drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Kambing Hitam


Oleh : drh.chaidir, MM

Belum pernah terjadi dalam sejarah Kabupaten Kampar Propinsi Riau, pemilihan kepala daerah terjadi demikian sengitnya seperti pemilihan yang berakhir kemarin pagi di kota "Beriman", Bangkinang. Hari-hari menjelang pemilihan adalah hari-hari "pengusungan". Semua calon mengusung apa yang bisa diusung, mengadu apa yang bisa diadu, mengepit kepala harimau. Semua bertempur dengan senjata pamungkas, laksana mortal combat game. Sepertinya, kalau tak menang dunia akan kiamat. Ada yang menggunakan bom curah seperti di Afghanistan, ada pula yang menggunakan jurus pendekar mabuk yang sulit diterka lawan, seperti Wiro Sableng. Spekulasi di pasar taruhan pun konon bergerak cepat.

Tidak tersedia sama sekali ruang untuk alternatif. Pilihan hanya ada satu, yaitu menang. Padahal kandidatnya banyak, paling tidak ada empat pasang, sementara pemenang hanya ada satu dan belum pernah terjadi hasil pertandingan draw. Andaikan pemilihan bupati meniru gaya tinju pro di Amerika sana, tentu ada bupati versi WBC, versi WBA, versi IBF, atau versi WBO. Dan ceritanya akan lain. Tetapi sayangnya jabatan bupati di setiap kabupaten hanya ada satu. Oleh karena itu, persaingannya seakan-akan menyeramkan: menang berarti hidup, kalah berarti mati. Tidak ada kemungkinan kedua atau ketiga. Jalan pikiran seperti ini telah membuat wacana politik lokal kita, khususnya di Kabupaten Kampar, tegang dan penuh dengan intimidasi politik yang jauh dari suasana menyejukkan. Kabupaten Kampar yang biasanya memberikan kesan sejuk, tenteram, dan agamis karena lingkungan masyarakatnya yang Islami, gara-gara dinamika politik lokal menampakkan wajah yang keras, agak aneh, dan penuh emosi. Sepertinya, kau bukan dirimu lagi, persis nyanyian Ruth Sahanaya itu.

Dalam sebuah realitas kehidupan masyarakat yang bergerak cepat dewasa ini, memang tidak banyak orang: yang berani berpikir alternatif. Win-win solution yang seringkali ditawarkan sebagai resep mujarab, acapkali pula hanya tinggal sebagai penghias bibir. Orang malahan cenderung berpikir tunggal, yaitu bagaimana caranya agar mampu memenangkan semua pertarungan secara habis-habisan, apa pun risikonya. Ada kecenderungan orang ingin memperoleh semuanya dan tidak menyisakan sedikit pun bagi yang lain. Untuk tujuan itu kalau perlu nyawa pun rela: dikorbankan. Sedikit sekali yang berani mengainbil inisiatif dan rajin berpikir alternatif, objektif, dan rasional.

Kalau kita menyadari bahwa hakikat kegiatan pemilihan sesungguhnya adalah suatu aktivitas manusia-manusia yang memiliki akal budi, maka hal-hal semacam itu tidak perlu terjadi. Penggunaan instrumen-instrumen konflik secara membabi buta dalam mencapai tujuan hanya akan menimbulkan kekacauan serta konflik baru yang semakin tak terselesaikan, bahkan mungkin dendam. Andaipun berhasil, maka kondisi yang ada akan terjadi seperti ungkapan Melayu, "Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu". Hanya ada satu cara bagi kita, betapa pun sulitnya, yaitu jalur kompromi. Bagaimanapun sebuah kompromi harus dilakukan, yaitu sebuah kompromi yang berkeadilan dan bermartabat, sebuah kompromi yang berlatar kearifan.

