drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 0

Pengantar Penerbit


Oleh : Mahyudin Al Mudra, S.H., M.M.

Apalah tanda batang putat Batang putat bersegi buahnya Apalah tanda orang beradat Orang beradat tinggi marwahnya *)

Marwah dan keterhormatan itulah yang merupakan isu besar dan menjadi komitmen drh. Chaidir M.M. dalam Panggil Aku Osama, buku kedua dari kumpulan catatan akhir pekannya yang pernah dimuat di tabloid Mentari, Pekanbaru. Sebagamana buku pertamanya, Berhutang Pada Rakyat, buku kedua ini merupakan mozaic dari sekian banyak snapshot yang dilakukan penulis atas berbagai peristiwa dan fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat Riau yang sedang mengalami perubahan-perubahan besar di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dari berbagai topik yang dikupas tuntas oleh penulis, ada satu benang merah yang demikian kuat kita rasakan menjadi spirit tulisan-tulisan tersebut, yaitu marwah bangsa dan keterhormatan kemanusiaan.

Sebagaimana pada buku Berhutang Pada Rakyat, pada Panggil Aku Osama ini pembaca dimanjakan dengan judul-judul tulisan yang kuat dan menarik, serta ulasan yang kaya dengan informasi. Namun sedikit berbeda dengan buku pertama, pada buku kedua ini gaya bertutur penulis terasa lebih serius. Perkembangan situasi yang semakin berat tampaknya membuat penulis tidak banyak lagi memiliki kesempatan untuk bercanda-ria. Bangsa kita memang sedang menghadapi persoalan yang sangat serius, dan sebagai salah seorang pemangku negeri yang masih memiliki hati nurani, penulis tampaknya benar-benar risau dengan situasi ini.

Bagi sebagian politikus, lip service adalah hal yang jamak mereka lakukan, baik kepada konstituen maupun kepada lawan politik. Dan penulis adalah seorang tokoh partai politik, tercermin dari kepercayaan partai kepadanya untuk menduduki kursi legislatif selama beberapa periode. Boleh jadi semua yang ditulisnya adalah "pemerah bibir" dalam rangka image building. Tetapi sangat sulit membayangkan seseorang dapat menulis sekian banyak tumpahan perasaan dan pikiran secara demikian intens, di mana tulisan-tulisan itu selalu konsisten pada suatu nilai-nilai tertentu, jika semuanya hanya lip service. Untuk ini, barangkali tak terlalu salah jika dikatakan penulis "berhutang moral" kepada pembaca atas tulisan-tulisannya.

Tulisan-tulisan Chaidir merupakan sebuah kejujuran tentang fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Sebuah kejujuran yang - meskipun getir - harus kita terima, karena merupakan potret sesungguhnya tentang diri kita. Tulisan-tulisan ini mengajak kita untuk sama-sama berkaca di depan cermin besar (tetapi buram), mempersaksikan wajah kita yang hitam, bopeng, kejam, dan siap memangsa sesama.

Kata "kita" telah kehilangan ikatan dan makna intrinsiknya, menjadi "aku" dan "kau" yang berhadapan secara antagonistis. Selain ta'rifnya telah kabur, kohesivitas "kita" juga semakin mengendur. Hakikat penderitaan bersama, senasib sepenanggungan, sebiduk sama berlayar, berkayuh sama ke hilir, hanya tinggal kumpulan kata mutiara yang entah ke mana rimbanya. Yang ada sekarang adalah saling memusnahkan, saling menihilkan. Dapat diumpamakan, situasi masyarakat kita sekarang ibarat orang memanjat pinang; yang satu naik, yang lain menariknya ke bawah. Jika sudah demikian, kita akan hancur dan pihak lain yang akan menuai keuntungan. Ibarat kata pepatah Melayu, "Kapal pecah hiu yang kenyang"

Chaidir menawarkan konsep-konsep untuk menghadapi situasi pancaroba yang sekarang sedang melanda bangsa kita. Meskipun tidak semuanya baru - karena sebagian merupakan nilai-nilai dan ajaran moral tempatan yang sudah banyak dikenal, tetapi sayangnya telah ba-nyak dilupakan - konsep-konsep tersebut sangat relevan dan menjanjikan penyelesaian yang dapat menyelamatkan semua pihak yang sedang bertikai.

Dengan kekuatan tulisannya, Chaidir mengimbau, mengajak, dan mendesak semua pihak untuk menyelamatkan bangsa ini. Jika imbauan dan ajakan itu dengan konsisten dilaksanakan oleh dirinya sendiri seiaku ketua DPRD Propinsi Riau, rekan sejawatnya yang duduk di lembaga legislatif, para eksekutif, seluruh pemangku negeri serta pemegang kekuasaan yang sedang berdaulat, maka keruntuhan Indonesia dapat dicegah dan kejayaan bangsa akan dapat ditegakkan.

Pada era reformasi dan kemudian era pelaksanaan otonomi daerah yang sekarang ini membuat semua orang gamang, tatkala Indonesia hampir-hampir menjadi terra incognita, buku yang berisi ajakan untuk bergandeng tangan ini terasa menjadi sesuatu yang sangat berharga; ibarat kompas yang diberikan kepada kafilah yang tersesat di tengah badai gurun.

Jika banyak buku dapat mengubah dunia, harapan kami semoga buku ini - dan buku-buku lainnya yang memiliki spirit sama - dapat menyelamatkan Indonesia yang kita cintai ini dari kehancuran.

Berbuah macang dimakan ungka
Dilanda angin gugur sendiri
Salah cencang tangan terluka
Salah memimpin hancur negeri *)

Apalah tanda padi berbuah
Lebatlah tangkai daunnya subur
Apalah tanda negeri bertuah
Rakyatnya damai hidupnya makmur *)


Akhirul kata, semoga buku ini bisa menghadirkan sesuatu yang baru ke hadapan pembaca. Harapan yang lebih besar, semoga perenungan-perenungan "budak Melayu" ini merupakan sumbangan pemikiran yang cukup berarti bagi kehidupan berbangsa dan bernegara kita di masa mendatang, yang tengah menghadapi tantangan demikian besar.

Kepada penulis yang telah mempercayakan pengolahan dan penerbitan naskah berharga ini kepada kami, Penerbit Adicita Karya Nusa menyampaikan terima kasih takt erperi : jika kecil tetapak tangan, nyirupun kami tadahkan. Kami bangga mempersembahkan buku ini kepada pembaca. Tahniah.



Jogjakarta, 29 Mei 2002



Mahyudin Al Mudra, S.H.,M.M.



*) Diambil dari "Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu" oleh Tenas Effendy"


Tulisan ini sudah di baca 151 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/90-Pengantar-Penerbit.html