drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 1

Keberhasilan Kita Semu (Wawancara dengan Harian Pagi Riau Pos)


Oleh : drh.chaidir, MM

Tuntutan reformasi yang dikemukakan mahasiswa, untuk menciptakan tatanan hidup berbangsa dan bernegara, serta pembangunan Indonesia berkelanjutan, seperti sudah menjadi hal yang mendesak. Reformasi tidak lagi menjadi alternatif, namun menjadi tujuan utama untuk perbaikan dalam sistim pemerintahan saat ini. Perbaikan ke arah kehidupan yang lebih baik dan menjanjikan, menjadi cita-cita masyarakat yang coba disuarakan mahasiswa. Bahkan untuk misi ideal cita-cita masyarakat bangsa ini sudah menelan banyak nyawa dan harta benda. Berkaitan dengan hal tersebut, berikut bincang-bincang wartawan Riau Pos, Sutrianto, Eddy Mohd Yatim, dan Norham Wahab, dengan drh. Chaidir MBA yang tergolong intelektual Golkar tentang reformasi dan situasi politik nasional kita.

Bagaimana Anda mempersepsikan reformasi yang marak menjadi tuntutan mahasiswa kita saat ini?

Reformasi ini tentu tidak sama dengan transformasi yang telah kita laksanakan sekarang ini. Reformasi lebih mengarah kepada perubahan yang mendasar terhadap tatanan yang sudah ada. Dalam reformasi kita tidak lagi menambal sulam atau memberi make up, namun sudah merubah suatu bentuk. Ini sebuah koreksi.

Ada pihak yang memandang secara dikotomis bahwa reformasi yang disuarakan mahasiswa bukan aspirasi rakyat. Bagaimana menurut Anda?

Saya tidak setuju. Pasti apa yang disuarakan mahasiswa itu sudah sesuai dengan hari nurani rakyat. Yang perlu kita waspadai di luar kampus ini kan adanya anggota masyarakat yang memancing di air yang keruh. Namun apa yang disuarakan mahasiswa ini jelas hati nurani rakyat. Sudah dari dulu begini, lihat angkatan 66 misalnya, mereka bergerak berdasarkaan hati nurani rakyat.

Dengan pola sentralistik yang sudah mengakar seperti sekarang, apakah gerakan mahasiswa yang muncul di daerah juga berpengaruh terhadap perubahan reformasi yang dihendaki mahasiswa.

Kita di daerah, dengan krisis yang terjadi, sebetulnya harus mampu memanfaatkan situasi untuk kepentingan dan kebaikan kita di daerah. Momentum reformasi di tingkat pusat harus kita pakai untuk reformasi di tingkat daerah. Menurut saya, mahasiswa yang bergerak di daerah jangan hanya menyuarakan suara yang berifat nasional saja, tetapi juga sesuatu yang menyentuh bagi kita di daerah. Selama ini pusat hanya tahu Riau kaya akan tetapi tidak tahu bahwa masyarakatnya tnasih banyak belum dapat menikmati kekayaan itu.

Apa hal ini tidak mengarah kepada separatis atau perpecahan?
Kalau menurut saya, tidak. Karena kita selama ini menganut model otonomi yang bertanggung jawab dengan titik berat ke daerah tingkat II. Mengangkat masalah daerah maksudnya di sini adalah agar pusat tidak terlalu sentralis. Selama ini pusat menganggap daerah itu kan daerah pusat, itu sebabnya daerah itu dikendalikan pusat. Mengapa tuntutan reformasi ini muncul. Apakah tatanan yang kita miliki selama ini sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman?

Masyarakat memiliki nilai harapan atau expectation terhadap pemerintahan sebagai agen pembangunan. Maksudnya, masyarakat menginginkan kehidupan yang lebih baik dari hari ke hari. Nah, kenyataan ini tidak memberi hasil yang lebih baik. Bahkan kita berada pada kondisi yang cukup parah saat ini, jika tidak ingin dikatakan hampir bangkrut. Sistim yang tidak menunjukkan keadilan dan kejujuran dan hanya dikuasai sekelompok kecil pelaku-pelaku ekonomi, tidak lagi bisa dipercaya dan dituntut untuk reformasi.

Menurut Anda, reformasi apa yang mendesak dilakukan untuk memperbaiki kondisi kita saat ini?

