drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Budaya lnstan


Oleh : drh.chaidir, MM

Suatu hari dalam penerbangan Jakarta - Yogya, saya duduk di sebelah Menteri Perikanan dan Kelautan, Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.Sc. Menteri ini, yang sudah mulai saya kenal ketika ia masih Dirjen, menurut saya, adalah orang yang rendah hati, intelek, dan jauh dari kesan ngebossi. Oleh karenanya dalam durasi terbang selama lima puluh menit itu, banyak hal aktual yang kami bicarakan, mulai dari kemungkinan terlibatnya agen-agen Israel dalam tragedi Menara WTC dan Pentagon di America Serikat sampai kepada pergeseran nilai-nilai uaiam masyarakat yang membawa dampak cukup luas.

Salah satu dari nilai-nilai baru itu kemudian menjadi perenungan saya, dan kemudian saya (coba) elaborasi, yaitu munculnya budaya instan. Hewan apa pula ini budaya instan? Yang sering kita dengar adalah budaya politik, budaya mumpung, atau budaya malu. Budaya politik misalnya, seringkali didefinisikan sebagai suatu pola sikap, keyakinan, dan perasaan tertentu yang mendasari, mengarahkan, dan memberi arti kepada tingkah laku dan proses politik dalam suatu sistem politik, mencakup cita-cita politik maupun norma-norma yang sedang berlaku di masyarakat politik. Budaya mumpung pula adalah suatu sikap yang tidak terpuji tentang ketidakjujuran menggunakan fasilitas jabatan atau kekuasaan atau kepercayaan yang diamanahkan. Yang harus hati-hati didefinisikan adalah budaya malu, jangan sampai terjebak dalam penggunaan awalan ke dan akhiran an. Kalau ini dilakukan tentu artinya sangat berbeda. Budaya malu, lebih tepat didefinisikan sebagai suatu sikap malu untuk berbuat tidak terpuji atau tidak senonoh. Itulah budaya malu.

Nah, budaya instan? Tentu tidak ada hubungan darah sama sekali dengan susu instan atau mie instan, tapi hubungan "ideologi" dengan produk ini agaknya ada. Untuk menyajikan susu atau mie instan tidak usah repot-repot memasak air panas terlebih dahulu, pakai air dingin juga oke, yang penting airnya telah dimasak. Produsen memanjakan konsumen dengan memberikan kemudahan: tidak usah repot-repot. Budaya instan, kira-kira, adalah suatu kebiasaan baru yang tumbuh dalam masyarakat kita yang selalu ingin cepat jadi, ingin cepat berhasil, ingin cepat dapat untung besar, tanpa harus memeras keringat berlama-lama. Ya, seperti susu atau mie instan itu.

Dewasa ini memang berkembang suatu kecenderungan orang ingin cepat jadi, ingin cepat memiliki, seperti meniup lampu Aladin. mgin cepat jadi kaya caranya mencuri, merampok, atau main judi. Ingin cepat kawin sang pacar dibawa lari. Ingin cepat jadi sarjana, caranya nyontek skripsi. Ingin cepat jadi doktor, caranya terima saja tawaran untuk memperoleh doktor honoris causa yang sekarang memang menjadi trend. Di Batam, saya terkagum-kagum dan sekaligus terkaget-kaget melihat teman-teman saya, beberapa di antaranya, sudah menyandang gelar profesor doktor. Barangkali kita ingin meniru gaya Amerika Latin. Di negara-negara yang berbahasa Spanyol, guru sekolah dasar pun mereka panggil profesor.

