drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 1

Bulan Bersejarah


Oleh : drh.chaidir, MM

"Pelajarilah sejarah", kata pujangga Thomas Carlyle, "agar kita tidak tergelincir di hari depan".

Bulan Agustus ditakdirkan sebagai bulan yang bersejarah. Didahului oleh Singapura yang merayakan hari ulang tahunnya tanggal 9 Agustus, kemudian disusul Indonesia tanggal 17, dan ditutup oleh Malaysia pada tanggal 31. Riau ikut-ikutan menambah makna dengan merayakan hari jadinya tanggal 9 Agustus, sama Dengan hari kebangsaan Singapura. Latahkah Riau? Tentu tidak. Sebab ketika Ir. Soekarno, Presiden pertama RI menandatangani UU Darurat No, 19 Tahun 1957 di Bali, Singapura masih merupakan bagian dari Kerajaan Malaysia. Jadi Riau lebih dulu lahir, baru kemudian menyusul Singapura.

Lebih dari seabad yang lampau, seorang filsuf ketatanegaraan, Ernest Renan, dalam orasinya di depan mahasiswa Universitas Sorbonne Paris, pada 11 Maret 1882, mengatakan bahwa hakikat sebuah negara adalah semata-mata soal perasaan dan soal kehendak untuk hidup bersama karena penderitaan-penderitaan yang sama di masa lampau.
Ernest Renan saya kutip karena ungkapannya memberi kita tempat berkaca dan membaca: sudahkah bangsa kita ini umumnya, dan daerah kita ini khususnya dijalankan dengan berpegang pada amanah-amanah penderitaan bersama tersebut. Jawabannya tentu saja sudah dan belum! Tergantung bagaimana cara memandangnya. Iba-rat mendeskripsikan sebuah gelas yang terisi setengah. Sebagian orang akan mengatakan gelas itu hampir penuh, sebagian lainnya akan mengatakan gelas itu hampir kosong, padahal gelas yang dilihat adalah gelas yang sama.

Namun jika kita mau menyelami sedikit lebih dalam hakikat amanat penderitaan bersama itu pada hari ini, maka di hadapan kita akan terbentang sebuah kenyataan, bahkan berlapis-lapis kenyataan, yang akan menjelaskan kepada kita, bahwa hakikat penderitaan bersama telah berubah wujud secara signifikan menjadi penderitaan sa-tu pihak dan kemenangan pada pihak lainnya. Kalah menang menjadi kerangka acuan dan kata "kita" seakan telah kehilangan makna. Bangsa kita hari ini bagaikan sebuah lukisan besar berbagai peristiwa kepedihan. Di mana-mana ada kebangkrutan ekonomi dan moral, ada kegetiran, dan bahkan lebih tragis, sebagian orang telah melanggar fitrah kemanusiaan dengan saling membunuh sesama manusia. Ada memang sedikit harapan pencerahan, ketika nakhoda berganti di pusat kekuasaan. Namun badai belum lagi sungguh-sungguh berlalu, semua masih trauma terhadap munculnya badai susulan.

Sesungguhnya hakikat hari jadi bukanlah semata-mata peristiwa mengenang dan berbagi cerita, bukan sekadar bergembira, meniup lilin, dan menghitung usia. Tidak! Esensi peringatan hari jadi adalah sebuah media perenungan untuk membaca diri. Sebuah media untuk menilai perjalanan, apa yang telah kita lakukan selama ini, apa yang telah berhasil dan apa pula yang kita masih gagal mencapainya. Peringatan hari jadi memang tidaklah sekadar mengenang sesuatu, tetapi kita ingin memetik lebih dari itu, belajar dari perjuangan-perjuangan masa lampau. Kita ibarat berhenti di sebuah terminal. Panjang jalan yang sudah dilalui dan penuh lika-liku, lebih panjang lagi jalan yang akan ditempuh yang kita belum tahu persis lika-likunya. Sejarah perjuangan masa lampau telah mengajarkan kita banyak hal, dan sejarah masa lampau juga mengamanahkan banyak hal kepada kita untuk diperjuangkan pada hari ini guna mengarungi masa depan.

Sejujurnya patut dicatat, bahwa sampai hari ini telah banyak hal yang dilakukan. Tetapi juga sangat manusiawi untuk menyadari bahwa sampai hari ini pun kita masih saja dikalahkan oleh suatu sistem, dan tak jarang pula dikalahkan oleh sebuah konspirasi yang menyesakkan. Realitas menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Riau masih berada dalam kondisi kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, keterbelakangan, dan berbagai kelemahan lainnya.

Riau sebagai kumpulan manusia dan harapan, dapat dikatakan berada dalarn posisi dikalahkan. Sejak Riau digabungkan dengan Indonesia, kepada kita hanya dipersembahkan kegetiran dan cerita panjang tentang kekalahan. Ironisnya kondisi itu terjadi justru setelah kita memberikan hal terbaik yang kita miliki kepada bangsa ini. Dalam kasus CPP Block misalnya, kita melihat bagaimana kita demikian sulit mendapatkan sebagian kecil dari tanah kita sendiri, setetes dari minyak kita sendiri. Padahal dulu Sultan Syarif Qasyim II menyerahkannya secara tulus kepada republik ini dengan satu message untuk menyelamatkan dan menyejahterakan bangsa Indonesia. Walaupun sudah pasti Sultan Syarif Qasyim menyerahkan tanpa reserve, tapi tidakkah negeri asalnya dapat menggunakannya barang sedikit untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat setempat?

Tidak ada pilihan lain. Kita semua harus bergandeng tangan menyatukan gerak langkah, saling mendukung melalui bidang dan keahlian masing-masing. Jika tidak, kita akan terus-menerus menelan kekalahan.

Mari kita bangun Riau dengan kesepakatan yang kokoh dan memuaskan. Kita harus meninggalkan warisan yang baik bagi masa depan, agar hari ini tidak dicatat sebagai sejarah hitam oleh generasi mendatang. Jika kita mau berbuat, akan selalu ada jalan. Jika kita saling mendukung, maka akan ada kemenangan. Kita harus selalu duduk semeja untuk membicarakan Riau yang besar dan kaya. Itu lebih baik dan lebih bermakna ketim-bang bertelagah sesama sendiri. Ada sekian juta orang Riau yang akan menerima akibat dari pertelagahan, dan sebaliknya jumlah yang sama akan menikmati sesuatu yang lebih baik, jika Riau kita bangun dengan kebersamaan.
Mari kita mengaca pada sejarah. Dirgahayu Indonesia, Dirgahayu Riau.



(20 - 27 Agustus 2001)


Tulisan ini sudah di baca 155 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/93-Bulan-Bersejarah.html