drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 1

Kearifan Mengungkai Sumber Daya Sebuah Kontemplasi Terhadap Refleksi Gubernur Soeripto


Oleh : drh.chaidir, MM

Tidak mudah memahami refleksi multi dimensi Gubernur Soeripto yang dimuat Riau Pos tanggal 7 Januari 1998 lalu. Sarat dengan makna dan metafora. Dengan kemampuan yang sangat terbatas, saya mencoba menangkap beberapa hal yang tersirat dengan maksud, pertama, sebisa-bisanya mengungkai beberapa esensi, dan kedua, apa yang sebaiknya dilakukan ke depan untuk daerah ini. Tidak biasanya Gubernur Soeripto menulis untuk media massa. Kalau mau, beliau bisa undang wartawan, dan "kuli disket" ini pasti akan mengutip apa saja yang Beliau ucapkan. Oleh karena itu, refleksi tersebut tentu "special". Saya melihat hal itu sebagai sesuatu yang baik, bahkan semakin sering semakin baik, sebab artikulasi pemikiran, harapan-harapan dan bahkan mungkin kegalauan di ujung dekade kepemimpinan Beliau, penting sebagai masukan untuk menyusun agenda daerah ini di awal milenium ketiga.

Ini memang masalah momentum. Kalau tidak ada hal-hal yang luar biasa terjadi, Gubernur Soeripto akan mengakhiri masa baktinya sebagai Gubernur Riau bulan Desember tahun ini. Sesuai peraturan, tidak mungkin lagi diperpanjang, tetapi bisa diperpendek kalau Presiden terpilih dalam Sidang Umum MPR bulan Maret 1998 nanti mengangkat Gubernur Soeripto sebagai salah seorang anggota kabinetnya. Kalau hal itu terjadi maka Beliau akan mengakhiri masa baktinya di Riau lebih cepat dari yang seharusnya.

Karya-karya Besar
Setuju atau tidak, harus di akui, tidak banyak orang yang memiliki garis ke beruntungan dan riwayat karir yang cemerlang seperti gubenur soeripto. Dalam usia yang relatif muda, perwira Soeripto sudah menjadi Pangdam di Padang , kemudian menjadi Pangkostrad yang sangat prestisius, ketua fraksi ABRI di MPR, dan kemudian menjadi Gubernur Riau dua priode. Ketika beliau merasa paripurna dengan penganugerahan Bintang Maha Putra Utama dan sudah "legowo" untuk menjadi orang biasa dengan pangkat terakhir Mayor Jendral TNI Purnawirawan, tanpa di duga untuk kesekian kalinya mendapat anugrah presiden berupa kenaikan pangkat menjadi Leman Jendral kehormatan. Sekali lagi, jarang yang seperti ini dan Gubernur Soeripto, saya kira, tidak pernah bermimpi atau membayangkan akan memperoleh kehormatan itu. Dengan keberuntungan yang selalu memihak, banyak yang memprediksi, bukan sesuatu yang luar biasa bilamana nanti Beliau duduk dalam Kabinet Pembangunan VII. Siapa menduga?

Tidak jelas mana yang membawa tuah sebenarnya, Gubernur Soeriptokah atau Bumi Lancang Kuning ini. Tapi yang pasti adalah, cerita tentang Gubernur Soeripto pasti akan lain bila tidak menjadi Gubernur di Riau dan cerita Riau akan lain bila tidak dipimpin oleh Gubernur Soeripto.

Selama satu dasawarsa Gubernur Soeripto menjadi nakhoda di Bumi Lancang Kuning ini banyak hal yang pantas dicatat. Sebenarnyalah setiap Gubernur memiliki masterpiece [karya besar] dalam kiprahnya. Mantan Gubernur Riau, Pak Kaharuddin Nasution misalnya, ketika membangun Jalan Jenderal Sudirman, sempat dicemooh oleh Pak Suman HS. "Ini Gubernur gila, membangun jalan lebar sangat, untuk apa," kenang Pak Suman HS suatu kali. "Kemudian saya baru menyadari, jalan selebar itupun sekarang terasa sempit".

