drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Ayam Bersepatu


Oleh : drh.chaidir, MM

Entah mimpi apa induk ayam menetaskan telur bernama ayam. Sebab ayam, beratus-ratus tahun kemudian menjadi komoditas yang tidak hanya enak menjadi santapan perut, tetapi juga lezat bagi santapan penikmat birahi. Bagi komoditas yang disebut pertama, bernamalah ia ayam panggang, ayam gulai, ayam rendang, ayam goreng, dan sebagainya. Ayam goreng pun ada? pula spesiesnya, ada ayam goreng pop, ada ayam goreng kalasan, ayam goreng Tuan Kentucky, ayam go-reng Puan Suharti, dan entah apalagi.

Itu untuk konsumsi perut. Untuk konsumsi sekitar wilayah perut (maaf, sekali lagi maaf!), ada istilah ayam kampung, ada ayam kampus, dan baru saya dengar, ada pula istilah ayam bersepatu. Nah kalau ayam kampung dan ayam kampus segmen pasarnya tidak terlalu spesifik, ayam bersepatu memiliki ceruk pasar yang khas, yakni turis bersandal. Kloplah sudah, ayam bersepatu pasangannya turis bersandal.

Ayam bersepatu? Swear, saya juga baru dengar. Adalah Ibu Dwi Ria Latifa, S.H., Anggota DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang menyebutkan istilah ayam bersepatu ini untuk para pekerja seks atau WTS yang berkeliaran di kampung halamannya, Tanjung Balai Karimun. Ibu Ria kelihatan masygul menyaksikan kota kelahirannya itu, yang dulu disebut sebagai Kota Granit, kini tumbuh padat menjadi kota esek-esek karena banyaknya pekerja seks. "Saya sendiri sempat ditawari oleh sopir taksi untuk melayani tamu dari Singapura. Gila, nggak! Apa tampang saya ini seperti "ayam bersepatu". Padahal sepatu saya tidak tebal Iho," cerita Ibu Ria gundah dalam suatu pertemuan Komisi II DPR-RI dengan DPRD Riau di Gedung Lancang Kuning belum lama ini.

Istilah ayam bersepatu konon diberikan karena umumnya para WTS atau WSP (Wanita Siap Pakai) yang berkeliaran di kota Tanjung Balai Karimun umumnya memakai sepatu tebal-tebal. Mereka berkeliaran di hotel-hotel, di diskotik-diskotik, di salon-salon, dan tempat hiburan lainnya. Dan mereka mudah dikenali dari penampilan, cara perpakaian, dan ya itu tadi, sepatunya! Tidak jelas maksudnya apa, karena modekah, untuk ciri komunitas merekakah, atau untuk mengatrol tinggi tubuhnya? Dari pemantauan sepintas ketika suatu kali saya menginap di hotel terbaik di Kota Granit itu, para pekerja seks ini umumnya memang terlihat menggunakan sepatu tebal, dan umumnya kelihatan masih muda belia. Dari beberapa informasi yang saya peroleh, mereka memang bukan produk lokal atau orang asli setempat.

Ayam bersepatu ini biasanya menjadi langganan turis-turis bersandal dari Singapura. Turis bersandal adalah julukan yang diberikan kepada umumnya turis apek-apek yang berasal dari Singapura, untuk sekadar membedakan mereka dengan turis-turis bule atau turis Jepang yang biasanya lebih suka menikmati golf murah di Batam dan Bintan. Turis bersandal ini bukan dari kalangan the have, tapi bukan pula berarti mereka miskin. Mereka umumnya berprofesi sebagai sopir taksi, sopir bus kota, cleaning service, penjaga malam, dan sejenisnya. Penghasilan mereka pas-pasan untuk ukuran hidup di Singapura, tetapi masih terhitung lumayan untuk ukuran kita, apa-lagi kalau pendapatan mereka itu dikurskan dalam rupiah. Coba bayangkan, dengan uang 150 dolar Singapura saja, atau sekitar Rp750.000,- mereka sudah bisa berangkat ke luar negeri, menginap satu malam di hotel terbaik di Tanjung Balai Karimun, makan sea food enak, dan tentu, seperti yang menjadi impian mereka: menikmati ayam bersepatu semalam suntuk. Sekalipun mereka sopir taksi, apalah artinya uang 150 dolar untuk ukuran gaji mereka. Oleh karena itu, seorang sopir taksi atau petugas cleaning service bisa makan angin dua kali sebulan atau bahkan setiap minggu ke Tanjung Balai Karimun, ke Batam, atau ke Tanjung Pinang. Konon sekarang Tanjung Batu, masih dalam wilayah Kabupaten Karimun, juga menjadi tempat tujuan wisata turis-turis bersandal ini.