Secara substansial sebenarnya banyak yang harus diperbaiki dan dituntut mahasiswa. Seperti misalnya undang-undang politik. Tapi menurut saya yang penting adalah kepemimpinan nasional. Sebab, selama ini kita menganut sistim paternalistik. Jadi siapa yang jadi pemimpin, dia yang akan mewarnai organisasi yang dipimpin. Karena itu yang harus diganti adalah pimpinannya, termasuk pada tingkat departemen. Baru setelah itu dilanjutkan perbaikan-perbaikan di bidang lain. Kalau hal itu tidak dilakukan, akan sulit untuk memperbaiki yang lainnya.

Jadi hakikatnya reformasi ini mengarah kepada penggantian pimpinan nasional?

Kalau yang dikehendaki mahasiswa kan begitu. Tanpa mengganti, reformasi itu tidak akan pernah jalan. Model pembangunan yang kita laksanakan selama 30 tahun ini, ternyata menyimpan bom waktu. Ini sepertinya disadari oleh pimpinan kita.

Namun ada indikasi hal ini tetap dipertahankan untuk menjaga kemapanan. Bagaimana menurut anda?

Itu sudah pasti. Orang kan cenderung untuk mempertahankan kekuasaan. Kelompok yang mapan, yang dekat dengan kekuasaan, tentu akan terus mempertahankan kekuasaan dan mempertahankan status quo. Sebab kalau kekuasaan berganti, mereka takut akses mereka hilang. Ini akan berkaitan erat dengan fasilitas yang selama ini didapatkan.

Apakah mereka menyadari ini merupakan bom waktu?

Saya rasa menyadari atau antara sadar dan tidak barangkali. Namun orang yang berada dalam kenikmatan itu sering suka terbuai sehingga lengah terhadap ancaman-ancaman yang ada di sekitamya.

Dalam pandangan Anda, bagaimana kita memutus garis KKN [Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme] yang selama ini sudah mendarah daging dalam sistim kita?

Sebenarnya, jika kita mulai dengan langkah rasional saya yakin kita bisa. Kita sebenarnya hidup dalam era yang semu. Keberhasilan kita semu, ternyata keropos. Coba lihat, hutang kita banyak. Konglomerat yang selama ini kita andalkan, ternyata menimbun hutang. Apabila ini bisa kita benahi, saya yakin sistim yang rusak ini bisa diputus. Gerakan memutus ini harus secara keseluruhan, sehingga mengembalikan kepercayaan yang semakin habis.

Apa dengan penggantian kepemimpinan nasional, kondisi ideal yang kita inginkan dapat tercapai tanpa memperbaiki sistim yang kita miliki?

Situasi sudah sedemikian rupa. Hal ini harus dilakukan secara simultan. Di samping dilakukannya penggantian kepemimpinan nasional, secara simultan kita juga harus memperbaiki sistim. Misalnya DPR atau DPRD itu harus benar-benar berperan dan menempatkan diri sebagai wakil rakyat. Sebenarnya kan enak kalau DPR-nya berfungsi. Jika terjadi sesuatu, mereka tidak salah sendiri. Mereka bisa bisa bilang wakil-wakil sudah setuju. Kenyataannya sekarang tidak.

Dengan penggantian kepemimpinan nasional, misalnya, apa stabilitas dan tuntutan mahasiswa akan mereda?

Masalah utama, sebenarnya adalah kepercayaan. Jika pucuk pimpinan sudah kehilangan kepercayaan, karena kita berada dalam jaringan ineternasional, sehingga diharapkan ada perubahan yang akan memunculkan kembali kepercayaan terhadap pemerintah, sistim keuangan, dan sabagainya.

Apakah kepercayaan dan ketidakpercayaan ini diakibatkan oleh krisis moneter yang kita alami atau merupakan buntut dari kegagalan kita selama 30 tahun ini?

Pemicunya jelas krisis moneter. Tapi mengapa muncul krisis moneter, karena itu sudah terjadi akumulasi permasalahan. Hutang pemerintah dan swasta yang makin besar. Sementara lembaga keuangan kita yang memiliki kewenangan otoritas moneter seperti BI ternyata mengucurkan dana secara tidak tepat. Dan ini tidak lagi mampu untuk ditutup-tutupi sehingga berpotensi untuk mengambrukkan perekonomian negara kita. Menghancurkan pembangunan yang sudah dibangun dengan susah payah dalam sekejap.

Tentang pelaksanaan Sidang Istimewa MPR untuk mengembalikan kepercayaan rakyat, apa itu inkonstitusional?

Kewenangan sepenuhnya ada pada MPR. Kalau MPR menganggap sudah seharusnya diadakan Sidang Istimewa berarti itu konstitusioanal dong. Bolanya ada pada DPR, jadi kalau mau Sidang Istimewa, mereka bisa.

Tapi MPR seakan terjebak pada ketentuan bahwa pelaksanaan Sidang Istimewa baru bisa dilaksanakan, Jika pemerintah sudah menyimpang dari konstitusi?

