drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Suara dari Gedung Lancang Kuning | Bagian : 0

MEMAHAMI RIAU DALAM RENUNGAN


Oleh : Kata Pengantar Prof Muchtar Ahmad MSc

Sebagaimana dinyatakan di dalam Al-qur'an, Allah SWT selalu membuat makhluk (segala sesuatu yang dijadikan-Nya) berpasang-pasangan. Dengan demikian kita buktikan dalam kehidupan kita ini, seperti di kalangan DPRD Tingkat I Riau. Ada anggota vokal dan yang diam. Ada yang mengungkapkan fikiran dan perasaannya dengan spontan kadangkala asal bunyi (asbun) dan adapula yang berupa hasil renungan atau kontemplasi.

Begitu pula dalam perkembangan sejarah pemikiran perbedaan pokok antara Plato dengan Aristoteles misalnya, yang terdahulu selalu memulai dengan mengakhiri dengan pertanyaan dan yang belakangan dengan pernyataan dan kesimpulan.

Merujuk ke dalam dua dasar di atas, maka jelaslah kedudukan buku "Suara dan Gedung Lancang Kuning". la merupakan hasil renungan atas pengamatan, kejadian, peristiwa dan gejala yang ditemukan dan dihadapi penulisnya baik dan luar maupun di dalam Riau. Karena dituliskan maka sekaligus ia juga merupakan refleksi diri dari penulis yang dikaitkan dengan Riau. Oleh karena itu saya cenderung menyebutkan buku ini sebagai: Memahami Riau Dalam Refleksi, karena kalau suara dari gedung DPRD, ada benarnya mengingat yang menulis adalah anggota lembaga yang bergengsi itu. Namun, tak dapat dinafikan suara itu bukan mewakili seluruh isi gedung tersebut. Walau bagaimana pun, buku ini memang suatu suara dari anggota lembaga tersebut.

Mencermati isinya, kesan yang utama saya ialah betapa kerisauan, kegelisahan, dan harapan penulisnya, tentang Riau dinyatakan dengan terbuka. Keterbukaan adalah ciri khas dari masyarakat demokratis, dan keberanian megemukakan sebuah fikiran secara terbuka adalah pertanda seorang intelektual. Dan aliran fikiran itu lebih baik kepada mengikuti pola Aristoteles, pernyataan dan kesimpulan yang ditawarkan kepada pembacanya, bukan suatu usikan untuk menggugah pembacanya agar mengemukakan suatu yang lebih baik bagi daerah Riau ini, kalau pola Plato dalam penulisannya. Seandainya ada beberapa ungkapan dalam bentuk yang dipertanyakan, maka seakan-akan masih ada yang belum terpecahkan atau sememangnya demikian, dipancing agar pihak pembaca juga memberikan andilnya. Akan tetapi, dengan membaca buku ini akan mungkin saja ada orang terangsang untuk lebih memikirkan Riau ini. Kemungkinan tergugah atau terangsang itu tentulah tetap saja ada peluangnya.

Dari bab ke bab lain dapat dibaca alur fikir yang merasuki penulis. Keberpihakan kepada Riau, kalau boleh dikatakan hal itu ada yang memang tidak berpihak kepada daerah ini. Sungguh pun mereka yang tak berpihak itu telah menikmati Riau baik melalui mengumpulan kekayaan, kemewahan dan berfoya-foya di atas penderitaan masyarakat daerah ini. Hanya saja penulis tak menyatakannya secara kasar dan angkuh, sehingga kadangkala dapat menimbulkan prasangka memihak kekuasaan yang tak memberi arti apapun bagi daerah ini. Cara penyampaian seperti itu lazim terjadi dalam masa orde baru, periode tulisan itu dituliskan. Mungkin ada segelintir orang yang tak berperasangka keberpihakannya pada kekuasaan di kala itu, karena tak kenal dengan cara pengungkapannya yang halus bak "menarik rambut dalam tepung".

