drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Terra Incognita


Oleh : drh.chaidir, MM

Dalam idiom politik orang biasa mengatakan: "Today is yours, tomorrow nobody knows" (Hari ini milik Anda, besok tak ada seorang pun yang tahu). "Rencana di tangan manusia, keputusan di tangan Tuhan". Artinya sebaik dan serapi apa pun rencana yang disusun, kenyataan dalam pelaksanaannya kadang berbeda. Kadang sesuai dengan harapan, kadang melebihi harapan, kadang pula jauh dari harapan. Kedua ungkapan tersebut walaupun bernada pesimistis, namun agaknya tidak terbantahkan.

Manakala matahari tahun 2000 tenggelam perlahan-lahan di kaki langit setahun yang lalu, tak ada yang bisa meramalkan secara pasti bahwa pada tahun 2001 akan terjadi banyak tragedi kemanusiaan yang maha dahsyat. Siapa yang bisa menduga? Orang hanya bisa membuat asumsi, hanya bisa membuat prediksi terhadap kejadian berulang seperti berulangnya permintaan terhadap kebutuhan pokok beras, gula, minyak, dan sebagainya. Kebutuhan tahun depan tentu bisa dihitung dari pertambahan jumlah penduduk, terjaminnya suplai dari produsen dan kemampuan beli masyarakat.

Prediksi juga bisa disusun berdasarkan trend yang terlihat sepanjang tahun sebelumnya secara statistik. Ada satu seri data yang memberi banyak informasi dan interpretasi. Tetapi terhadap sesuatu yang tidak ada datanya secara kuantitatif, orang hanya bisa menduga. Ada memang individu tertentu yang memiliki kelebihan intuisi (oleh masyarakat awam disebut "orang pintar"), dan orang seperti ini berani membuat ramalan. Tetapi tetap saja apa yang akan terjadi esok, ketika matahari tahun 2002 menyingsing di ufuk timur, tidak ada yang bisa membuat skenario secara pasti.

Ketika kapal Titanic mulai dibangun dan selesai di penghujung tahun 1911, para pembuatnya mengatakan kapal mewah itu tak akan mungkin tenggelam. Tetapi apa yang terjadi? Dalam pelayaran perdananya tanggal 14 April 1912, kapal itu nyatanya tenggelam setelah menabrak gunung es, dan menewaskan 1503 orang dari 2206 orang penumpangnya yang sebagian besar adalah kalangan selebritis. Ketika Nelson Mandela dipenjarakan selama 27 tahun di Pulau Robben Afrika Selatan sejak tahun 1974 oleh rezim apartheid di negeri itu, tidak ada yang meramaikan dia akan menjadi Prcsidcn Afrika Selatan setelah keluar dari penjara.

Minoru Yamasaki sama sekali tak pernah membayangkan kalau Gedung Kembar pencakar langit World Trade Center (WTC) 110 tingkat yang dirancangnya, dan telah menjadi land mark megapolitan New York selama 27 tahun, ambruk rata dengan bumi setelah ditabrak dua buah pesawat terbang bunuh diri. Demikian juga dengan gedung Markas Besar Pertahanan AS Pentagon di Washington DC, siapa yang berani menyentuh? Tidak ada yang menduga kalau gedung yang dilengkapi dengan detektor canggih itu akan bisa diporak-porandakan oleh teroris musuh Amerika.

Hingga penghujung bulan Desember tahun 2000, Gus Dur pun sangat percaya diri bahwa dia akan tetap bertahan sebagai Presiden RI sampai tahun 2004, tapi di pertengahan 2001 toh tumbang juga. Penduduk sipil di Afghanistan sama sekali tidak menduga kalau tragedi yang menimpa Gedung WTC di New York akan menyebabkan negeri mereka juga hancur lebur kena bom. Aliansi Utara juga tidak menduga bakal secepat itu menguasai Afghanistan dengan menumbangkan Taliban. Tidak ada yang bisa menduga persis apa yang akan terjadi esok hari. Itu rahasia Sang Pencipta.