Kalau kita mau, banyak jalan untuk melakukan pembenaran. Sebaliknya jika kita tidak mau, banyak juga jalan pembenaran untuk tidak mau melakukannya.

Ada sinyalemen pihak lain memanfaatkan kondisi semacam ini. Bagaimana menurut Anda?

Pasti ada. Namun itu bukan satu-satunya faktor. Memang faktor itu makin memperkuat terjadinya krisis.

Katakanlah dengan kondisi saat ini kekuasaan mampu bertahan. Apa kira-kira yang akan terjadi?

Saya rasa akan terlalu besar pengorbanan yang harus di tanggung oleh bangsa ini. Sekarang saja pengorbanannya sudah besar. sebab reformasi sudah menjadi sesuatu yang mendesak.

Tentang kemungkinan munculnya People Power, bagaimana?

Tadinya saya kurang yakin akan munculnya people power. Tetapi perkembangan akhir-akhir ini bisa jadi munculnya people power, meski tanpa dukungan ABRI. Kalau semua rakyat sudah bergerak, saya yakin ABRI sendiri akan ikut, sebab ABRI kan berasal dari rakyat. Bahkan yang bergerak di kampus-kampus itu bukan tidak mungkin adik-adik mereka atau anak-anak mereka.

Bagaimana Anda melihat perbedaan gerakan mahasiswa sekarang ini dengan gerakan mahasiswa tahun 66?

Saya melihat ada perbedaan. Jika gerakan mahasiswa tahun 1966 jelas kelihatannya karena ABRI ada dibelakang mahasiswa. Ditambah lagi, pusat kekuasaan ketika itu secara formal tidak menguasai elit ABRI. Sekarang berbeda, paling tidak saat ini kita melihat ABRI tidak bergerak bersama mahasiswa.

ABRI memiliki fungsi sttategis agar tuntutan reformasi yang diinginkan dapat terwujud. Bagaiman peran ABRI dalam gerakan mahasiswa saat ini?

Inisiatif memang sekarang ini terletak pada ABRI. Kalau ABRI mengambil langkah proaktif, mungkin akan cepat sekali memulihkan keadaan.

Apa tidak lebih baik peran ini disambut oleh Golkar sebagai partai mayoritas?

Memang benar, maksud saya tadi mengapa ABRI, karena bisa berperan sebagai stabilisator, karena keadaan yang memang bisa berperan sebagai stabilisator, karena keadaan yang memang mendesak. Ini dapat dilakukan dengan mengamhil langkah-langkah persuatif bukan represif. Saya setuju dengan tampilnya Golkar. Kalau tidak berani mengambil langkah terhadap tuntutan mahasiswa,, Golkar akan rugi. Namun di dalam tubuh Golkar sendiri memiliki struktur. Dalam hal ini terdapat tiga jalur yang masing-masing memiliki pengaruh yang kuat, meski jumlahnya tidak banyak.

Tapi kalau dipaksakan ABRI yang muncul, apa tidak ada kesan kup, misalnya?

Ya, kesan dunia internasional pasti begitu. Memang repot, karena itu akan lebih cantik jika Golkar yang mengambil inisiatif, misalnya, dengan mengadakan Sidang Istimewa dengan menyusun langkah-langkah konkrit. Ini akan dapat mengkoreksi sikap Golkar yang terkesan "bingung" menghadapi arus reformasi. Bingung dalam pengertian apa? Bingung dalam pengertian antara hati nurani dengan kondisi yang dihadapinya. Kalau hati nurani, saya kira hampir semuanya mendukung. Tapi kadang-kadang karena posisinya dekat dengan kekuasaan, dia tidak bisa berbuat apa-apa, ewuh-pakewuh.

Golkar itu dekat dengan kekuasaan atau merupakan bagian dari kekuasaan?

Ya, bagian dari kekuasaan. Figur-figur di pusat itu kan orang-orang Golkar. Tapi susahnya kalau lagi senang dan sedap, lupa dengan Golkar, tapi kalau dapat susah, Golkar yang dipaksa memikul kesalahannya itu.

Jika memang terjadi reformasi dan pergantian kepemimpinan nasional, siapa menurut Anda yang akan muncul?

Saya terus terang tidak sampai ke sana. Bagi saya siapa pun yang akan tampil, jika memang lahir secara demokratis dan tidak dipaksakan. tidak menjadi soal, tentu saja mereka merupakan keinginan yang muncul dari bawah.

ABRI selalu dikatakan manunggal dengan rakyat. Namun dalam penanganan masalah saat ini, ada kesan ABRI berpihak kepada pemerintah. Apa jika reformasi terwujud, ABRI harus muncul di depan?

