drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 0

Prakata Penulis


Oleh : drh.chaidir, MM

"Minda" dalam idiom Melayu Riau bermakna .jendela, tapi bisa juga berarti frame (bingkai). Ketika saya diminta untuk mengisi halaman "Minda Kita" sekali seminggu oleh Pemimpin Redaksi Tabloid Mentari yang terbit di Pekanbaru, saya tidak menolak, walaupun untuk itu saya pasti akan terikat dan kalang kabut. Saya akan kesulitan mengatur waktu. karena dalam kapasitas saya sebagai Ketua DPRD Propinsi Riau, agenda kegiatan saya sangatlah padat. Tetapi ini adalah sebuah tantangan intelektual yang selayaknya memang harus direspon. Apalagi saya diberi kebebasan untuk menulis dan berekspresi tentang apa saja yang menurut nilai-nilai kewajaran dan estetika memang pantas untuk diteropong dari balik jendela atau diberi bingkai.

Ada dua aspek yang serta merta terpikirkan oleh saya. Pertama, saya akan dapat mensosialisasikan pemikiran-pemikiran yang pantas dikedepankan. Kedua, saya terpaksa harus secara terus-menerus menggali berbagai sumber ilmu pengetahuan. Dan itu, walaupun tak seberapa, tetap memberikan kontribusi untuk mengembangkan tradisi keilmuan dalam masyarakat yang ingin kita tegakkan. Mengedepankan rasio, menjunjung tinggi supremasi hukum dan keterbukaan, serta memperhatikan etika moral adalah watak intelektual yang harus dipelihara. Pernyataan-pernyataan yang mengindikasikan bahwa kita pasti benar dan orang lain selalu salah, bukan merupakan cermin dari masyarakat yang berbasis keilmuan.

Menyingau dari balik jendela bukanlah pekerjaan yang sulit, tetapi membuat narasi dari fenomena yang terjadi di dunia luar, mendeskripsikan pergerakan-pergerakan dinamika masyarakat yang sedang dilanda panca-roba, menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain, mencari sebab dan akibat sebuah peristiwa, bukanlah pekerjaan yang sederhana. Apatah lagi bila peristiwa demi peristiwa itu hendak dicarikan rujukan simpulnya dalam buku-buku teks. Hukum sebab akibat atau kausalitas, menurut filsuf Immanuel Kant, hanyalah salah satu cara yang kita gunakan untuk memahami du-nia, masih banyak segi lain yang perlu dipertimbangkan.

Saya memang selalu terusik oleh lingkungan yang seringkali memberikan cermin tempat kita berkaca. Peristiwa-peristiwa yang terjadi seringkali membangkitkan kesadaran-kesadaran dan renungan sederhana." Alam terkembang jadi guru," kata sastrawan A. A. Navis. Ungkapannya singkat, tapi sarat makna. Kita seringkali congkak untuk mau belajar dari alam sekitar. Padahal alam sekitar banyak sekali memberikan contoh, pelajaran dan perumpamaan yang maknanya sangat dalam. Interaksi saya dengan lingkungan masyarakat seringkali merupakan awal dari sebuah proses kreatif untuk menulis sebuah esai.

Suatu ketika, pembimbing haji kelompok saya menjelaskan peristiwa Perang Uhud saat kami melakukan ziarah ke lembah Uhud. Dalam perang tersebut pasukan Nabi Muhammad Saw. yang semula menang, akhirnya kalah dari pasukan Quraisy yang datang dari Makkah. Penyebabnya hanya satu, yakni nafsu tak terkendali ingin menguasai harta benda. Saat itu juga muncul dalam pikiran saya bahwa peristiwa itu kontekstual dengan perebutan pengelolaan sumber daya alam di Riau, perebutan antarsesama. Sekembalinya ke Tanah Air saya menulis "Di Balik Perang Uhud".