Dari aspek ekonomi, kehadiran turis bersandal ini adalah ladang yang subur bagi hotel-hotel, restoran-restoran, dan tempat-tempat hiburan. Turis-turis bersandal ini adalah pembeli-pembeli yang haus akan suasana bebas aturan seperti yang mereka temui di pulau-pulau kita. Mereka jenuh dengan kehidupan yang serba mekanistik dan digitalistik. Dan pelariannya adalah ke pulau-pulau di seberang yang hanya berjarak satu jam dengan kapal ferry. Di pulau-pulau yang laksana terra incognita itu, mereka bebas berimajinasi menuruti naluri-naluri yang terkekang akibat tuntutan kehidupan modern di negerinya. Mengapa peluang ini tidak dimanfaatkan. Maka terjadilah hukum dagang di sini. Ada pembeli ada penjual, tak jelas lagi mana yang muncul lebih dulu, ayam atau telur.

Menyalahkan pemerintah daerah sepenuhnya dalam masalah ayam bersepatu ini tentu tidak adil. Dalam suatu bincang-bincang dengan Bupati Karimun M. Sani baru-baru ini, terkesan adanya kegusaran Sang Bupati terhadap tudingan dari luar yang menyudutkan Pemda sebagai pihak yang tidak berdaya menangani masalah ayam bersepatu ini. "Orang jangan berkomentar saja dari luar, tapi datanglah ke Karimun, lihat keadaan yang sesungguhnya dan bantu kami memikirkannya," ujar Bupati gusar.

Suka atau tidak suka, banyaknya turis bersandal yang datang ke Karimun sedikit banyak telah menggairahkan perekonomian di daerah itu. Tingkat hunian hotel bagus dan restoran-restoran hidup. Membasmi sekali pukul ayam-ayam bersepatu, tentu akan menyurutkan pula kunjungan turis-turis bersandal, sementara objek lain untuk turis berdasi atau turis berkulit kuning dari Timur Jauh seperti Jepang, Cina, dan Korea belum lagi tersedia. Lapangan golf, tourist resort, fasilitas marine sport, dan hotel-hotel berbintang misalnya, tampaknya masih menunggu investor.

Tapi bukan berarti Pemda tidak berbuat sesuatu. Saya mendengar sudah ada rencana untuk melokalisasikan ayam-ayam bersepatu ini. Di samping itu, Karimun juga telah memiliki Peraruran Daerah tentang Kependudukan yang populer disebut Perdaduk seperti yang dimiliki oleh kota Batam. Perdaduk akan dapat dipakai sebagai alat untuk mengendalikan penduduk, khususnya pendatang, sehingga entah namanya ayam kampung atau ayam bersepatu tidak akan leluasa lagi memasuki Karimun. Apabila kedua langkah ini efektif, maka ayam bersepatu akan mengalami zero growth, pertumbuhannya akan nol. Yang ada pun secara teoretis, semakin lama akan semakin berkurang. Dan Bu Ria barangkali tidak lagi perlu rnasygul.

Tetapi ini tentu tidak sederhana. Ayam bersepatu boleh dibatasi, tetapi turis bersandal? Bagaimana melarang mereka agar tidak berakhir pekan di pulau-pulau? Agaknya karena ada hukum pembeli dan penjual inilah maka sejak dahulu kala, profesi pelacur itu tidak pernah bisa musnah. Bahkan ada yang mengatakan profesi pelacur sama tuanya dengan sejarah kehidupan manusia. Nah!


(27 Januari - 2 Februari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 271 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/99-Ayam-Bersepatu.html