Pak Arifin Achmad pula, membangun Riau Hotel, Gedung Wanita dan Balai Dang Merdu. Yang disebut pertama telah diruitslag dan dua yang terakhir telah direnovasi. Namun Pak Arifin Achmad memiliki ciri lain dari kepemimpinannya, yakni kedekatannya yang tidak artifisal dengan pemuda. Tokoh-tokoh pemuda Riau didorong memperluas wawasan dan didukung penuh untuk mengikuti berbagai forum baik nasional maupun internasional.

Lain Pak Arifin Achmad, lain Pak Imam Munandar. Jauh sebelum orang ramai membicarakan tentang pengembangan SDM di negeri ini, Pak Imam Munandar telah mendirikan Universitas Lancang Kuning. Namu Riau pun harum. Sehingga tidak ada seorang Menteri pun yang datang ke Riau ketika itu tanpa mengunjungi Universitas ini. Bahwa sekarang kinerja Universitas Lancang Kuning menurun, itu cerita lain.

Gubernur Soeripto yang memimpin Riau memasuki era modern, mencoba membangkit kebanggaan Melayu Riau. Beliau menggunakan istilah "membangkit batang terendam". Dulu tidak terbayang Riau akan memiliki seorang Pahlawan Nasional, namun dalam dekade Gubernur Soeripto, Beliau berhasil memperjuangkan pengakuan tertinggi dari Republik ini terhadap perjuangan putra-putra terbaik Riau melawan penjajah Belanda dengan dinobatkannya Tuanku Tambusai dan Raja Haji Fisabilillah menjadi Pahlawan Nasional.

"Mikul Duwur Mendern Jero"
Dalam aspek kepemimpinan, Gubernur Soeripto memiliki jurus yang tidak bisa diabaikan. Kader-kader anak daerah yang disemai oleh Pak Arifin Achmad dan dipupuk oleh Pak Imam Munandar, dimanfaat dan dikembangkannya dengan baik menjadi staf yang tangguh. Gubernur Soeripto dengan taktis menempa anak-anak daerah terbaik menjadi stafnya tampak di semua lini. Kebijaksanaan ini menyebabkan Gubernur Soeripto memiliki team work yang tangguh dan ini memang menjadi salah satu implementasi paradigma kepemimpinan Pancasila. Ekstensi pemimpin sangat tergantungg dari ekstensi yang dipimpinnya.

Kepemimpinan yang efektif menciptakan iklim yang mendukung, memperagakan kepercayaan kepada staf dengan memperkenankan mereka memburu sasaran tanpa keharusan melapor berlebihan, pemantauan yang terus-menerus dan bentuk pengendalian lain di luar batas. Dengan pendekatan ini, sebenarnya keberhasilan dan kegagalan tidak mutlak menjadi milik Gubernur Soeripto sendiri tetapi adalah milik sistem. Kritik kepada pemimpin dengan demikian adalah kritik kepada staf dan kepada sistem, sebab mereka memiliki alamat yang sama yakni Pemerintah Daerah Tingkat I Riau.

Hal lain yang pantas dicatat adalah keberhasilan Gubernur Soeripto meyakinkan pemerintah pusat untuk menggolkan struktur dua orang Wakil Gubernur dan mengisinya dengan kader-kader anak daerah yang terpercaya. Kalau bukan karena lobi yang kuat di pusat mustahil itu terjadi.