Salah satu kelemahan esai yang mengangkat isu-isu kontemporer atau isu aktual adalah cepat basi. Hal ini disebabkan karena dinamika yang terjadi di tengah masyarakat demikian tingginya, layaknya revolusi teknologi informatika yang sedang melanda dunia. Perubahan demi perubahan demikian cepat terjadi. Kemarin misalnya, kita masih menyaksikan dan menikmati watak Gus Dur ber-main di panggung, hari ini sudah ganti dengan Megawatt Soekarno Putri. Kemarin sudah ada pawai perdamaian di Maluku dan kita sudah siap-siap membakar semua kliping koran masa lalu yang kelam, tapi hari ini keke-rasan dan pembunuhan kembali terjadi.

Kesebelasan PSPS Pekanbaru Riau misalnya, yang bertabur bintang pemain nasional dan juga bertabur uang, telah membuat saya (dan mungkin juga banyak orang kecele. PSPS begitu diyakini akan menjadi juara atau paling tidak masuk final, tahunya malah keok. Masih untung tidak degradasi. Sampai di sini kita bingung membuat catatan, adakah uang tidak berpengaruh pada prestasi? Ataukah kita tidak siap dan salah tingkah menjadi orang kaya?

Pengalaman adalah sumber pengetahuan, kata orang bijak. Kita berbicara tentang banyak agenda sekaligus yang menuntut penyelesaian instan secara simultan: demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas, tetapi kita belum menemukan format pendekatan yang pas. Kelompok yang tidak sabar atau kelompok oportunis, cenderung mencari jalan pintas, bahkan tidak segan-segan mengusung kepentingan rakyat dengan melakukan kebohongan-kebohongan.

Problematika itulah yang secara sepatah-sepatah saya tinjau dari "jendela" saya. Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah catatan-catatan lepas yang saya tulis setiap minggu di Tabloid Mentari. Terus terang saya agak kesulitan mengelompokkannya. Hal ini disebabkan karena tema yang saya angkat sebagai substansi tulisan sangat bervariasi. Saya tak kuasa membendung panggilan pengembaraan pemikiran menyaksikan perkembangan yang terjadi di sekitar. Saya selalu merenung tentang makna di balik peristiwa dan itu harus saya ungkapkan dalam bentuk tulisan, yang sesungguhnya pada awalnya tidak direncanakan untuk dibukukan. Judul: "Panggil Aku Osama" adalah judul alternatif yang diusulkan kawan-kawan.

Untuk sekadar memudahkan pembaca, kumpulan tulisan. ini saya kelompokkan ke dalam lima kelompok yang sesungguhnya tidak terlalu spesifik dapat dibedakan. Kelompok pertama Alam Terkembang Jadi Guru. Bagian ini memuat narasi saya terhadap lingkungan masyarakat dan perilakunya. Ada hal-hal sederhana yang layak untuk direnung, ada pula segi-segi yang harus dikritisi atau malah diberi bingkai.

Beberapa catatan aspiratif dimasukkan ke dalam kelompok kedua. Saya mencoba mengemas suara-suara masyarakat yang menarik untuk diungkapkan. Di sana ada harapan tidak hanya kepada penyelenggara pemerintahan, tapi juga kepada sesama anggota masyarakat itu sendiri. Ini perlu untuk diperhatikan, sebab pemerintahan tidak berdiri sendiri. Peranan masyarakat juga ikut mem-berikan kontribusi terhadap apa yang terjadi. Sebab sesungguhnya, situasi sekarang adalah situasi yang baru dalam format yang baru. Semua sedang belajar dan mencari posisi yang pas agar tidak terasa gamang.

Kumpulan tulisan yang saya masukkan ke dalam ke-lompok ketiga agaknya tidak persis sebagai suatu perbandingan kendati diberi judul Sebuah Perbandingan. Tetapi bagaimanapun pengalaman perjalanan ke negeri orang sedikit banyak tetap membekas yang adakalanya pantas sebagai bahan renungan. Mencontoh yang baik tak ada salahnya.

