam Munandar [alm], Bung Ismed suka diundang makan siang oleh Pak Imam, karena pembawaan Si Bung yang Periang itu di samping nafsu makannya yang bagus.

Suatu malam di Singapura, Bung Ismed, Pak Chaeruddin Mustafa dan saya di undang oleh seorang kawan untuk dinner di sebuah klub yang cukup ekskutif di Kota Singa itu. Bung Ismed mendapat pelayanan ekstra. Seorang pelayan khusus melayani permintaannya dan pelayan itu dengan senyum setiap kali siap sedia menambah porsi untuk Si Bung. "Tuan nampaknya sangat menyenangi hidangan kami", kata pelayan itu tulus.

Pemberdayaan DPRD
Cerita tentang Si Bung tentu tidak melulu tentang perannya sebagai motivator dalam mengembangkan kolektivitas dan semangat kekeluargaan di kalangan teman-temannya. Jauh sebelum isu pemberdayaan DPRD dikembangkan dalam seminar dan diskusi, Bung Ismed sebenarnya secara substansial telah menangkap gelagat ini. Si Bung memang tidak menggunakan istilah pemberdayaan, tetapi pemikiran-pemikiran yang diungkapkannya pada dasarnya mengandung substansi pemberdayaan. Berulang kali diungkapkannya dalam berbagai kesempatan, bahwa anggota DPRD itu dipilih" oleh rakyat melalui Pemilihan umum dan proses Pemilihan Umum itu sendiri tidak ringan, melelahkan dan menghabiskan dana berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar. Jadi sangat berbeda dengan seseorang Kakanwil atau Kepala Dinas yang dapat diangkat atau diberhentikan sewaktu-waktu. Anggota DPRD tidak dapat diberhentikan dengan SK yang "dibuat" di lapangan tenis atau lapangan golf. Kalaupun ada peluang recalling, itu prosesnya tidak sederhana. "Saudara-saudara itu pada hakekatnya adalah anggota parlemen, jadi Saudara-saudara itu besar", kata Si Bung memotivasi rekan-rekannya. "Karena saudara-saudara itu besar, maka jagalah marwah saudara. Untuk menjaga marwah perhatikan dua hal, pertama, kembangkan pemikiran, imbangi pemikiran eksekutif dan kedua, jaga penampilan," katanya berapi-rapi seperti biasanya.

Subtansi pemikiran beliau mengenai pemberdayaan DPRD memang belum implementatif, tetapi dikaitkan dengan permasalahan yang menghadang, hal itu nampaknya tidak terhindarkan. Masyarakat jelas semakin kritis dan menuntut macam-macam. Membuat kanal-kanal baru untuk menyalurkan aspirasi belum tentu merupakan jawaban yang tepat. Pemberdayaan masyarakat harus sejalan dengan pemberdayaan DPRD, sebab beberapa aspek dalam upaya pemberdayaan masyarakat itu antara lain digodok di ruang sidang DPRD. Bung Ismed, Bung telah meninggalkan nama.


Tulisan ini sudah di baca 131 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/15-In-memoriam-:-Bung-Ismed.html