Agaknya tidak banyak yang mencermati, bahwa Gubernur Soeripto ternyata bukanlah tipe pemimpin yang menempa kepentingan korp di atas segala-galanya. Perimbangan ABRI-Sipil dalam memimpin Daerah Tingkat II di Riau, yang walaupun tidak pernah dipolakan secara formal tetapi sering kali menjadi pertimbangan di belakang layar, diubah oleh Gubernur Soeripto dengan memberikan dukungan moril terhadap pemilihan Beng Sabli [sipil] sebagai Bupati Kampar yang sebelumnya dipegang oleh unsur ABRI. Siapapun akan memahami, bahwa Kampar memiliki potensi kerawanan dalam Kamtibmas. Namun bukanlah alasan daerah yang rawan harus dipimpin oleh seorang ABRI, demikian pula sebaliknya. Bagi yang mengerti, akan menilai, Gubernur Soeripto pandai membaca tanda-tanda perubahan zaman. Bagi saya, semua itu sebuah potret, tanpa disebut pun orang sudah dapat memperhatikan dengan jelas, tinggal memilih ukuran kacamata yang dipakai dan tinggal memilih potret mana yang akan dipergunakan sebagai komparasi. Masalahnya adalah apakah kita mau jujur mengamati dengan mencoba mengadopsi budaya mikul duwur mendem Jero, jadi bukan masalah "angkat telor".

Milenium Ketiga
Tapi Riau tetaplah Riau. Suatu darerah yang kaya Sumber Daya Alam dan memiliki keunggulan kompratif, letak yang sangat strategis, namun disisi lain juga kaya akan fenomena yang mengundang keseriusan. Fenomena investasi skala raksasa, fenomena minyak bumi, fenomena kehutanan, fenomena sawit, fenomena post mining seperti Dabo Singkep, Fenomena Otorita dan sebagainya.

Dihadapkan kepada tantangan yang jauh lebih berat yang menghadang Riau dalam milenium ketiga, mari kita coba introspeksi dengan mengajukan gugatan sederhana, sudahkah kita menunjukkan keberpihakan kita yang wajar kepada masyarakat lokal. Kita berbicara tentang pentingnya masyarakat lokal yang mandiri [selfreliant communities]. Namun agaknya, kita belum secara sungguh-sungguh menyelaraskan potensi alam yang besar itu dalam suatu kearifan lokal. Paradigma pembangunan dengan memberikan bobot kepada pertumbuhan yang kapitalis, dengan memberikan peran yang sangat besar kepada sektor swasta, telah memberikan pil yang sangat pahit kepada rakyat. Swasta tetaplah dia swasta. Orientasinya keuntungan yang sebesar-besarnya dengan pengeluaran yang sekecil-kecilnya. Namun dmeikian, di sisi lain, paradigma pembangunan melalui program peningkatan pemerataan kesejahteraan rakyat dengan cara pemberian subsidi dan bantuan langsung [direct policy] seperti bantuan paket teknologi, bantuan bibit, paket IDT, memerhikan daya yang sangat besar untuk dapat berhasil lebih dari yang dapat ditanggung oleh pemerintah. Di samping itu program peningkatan kesejahteraan rakyat seperti ini akan menyebabkan ketergantungan rakyat kepada pemerintah menjadi sangat besar.

Tidak bisa lain, dalam era milenium ketiga nanti, hanya masyarakat lokal yang mandiri yang akan bisa eksis. Pertanyaanya adalah sudah berapa jauhkah Pemerintah Daerah telah membantu mengembangkan prakarsa masyarakat lokal secara wajar, bukan artifisial, untuk membantu rakyat agar mampu menolong diri mereka sendiri dengan menggunakan semua sumber daya secara arif. Kita berbicara tentang pembangunan yang berkelanjutan [sustainable development], tetapi cara kita mengungkai sumber daya yang ada di daerah belum menggambarkan pemahaman tantang itu secara substansial. Gubernur Soeripto agaknya benar, kita tidak akan pernah bisa mengubah sejarah dan daerah inipun tidak akan bisa putar-putar letaknya seperti dalam permainan mage block. Sampai kapanpun dia tetap berbatasan dengan Singapura, yang berubah adalah tantangannya sesuai dengan perubahan zaman.


Tulisan ini sudah di baca 135 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/12-Kearifan-Mengungkai-Sumber-Daya-Sebuah-Kontemplasi-Terhadap-Refleksi-Gubernur-Soeripto.html