Pada bab dua misalnya posisinya lebih baik jelas. Ini tentu saja karena pendapatnya itu tidak langsung berhadapan dengan kekuasaan. Begitu berhadapan dengan kekuasan. Begitu menakutkannya kekuasaan di zaman orde baru itu, sehingga untuk melepaskan unek-unek keberpihakannya, seseorang kadang-kadang harus melambung kemana-mana agar tak langsung bertabrakan dengan kekuasaan yang otoriter dan kejam itu.

Saya jadi teringat dengan pesan Dr Yuwono Sudarsono sewaktu masih baru tamat dari Ingris, ketika menguji dosen-dosen di unri yang berminat ke luar negeri, untuk menghindari diri dari bentrokan dengan kekuasaan, sebagai ahli politik, beliau menulis hal tentang hal-hal yang berkaitan dengan luar negeri atau mungkin lebih tepat di katakan politik luar negeri nya. Toh beliau masih juga tersandung dan pernah di kucilkan Dr Daoed Joesoef menteri pendidikan dan kebudayaan, yang saat itu di jabatnya. Begitulah gambaran kekuasaan (politik) di zaman orde baru yang juga di hindari penulis buku ini.

Produktivitas renungan dari refleki dirinya diarahkan kepada hal-hal yang memprihatinkan, mengenai lingkungan atau pun sumberdaya alam Riau seperti pada bagian tiga atau mengenai generasi muda dan alih kepemimpinan di lembaga lain seperti pada bagian empat, sebagai jalan keluar dari himpitan kegemasan melihat beratnya beban daerah ini. Sekaligus memaruhkan harapan pada kelembagaan di luar sistem kekuasaan itu dengan pesan dan saran yang tentu saja masih patut di ragukan kesampaiannya pada saat itu. Untunglah ada buku ini yang merupakan rekaman ulang yang tentu saja punya peluang besar untuk dibaca ulang, sehingga pesan dan saran yang diharapkan akan menjadi kenyataan.

Kenyataan di negeri lain yang merupakan rekaman kunjungannya ke berbagai negara atau kesan kejadian yang berlangsung di negara tetangga seperti tulisan pada bagian lima misalnya, semakin memperjelas kegalauan hati tentang keadaan di negeri sendiri, teristimewa tentang keadaan politik dan pembangunan di Riau sini. Tak dapat dikatakan sekadar pelarian melainkan juga merupakan impian dari percikan permenungan yang lahir dari endapan di dalam diri, baik hati nurani maupun akal fikiran sehat penulisnya.
Mungkin apa yang diantarkan di sini terlalu sederhana atau dangkal tapi bagi saya apa yang dituliskan dalam buku ini dipandang sangat bermakna, karena hasil permenungan dari refleksi diri yang sadar dan disengajakan. Tak ada maksud yang berlebih-lebihan seperti juga tertuang dalam buku ini tak nampak sesuatu yang berlebih-lebihan itu. Ya, begitulah pemahaman yang muncul dari hasil simak-menyimak saya yang mungkin terasa sepintas lintas. Karena seorang wakil rakyat menulis masih amat langka di negeri ini, mungkin untuk Riau beliau adalah orang kedua sesudah Bapak Wan Ghalib, namun dari segi produktivitas dan keluasan masalah yang direnungi dan ditulis drh. Chaidir, beliau bolehlah merupakan orang yang pertama.

Keistimewaan seperti itu mungkin dapat merubah kesan kita tentang 5 D-nya anggota DPRD. Sekurang-kurangnya penulis telah memulai lebih awal dari situasi reformasi mematahkan mitos yang terlalu menggeneralisir tersebut.

Kalaulah ada buku semacam ini dari anggota DPRD lain atau melebihi ruang lingkup renungan ini darinya di masa depan, tentulah akan lebih seronok lagi. Semoga.



Tulisan ini sudah di baca 205 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Suara dari Gedung Lancang Kuning

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Suara-dari-Gedung-Lancang-Kuning/1-MEMAHAMI-RIAU-DALAM-RENUNGAN.html