Banyak pertanyaan renungan yang menarik di penghujung tahun 2001 ini. Salah satu agaknya adalah, masihkah tahun 2002 boleh kita sebut sebagai tahun transisi seperti tahun 2001 dan tahun-tahun sebelumnya di era reformasi ini? Kalau memang demikian, tidakkah ini hanya bentuk jastifikasi dari kefrustrasian kita dalam merespon perubahan yang terjadi? Sebab dengan demikian, semua kealpaan menjadi sah-sah saja karena kita berada dalam era transisi yang memerlukan penyesuaian-penyesuaian dan memerlukan koridor rambu-rambu yang sangat luas. Begitukah?

Kita agaknya masih belum sungguh-sungguh bebas dari lilitan krisis berdimensi banyak dewasa ini. Kita agaknya memerlukan masa transisi yang cukup panjang karena ini menyangkut perubahan sikap mental. Sebut sajalah krisis di bidang politik, ekonomi, bahkan juga nilai-nilai etika moral yang membuat kita terpuruk dan dianggap sebagai bangsa yang tidak lagi berbudaya dan tidak lagi bermartabat. Di bidang politik kita berada dalam terra incognita (kawasan liar) politis dengan ham-pir tanpa petunjuk yang jelas, tanpa pedoman, tanpa acuan.

Pada bidang ekonomi juga bisa dikatakan berada di terra incognita. Mazhab mana yang kita ikuti tak lagi jelas, kapitalis atau sosialis, sementara made in sendiribelum lagi jelas rimbanya. Konsep Ekonomi Pancasilanya Prof. Mubyarto misalnya, entah di mana kini. "Jangankan konsep Ekonomi Pancasila yang dari dulu memang masih diperdebatkan, bahkan konsep ilmu ekonomi secara keseluruhan pun telah mati!" ujar seorang pengamat dengan sinis. Tentu ini hanya salah satu bentuk kegusaran dan kega-lauan terhadap kejadian-kejadian yang tidak lagi masuk akal. Ketika kita berbicara tentang supremasi hukum misalnya, yang terjadi justru hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Ambil contoh perspektif daerah Riau. Seseorang atau sekelompok orang seakan boleh saja membuka lahan, menebang hutan dan membuat kebun beratus-ratus bahkan beribu-ribu hektar sesuka hati tanpa izin. Semuanya seakan menjadi sah-sah saja asalkan ke mana-mana mengusung payung ekonomi kerakyatan. Dengan dalih ekonomi kerakyatan juga, ada kelompok-kelompok yang mengumpulkan uang dari rakyat yang katanya untuk dibuatkan atau dibelikan kebun sawit untuk rakyat. Pada-hal ini hanya jerat muslihat menipu rakyat.

Sesungguhnya terra incognita ini tidak boleh dibiarkan berkelanjutan, sebab ia laksana kangker yang stadium demi stadium semakin meruyak. Bahkan kalau mau sedikit kejam, sesungguhnya di wilayah terra incognita, di mana berlaku ketiadaan aturan manusia dan Ilahi, maka aturan yang berlaku adalah nilai-nilai dunia kebinatangan. Kita tentu tidak mau disebut sebagai negeri kebun binatang tanpa sekat. Tidak ada aturan, tidak ada nilai, tidak ada hierarki, dan tidak ada pemerintahan.

Diperlukan kesadaran tinggi untuk memahami bahwa perubahan dan kemajuan tidak hanya membawa kenikmatan, kemudahan, dan keindahan hidup, tetapi juga mengangkut segerobak kompleksitas permasalahan bertali-temali bahkan juga kejahatan yang berdimensi banyak.

Oleh karena itu, tempo yang terpenting dari kesadaran historis dalam merespon perganrian tahun, kata orang bijak, bukanlah meratapi atau tenggelam dalam kejayaan rnasa lalu, tetapi menatap masa depan. Sebab, semua makhluk yang hidup akan menjalani sisa hidupnya di masa depan. Sayangnya, masa depan tak bisa diramalkan, bahkan adakalanya merupakan terra incognita. Namun upaya untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik merupakan kewajiban makhluk yang bernama manusia, karena berbeda dengan makhluk lainnya, manusia diberi akal budi. Semoga di tahun 2002 kita lebih baik.


(30 Desember - 5 Januari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 143 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/98-Terra-Incognita.html