ABRI harus bersikap arif membaca pergerakan masyarakat saat ini. Mereka sebagai bidan dalam reformasi ini. Tidak mutlak setelah diadakan reformasi mereka tampil ke depan. Mereka juga berfikir strategis dengan memahami civil society merupakan masyarakat yang diidam-idamkan di seluruh dunia. Saya yakin ABRI juga memiliki pemikir-pemikir yang handal. Jadi belum tentu mereka membina dan kemudian mereka muncul ke depan. Jika rakyat menginginkan lain, mereka saya kira siap untuk mengamankan.

Dalam kondisi politik kita saat ini, bagaimana pula peran dunia internasional?

Mereka sudah ikut mewarnai krisis yang kita alami saat ini. Antara lain dengan peran yang dilakukan IMF, misalnya. Ini merupakan konsekuensi dari politik luar negeri kita yang terbuka dalam pergaulan dunia internasional. Mau ridak mau kita harus menghargai pandangan yang dilakukan internasional. Itu etika pergaulan internasional. Saya rasa dalam pergaulan dunia internasional saat ini rapor kita merah. Dulu sudah merah dan sekarang tambah merah lagi. Ini akan sudah di-ranking oleh mereka. Bukan tidak mungkin pada titik tertentu, menurut saya, mereka akan mengambil langkah-langkah yang merugikan kita secara keseluruhan.

Ada kemungkinan hal itu sudah dilakukan Amerika?

Saya tidak bisa menganalisa itu, walaupun dalam hati kecil saya menduga-duga tidak tertutup kemungkinan Amerika berperan penting dalam hal ini.

Kembali kepada masalah awal, kenapa bola reformasi tidak bergulir dari DPR?

Tidak mungkin, karena kondisi DPR itu sendiri. Sebuah gerakan yang begitu besar seperti sekarang ini, itu tidak mungkin digulirkan dari DPR. Kenapa, karena setiap fraksi yang ada di DPR terikat kepada induknya. FKP terikat dengan Golkar, F-PDI, F-PPP,dan F-ABRI demikian juga. Mereka punya induk organisasi. Induknya ini punya struktur dengan pusat kekuasaan. Jadi otomatis mereka tidak bisa melakukan langkah yang besar. Kalau mahasiswa ini kan bebas. Mereka tidak takut kehilangan sesuatu, nothing to loose. Karena mereka intelektual, maka yang disuarakan adalah hati nurani masyarakat yang ada di sekitar mereka. Tapi kalau sudah begini, DPR harus mengakomodasikan tuntutan reformasi itu.

Kalau demikian, bagaimana upaya DPR menjadi mitra pemerintah -bukan bagian dari pemerintah- ,agar benar-benar mampu menjadi penjelmaan suara rakyat?

Sistim pemilihan harus diubah. Inilah kebaikan dari sistim distrik. Dengan sistim distrik, masyarakat memilih langsung wakil yang diinginkannya. Jika wakil yang dipilih tidak mampu menyuarakan aspirasi pemilihnya, otomatis dia akan diturunkan masyarakat. Kalau sekarang yang membuat daftar calon itu kan organisasi. Jadi kalau Dia diam saja di lembaga, siapa yang akan me-recall dia.

Jadi dengan kondisi sekarang, bagaimana kita mengatakan bahwa suara yang dimunculkan wakil rakyat merupakan suara rakyat?

Selama mereka tak mampu bicara sesuai dengan hati nurani, mereka akan dilecehkan oleh eksekutif dan dihimpit serta akan dilecehkan oleh masyarakat.

Jika memang sistim distrik dianggap baik sebagai perwujudan dari representatifnya aspirasi rakyat, bagaimana dengan kekuasaan kepala daerah, misalnya?

Ini permasalahan yang sebenarnya. Kalau sistim distrik diperlakukan, otomatis DPRD Tingkat I ditiadakan. Saya yakin, ini akan berpengaruh besar terhadap kewenangan yang dipegang kepala daerah atau gubernur. Selama kewenangan ini tidak diatur dengan peraturan baru, ini akan membahayakan.

Menurut saya Jika memang dengan sistim distrik, tidak diadakan DPRD Tingkat I, maka kewenangan seseorang kepala daerah juga harus direvisi. Tingkat I hanya menjadi fasilitator pusat di daerah. Titik berat pembangunan hanya ada di tingkat II.


Tulisan ini sudah di baca 166 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/13-Keberhasilan-Kita-Semu-(Wawancara-dengan-Harian-Pagi-Riau-Pos).html