Besarnya nilai harapan di luar batas-batas kemampuan potensial tidak hanya terjadi di zaman gila ini saja. Nilai-nilai negatif materialistik itu, atau dalam bahasa yang lebih vulgar, kerakusan terhadap harta dan tahta, sesungguhnya sama tuanya dengan sejarah kehidupan umat manusia. Dahulu kala pada zaman Sebelum Masehi, filsuf Socrates, guru dari Plato, begitu terancam kehidupannya karena menolak keinginan para penguasa diktator tiga puluh tyrannoi. Mereka meminta Socrates sebagai anggota Panitia Pengadilan Negara Athena, dan bekerja sama dengan diktator itu dalam upaya membunuh seorang yang bernama Leon. Bukan karena Leon memang bersalah, melainkan semata-mata hanya untuk merampas harta miliknya yang amat banyak. Kerakusan akan kekayaan, ternyata sanggup menaklukkan akal budi serta sanggup menghancurkan norma-norma kehidupan dan standar moralitas yang merupakan benteng pertahanan dan pelindung kebajikan, kebaikan, keadilan, dan peradaban umat manusia.

Bahaya kerakusan akan kekayaan yang demikian itu, bukan hanya dapat terjadi dalam suatu struktur negara yang diktatorial, tetapi dapat juga terjadi dalam struktur dan bentuk serta sistem negara yang mana pun juga, termasuk di negara kita. Pemerintahan demokratis Athena pada zaman Plato itu, yang berhasil diktator tiga puluh tyrannoi tadi, ternyata juga tidak berhasil melepaskan diri dari cengkeraman bahaya kerakusan akan kekayaan yang mengerikan itu. Sejarah kemudian kembali terulang. Layaknya hanya sekadar berganti jaket, semen-tara nilai-nilai kerakusan dalam tubuh dan jiwa di dalamnya tidak sungguh-sungguh hilang. Mana mungkin?

Gambaran itu terlihat dari sejarah hari-hari terakhir dalam riwayat Socrates ketika dia ditangkap dan dipenjarakan sambil menanti hukuman mati. Sebenarnya Socrates dapat melarikan diri dengan jalan menyuap pejabat pemerintah yang berwenang. Tetapi hal itu tidak dilakukannya, kendati pun uang suap telah disediakan oleh teman-temannya. Socrates tidak mau melibatkan diri ke dalam tradisi suap-menyuap itu, yang bukan saja melumpuhkan para penguasa dan menghancurkan negara, tetapi juga merusak akhlak si penyuap itu sendiri. Sadar atau tidak, si penyuap telah menjadibudak dari segala keinginan dan hawa nafsu yang jahat. Walaupun untuk mempertahankan prinsip itu Socrates harus menerima ajal di tiang gantungan.

Budaya instan adalah pola sikap rakus, tetapi agaknya tidak hanya itu. Ancaman terhadap pemerintahan Gus Dur yang dalam tempo enam bulan harus mampu mengatasi krisis, seperti yang pernah dilontarkan oleh Amien Rais, dan kemudian ancaman yang sama kepada pemerintahan Megawatt, adalah sisi-sisi budaya instan. Mana mungkin krisis yang multidimensional bisa diselesaikan dalam tempo enam bulan, setahun pun belum tentu.

Dalam skala lokal kita dapat melihat betapa tidak sabarnya masyarakat ketika konsep ekonomi kerakyatan yang telah dicanangkan oleh pemerintah daerah belum juga membuat rakyat menjadi kaya. Masyarakat ingin instan. Hari ini konsep ekonomi kerakyatan itu dilaksa-nakan, maka hari ini juga rakyat sudah harus menjadi kaya, atau paling tidak sudah harus mulai menjadi kaya Pandangan yang sama juga kita tangkap dari respon masyarakat terhadap Visi 2020 Riau. Visi 2020 adalah mimpi tentang wujud daerah ini di masa depan, mustahil diwu-judkan besok pagi seperti meniup lampu Aladin. Tetapi seperti kata Abraham Lincoln, "They want to get done", hari ini juga mereka ingin memiliki semuanya.

Kata Pak Rokhmin Dahuri, "Masyarakat agaknya sudah terlalu sering dikalahkan sehingga mereka tidak lagi sabar menunggu hari esok."


(28 Oktober - 3 November 2001)


Tulisan ini sudah di baca 113 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/96-Budaya-lnstan.html