Dalam kelompok keempat saya mencoba meneropong Beberapa Tokoh dari sudut yang saya anggap sesuai dengan rubrik yang diberikan kepada saya. Tentu, ha-laman ini bukanlah biografi, melainkan sebuah catatan humanis dari sedikit komentar saya terhadap ucapan-ucapan, pemikiran dan keberadaan seorang tokoh. Ini adalah catatan yang dibuang sayang. Tokoh yang saya tulis bukanlah mewakili komunitas tertentu, melainkan demikiar. saja ir.uncul dalatn gagasan saya. Agaknya ini sebuah proses kreatif. Tokoh seperti Jefri Noer, Bupati Kabupaten Kampar, Riau misalnya, mana dikenal di Papua atau di Sulawesi, tetapi proses terpHihnya Jefri sebagai seorang bupati memberikan catatan khusus yang layak dicermati oleh semua orang.

Kelompok kelima, Membangun Kehormatan. Memba-ngun kehormatan dan mempertahankan keterhormatan adalah sesuatu yang sangat asasi. Bangunan itu bernama harga diri, kemuliaan, rasa bermartabat, yang oleh orang Riau sering disebut marwah. Sebuah perjuangan yang dimulai dengan iktikad baik, tulus ikhlas, tak kira berhasil atau tidak, adalah sebuah marwah. Perasaan itu yang dibingkai dengan etika moral keislaman, saya coba rajut dalam beberapa tulisan.

Dengan diterbitkannya buku ini, saya harus berterima kasih kepada kawan-kawan di Tabloid Mentari; Affan Bey, Irwan, Zufra, Fendri, Erison, dan kawan-kawan. Acapkali dengan sabar mereka terpaksa menunggu saya mengetik menyelesaikan tulisan untuk "Minda Kita", atau bahkan sekali-sekali Mentari terlambat terbit karena saya belum sempat bermenung di depan komputer. Kening saya selalu berkerut membaca SMS Zufra: "Bang, jangan lupa Minda Kita minggu ini, besok dead-line". Tapi saya sejujurnya menyukai itu, saya merasa menjadi orang penting.

Ketulusan dan pengertian orang yang paling dekat dengan saya, istri saya Hj. Yulianti, S.H. dan anak-anak, Rimba, Lingga, Hanna dan si bungsu Chaleed, yang membiarkan saya "tenggelam" di ruang kerja, sangat menge-sankan. Kadang saya merasa berdosa pada kalian semua karena telah menyita waktu, ketika semustinya kita ber-cengkerama. Mudah-mudahan buku ini memberikan ke-banggaan bagi kalian.

Kesediaan Bang Ashadi Siregar untuk memberikan kata pengantar sangat membanggakan. Kontribusi dosen Fisipol UGM Yogyakarta, yang Juga Dfrektur LP3Y yang prestisius itu, berikut nama besarnya sebagai novelis dengan karyanya yang sangat populer Cintaku Di Kampus Biru dan Kugapai Cintamu, sungguh tak ternilai harganya. Untuk itu saya hanya bisa menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih.

Kepada sahabat saya H. Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M. dan istrinya, Ir. Hj. Tuti Sumarningsih, S.T., MT., pimpinan Penerbit Adicita Karya Nusa Yogyakarta, saya sangat tersanjung dengan komentar Anda berdua tentang naskah saya. Saya kira itu berlebihan. Saya tidak tahu apa yang harus saya berikan sebagai tanda terima kasih untuk kesediaan Anda mengoreksi secara teliti seluruh naskah saya. Saya tahu Anda berdua beserta seluruh staf telah bertungkus lumus berminggu-minggu menyelesaikan penerbitan buku ini. Saya berhutang budi pada Anda semua.

Terakhir, semoga buku yang tidak seberapa ini bisa memperkaya khazanah wacana tentang perjuangan kita mewujudkan keterhormatan dan kehidupan yang lebih bermartabat.

Pekanbaru, 29 Mei 2002

drh. Chaidir, M.M.


Tulisan ini sudah di baca 109 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/92-Prakata-Penulis.html