Masing-masing kita harus arif. Yang menang harus arif, yang kalah juga harus arif. "Menang tanpa ngasorake," kata orang Yogya. Menang tanpa mempermalukan yang kalah, adalah sebuah ungkapan yang mengandung makna filosofis yang dalam. Masih dalam peribahasa Jawa, ungkapan itu biasanya didahului dengan ungkapan, "Ngluruk tanpa bala". Kondisi di mana pihak yang menang tidak perlu mempermalukan pihak yang kalah dan pihak yang kalah tidak merasa dipermalukan, dilecehkan, atau dihina, hanya akan terwujud apabila pihak-pihak tersebut bertempur tanpa menggunakan pasukan. Ngluruk tanpa bala (bertempur tanpa pasukan), akan menghasilkan sebuah kemenangan yang sarat dengan makna. Tetapi, sekali lagi ini falsafah Jawa, yang menurut orang Jawa sendiri, mudah diucapkan namun sulit dipraktikkan.

Dalam aktivitas pemilihan, sesungguhnya secara naluriah manusia akan memilih sesuatu yang baik, lebih baik, dan yang terbaik. Tetapi kemampuan menentukan yang baik atau terbaik itu berbeda dari orang ke orang, tergantung pada dorongan hawa nafsu, perasaan dan kecenderungan yang ada pada dirinya. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita sering menemukan kasus di mana orang salah melakukan pilihan dan bereaksi macam-macam atas kesalahan dan kekalahannya. Dan peluang untuk bereaksi macam-macam tidak hanya bagi pihak yang kalah, pihak yang menang pun sama peluangnya.

Jika masing-masing pihak ada kearifan, maka pertelagahan tidak akan terwujud. Hari ini kita tidak berada di pihak yang menang, barangkali akibat kekurangarifan kita sendiri dalam mendayagunakan potensi kekuatan yang dimiliki, atau karena kurang solidnya perjuangan.

Tetapi itu tidak bermakna bahwa dunia akan kiamat dan bukan pula berarti bahwa kita hams melakukan tindakan tidak adil dan sepihak. Karena apabila itu kita lakukan, maka predikat menghalalkan segala macam cara pun layak disandang, dan itu bukan cara yang bermartabat. Kekalahan, kata orang barat, bukankah sebuah keme-nangan yang tertunda?

Pemilihan kepala daerah mestinya adalah sebuah peristiwa biasa yang tidak perlu direspon dan dielaborasi terlalu berlebihan. Jabatan adalah sebuah amanah yang apabila mampu diemban oleh sang pejabat akan menjadi hikmah, tetapi apabila disalahgunakan akan menjadi musibah. Peluang untuk keduanya terbuka sama lebarnya. Seorang kawan mengingatkan kepada saya, "Jabatan itu sama dengan uang Bung, sebab jabatan itu berarti kekuasaan. Kekuasaan kalau sedikit menjadi kawan, tapi kalau banyak menjadi setan. Sebab kekuasaan, menurut teori dari sononya memang cenderung disalahgunakan."

Karena itu, siapa pun pemenang pemilihan Bupati Kampar secara hakikat tak jadi masalah. Yang penting, bermanfaat atau tidak bagi masyarakat Kampar khusus-nya dan Riau pada umumnya. Mari kita buang keranda kebencian yang selama beberapa bulan ini diusung ke mana-mana, sebab itu sebuah kesia-siaan. Kita memerlukan manusia-manusia yang berhati lapang, manusia yang toleran, penahan amarah, pemaaf, dan kaya akan kearifan. Ini akan jauh lebih berharga, bahkan tak ternilai harganya. Kata orang bijak, "Orang yang tidak pernah meminta maaf, apalagi memberi maaf, adalah orang yang mengaku tidak pernah berbuat salah. Yang mengaku tidak pernah berbuat salah, adalah orang yang paling banyak melakukan kesalahan. Saling memaafkan lebih baik daripada saling mencari kambing hitam."


(4 - 10 November 2001)


Tulisan ini sudah di baca 135 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/97-Kambing-Hitam.html