drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Mengenang Ediruslan Pe Amanriza


Oleh : drh.chaidir, MM

Diukur dari waktu, pergaulan saya dengan Ediruslan Pe Amanriza belum lagi layak disebut karib, karena baru ketika saya mulai menapak di Gedung Lancang Kuning DPRD Riau, kami mulai berkenalan satu dengan lainnya. Sebelumnya, saya sering mendengar namanya karena dia memang sudah malang melintang di dunia karang-mengarang, sementara Edi belum lagi pernah mendengar nama saya. Kami baru semakin dekat semenjak Ediruslan Pe Amanriza mulai menjadi anggota DPRD Propinsi Riau tahun 1999. Sejak saat itu komunikasi intelektual sering terjadi. Dia beri saya buku, saya pun adakalanya membawakan oleh-oleh buku untuknya . Sayang sekali buku Warisan Riau (Riau Heritage) yang dari awal beberapa kali didiskusikan dengan saya, bahkan terakhir ia menyiapkan kata sambutan saya dalam buku yang rencananya akan diluncurkan oleh Ibu Presiden, tidak sempat lagi disaksikan peluncurannya.

Apabila ada orang yang meninggal dunia, maka ingatlah yang bersangkutan tentang hal-hal yang baik saja, begitulah semestinya. Hubungan pertemanan saya dengan Ediruslan Pe Amanriza, sememangnya selalu yang baik-baik saja. Saya sangat kagum terhadap kemampuannya mengolah kata dan cerita, sehingga kisah-kisah yang memuat pesan-pesan moral dengan kompleksitas permasalahan yang kaku dan tidak menarik, seperti masalah resetlement Sakai dan penyerobotan lahan, dirangkainya menjadi sangat indah dan menarik seperti tertuang dalam romannya Panggil Aku Sakai dan Ditaklukkan Sang Sapurba. Sebagai seorang budayawan, Ediruslan Pe Amanriza sangat konsisten terhadap pandangannya. Proses pembangunan itu adalah proses budaya, tulis Ediruslan Pe Amanriza dalam buku kumpulan esainya Kita dari Pedih yang Sama. Edi betul. Pembangunan apabila tidak mengindahkan budaya akan menjadi asing, terasing, atau bahkan akan menimbulkan resistensi. Sebab pembangunan itu pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia secara lebih berkualitas. Ada nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Nilai-nilai baru ini seyogianya harus melalui proses pengenalan (sosialisasi) terlebih dahulu, dan kalau perlu disenyawakan dengan nilai-nilai lama yang berguna. Jadi tidak drastis. Dengan cara itu dapat dilihat sejauh mana sesungguhnya kemampuan masyarakat kita menyerap nilai-nilai baru yang diperlukan bagi pembangunan agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Ediruslan mengambil contoh kekeliruan menerapkan nilai-nilai baru ke tengah-tengah masyarakat tradisional. Dulu pemerintah melihat masyarakat Man yang tinggal dalam rumah tradisional sangat mengabaikan fak-tor kesehatan karena rumah tersebut tidak berjendela dan tidak berventilasi. Mereka dibangunkan rumah modern seperti di Jawa dan Sumatra. Apa yang terjadi, rumah modern yang dianggap telah memenuhi syarat kesehatan itu ditinggalkan mereka. Dan mereka kembali ke rumah lama. "Apa yang salah?" tanya Edi dalam esainya. Ternyata rumah tradisional yang menurut pemerintah tidak memenuhi syarat kesehatan, justru merupakan antisipasi alamiah penduduk asli untuk menghindarkan diri dari serangan nyamuk malaria.

Pendekatan yang keliru juga terjadi dalam memperkenalkan nilai-nilai baru pada masyarakat Suku Sakai. Mereka dibangunkan pemukiman yang lebih layak menurut perspektif orang-orang modern, sebab suku Sakai oleh bangsa yang lebih berbudaya itu disebut sebagai suku terbelakang. Terbelakang karena rendahnya peradaban. Oleh karena itu, mereka dimukimkan, dibuatkan perumahan, sebagai contoh di Kandis, Kabupaten Bengkalis, Riau. Tetapi pemukiman itu jauh dari hutan dan sungai yang sudah merupakan jiwa mereka. Akhirnya pemukiman itu juga mereka tinggalkan. Oleh karena itu, Edi bersikukuh, budaya harus menjadi dasar pembangunan, bukan sekadar aspek yang harus dibangun, karena budaya hakikatnya tidak sama dengan aspek ekonomi dan politik meskipun keduanya merupakan bagian integral dari kebudayaan.

Apa sesungguhnya "kebudayaan" yang sampai akhir hayat digeluti Edi sehingga dia mendapatkan julukan terhormat sebagai seorang budayawan? Kurang apa kepintaran Prof. Habibie, tapi dia ilmuwan dan bukan budayawan. Kurang apa hebatnya Ibu Mega, tapi ibu kita ini lebih tepat disebut politikus superulung, bukan budayawan.
Kebudayaan berasal dari kata Sanskerta "buddha-yah", bentuk jamak dari "buddhi" yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal. Tetapi ada juga pendapat lain mengenai asal kata kebudayaan, yaitu berasal dari kata majemuk "budidaya", artinya daya dari budi, kekuatan dari akal.

Menurut Prof. Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu. Tetapi sesungguhnya kebudayaan itu sendiri telah dirumuskan ke dalam lebih dari 160 definisi oleh berbagai ahlinya. Para pakar ihnu sosial lebih suka memberikan makna yang lebih luas pada konsep kebudayaan, yaitu keseluruhan permikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya dan oleh karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah suatu proses belajar. Konsep ini amat luas karena meliputi hampir seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya.

Kebudayaan bersifat abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan kata lain, dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan hidup. Kebudayaan ada dalam sebuah tulisan, dalam tutur kata, dalam perilaku. Oleh karena itu, karya tulis warga masyarakat seringkali menggambarkan kebudayaan yang hidup yang melingkupi alam pikiran pengarangnya.

Suatu sistem nilai budaya terdiri atas konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi perilaku manusia.

Budayawan adalah orang yang berkecimpung dalam kebudayaan, orang yang bertungkus lumus dalam pemeliharaan dan pengawalan ide-ide, gagasan-gagasan yang" dianggap baik oleh masyarakat dalam berbagai aspek; sosial, politik, ekonomi, hukum, kesenian, dan sebagainya. Tradisi menulis atau mengarang adalah salah satu keunggulan budaya Melayu. Dan itu telah dilakukan dengan amat baik oleh Ediruslan Pe Amanriza. Kontribusinya dalam kebudayaan tak ternilai dan itu semua menjadi amal jariah baginya. Buah karyanya akan selalu dikenang dan tak akan pernah terlupakan.



(14 - 20 Oktober 2001)


Tulisan ini sudah di baca 128 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/95-Mengenang-Ediruslan-Pe-Amanriza.html