drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Alam Terkembang Jadi Guru


Oleh : drh.chaidir, MM

"Alam terkembang jadi guru", kata sastrawan yang berasal dari Ranah Minang A.A. Navis. Ungkapannya singkat, tapi sarat makna. Kita seringkali terlalu congkak untuk mau belajar dari alam sekitar. Padahal alam sekitar banyak memberikan contoh, pelajaran dan perum-pamaan yang maknanya sangat dalam. Coba lihat perumpamaan berikut: "Ibarat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk". Sememangnya padi semakin berisi semakin merunduk, hanya padi yang hampa yang mencuat ke atas. Padi yang hampa tidak berguna. Sifat fisik padi ini kemudian diberi makna filosofis. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya, demikian makna yang terkandung.

Kayu di rimba pun dibidalkan orang tua-tua: "Kayu di rimba takkan sama tinggi. Kalau sama tinggi di mana angin akan lalu". Adanya perbedaan status sosial ekonomi, perbedaan pangkat, perbedaan ilmu, atau perbedaan-perbedaan physically, dipahami sebagai sesuatu yang lumrah, ibarat kayu di rimba yang lumrah tidak sama tinggi, namun bukan berarti saling mengalahkan. Si buta penghembus lesung, si tuli pembunyi meriam, si lumpuh pula penunjuk jalan, begitu orang bijak member! bidal terhadap kerja sama dalam kebersamaan.

Semakin tinggi sebatang pohon, semakin keras diterpa angin, begitu orang tua-tua mengingatkan anak cucunya. Kalau akarnya tidak kuat maka pohon akan roboh. Sebaliknya rumput, tidak perlu takut diterpa angin, tetapi harus rela diinjak orang. Benalu pula, berinduk semang di kayu lain, tapi lambat laun induk semang akan mati, karena makanannya diisap sangbenalu.

Masih banyak lagi hal ikhwal alam sekitar yang menyimpan falsafah. Coba lihat bagaimana orang Melayu memandang kedudukan, fungsi, dan tanggung jawab pemimpinnya dalam ungkapan berikut.

"Bagaikan kayu besar di tengah padang
Rimbun daunnya tempat berteduh
Kuat dahannya tempat bergantung
Kukuh batangnya tempat bersandar
Besar akarnya tempat bersila".


Besarnya tanggung jawab pemimpin misalnya, dalam perspektif Melayu digambarkan pula dalam link lagu Lancang Kuning. Lancang Kuning berlayar malam; haluan. menuju ke laut dalam; kalau nakhoda kuranglah paham; alamat kapal akan tenggelam.

Realitas kehidupan sehari-hari bisa bermuara pada tataran filosofis seperti kita melihat pohon besar di tengah padang yang rimbun daunnya atau Lancang Kuning yang megah itu. Kalau penalaran berhenti sampai pada kekaguman fisik, maka kita tidak akan pernah mendapatkan makna di balik peristiwa. Padahal di balik peristiwa itu seringkali tersimpan petuah-petuah yang sangat dalam maknanya bagi kehidupan.

Tanggal 9 Agustus 2001 beberapa hari lalu, masyarakat Buluh Cina di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau menggelar Pacu Sampan di Sungai Kampar. Tanggal 23 Agustus kemarin siang, masyarakat Kuantan Singingi menggelar pula Pacu Jalur legendaris di Sungai Indragiri (Sungai Kuantan), Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi.

Ketika menyaksikan babak final Pacu Sampan Buluh Cina, saya kebetulan duduk berdekatan dengan Bapak Tenas Effendy, Ketua Majelis Kerapatan Adat Propinsi Riau. Di sela-sela riuh rendah penonton yang antusias mendukung jagonya, kami terlibat percakapan serius.

"Pacu sampan ini sesungguhnya memiliki falsafah," ungkap Pak Tenas. "Sampan itu memiliki haluan dan kemudi. Ke mana arah haluan akan ditentukan oleh kemudi. Para pendayung pun harus mendayung sampannya secara serentak untuk mendapatkan akselerasi percepatan yang maksimal. Betapa pun bagus perahunya, kekar-kekar pun pendayungnya, namun bila tidak didayung dengan serentak, maka mereka akan kalah."

Apa yang dikemukakan oleh Pak Tenas menarik untuk disimak. Kerja sama yang bersinergi merupakan persyaratan mutlak bila ingin memperoleh hasil yang maksimal. Semua harus mengerahkan kemampuan, sa-ling isi mengisi dan saling tutup menutupi kelemahan yang ada: Yang ahli mengemudi ditempatkan di kemudi, pendobrak ditempatkan di haluan, dan pemompa semangat ditempatkan di tengah. Semua pendayung harus memahami misi yang diemban. Kalau kita tidak mengendalikan kemudi dengan baik dan tidak mau mendayung secara serentak, maka kita akan dikalahkan oleh alam kita sendiri, akan dikalahkan oleh lawan, walaupun sesungguhnya lawan hanya memiliki kekuatan yang minim. Kita dikalahkan bukan karena lawan memang tangguh, tetapi karena kesalahan kita sendiri yang demikian susah untuk merangkai suatu kebersamaan secara sinergik.

Saya termenung sejenak. Kita sering menyaksikan pacu jalur dan pacu sampan, tapi hampir tidak ada sesuatu yang bisa dipetik sebagai bahan perenungan, kecuali kemeriahan pesta dan kekhawatiran suatu saat kelak kita tidak lagi bisa menyaksikan pacu jalur karena tidak ada lagi kayu yang bisa dipakai untuk membuat jalur. Padahal, sesungguhnya ada sesuatu yang me-ngandung nilai sangat tinggi sebagai bahan perenungan seperti apa yang diungkapkan Pak Tenas itu.

Riau terberkati ditakdirkan memiliki empat sungai besar, yaitu Rokan, Siak, Kampar, dan Indragiri, belum terhitung wilayah lautan. Kapal, sampan, pompong, pancung, atau apa pun namanya, adalah jenis-jenis kendaraan air yang akrab dengan kehidupan masyarakat. Tetapi kita lalai berguru kepada alam sekitar. Akibatnya sungai dan lautan diposisikan tidak lebih dari sekadar kekayaan alam yang harus dieksplorasi dan dieksploitasi sampai luluh-lantak.

Pacu jalur di Teluk Kuantan sudah mentradisi bahkan sudah melegenda. Kini menyusul pula lomba pacu sampan di Buluh Cina, yang baru tiga tahun terakhir ini dikelola secara baik dan berpotensi untuk menyamai kemeriahan Pacu Jalur. Cerita-cerita di balik layar perlombaan pun hampir sama, ada upacara-upacara ritual yang inheren. Bagi saya pacu jalur atau pacu sampan, tidak banyak berbeda. Satu di Sungai Indragiri, satu di Sungai Kampar, itu saja. Kedua event ini akan memperkaya khazanah agenda tontonan dan pariwisata Riau. Tapi falsafah yang terkandung dalam pacu jalur dan pacu sampan tetap sama: haluan dan kemudi harus sebati, dayung pun harus serentak.


(26 Agustus - 1 September 2001)


Tulisan ini sudah di baca 177 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/94-Alam-Terkembang-Jadi-Guru.html