drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 5

Udang di Balik Batu


Oleh : drh.chaidir, MM

Forum Paris Club III yang berlangsung di Paris, Prancis tanggal 11 - 12 April 2002 telah berakhir. Yang tinggal kini adalah wacana dan perenungan-perenungan yang bertalian dengan peristiwa tersebut, dan itu tentu saja kontroversial. Ada yang gembira, ada yang acuh, ada pula yang prihatin dengan amat sangat. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Paris memang sangat jauh dari Jakarta, tetapi hasil dari perdebatan dan pembahasan dot yang terjadi di kota itu sangat mempengaruhi masa depan Indonesia.

Ada apa dengan Forum Paris Club? Sederhananya kira-kira begini. Negara-negara kaya yang menjadi kreditur (yang memberikan pinjaman), membuat suatu forum pertemuan, dan dalam forum pertemuan tersebut Indonesia sebagai debitur (pengutang atau peminjam) akan "diadili". Indonesia harus mempertanggungjawabkan sebagian dari utang luar negerinya yang jatuh tempo pada tahun ini, yakni sejumlah 5,5 miliar dolar Amerika Serikat dari total utang sejumlah 67 miliar dolar AS. Jumlah utang Indonesia itu kira-kira sama dengan 670 triliun rupiah (kalau kita anggap nilai tukar Rp 10.000,- per dolar AS). Dan jumlah yang harus segera dilunasi itu kira-kira setara dengan Rp 55 triliun. Perihal jumlah utang luar negeri Indonesia ini pun bervariasi angkanya, ada yang menyebut 67 miliar dolar AS, ada pula yang menyebut angka 86 miliar dolar AS (atau kira-kira 860 triliun rupiah). Kalau kita minta informasi kepada Prof. Tabrani Rab, Anggota DPOD kita, angka utang tersebut lebih fantastik lagi.

Sudah bisa dipastikan, dalam pertemuan Paris Club tersebut, sang kreditur akan berdalih atau pura-pura berdalih dengan mengajukan bermacam-macam pertanyaan kepada sang debitur yang berkeringat dingin. Saudara belanjakan ke mana uang yang saudara pinjam dan bagaimana caranya. Saudara mestinya tidak usah pakai baju baru, tapi kenapa beli baju baru? Uang dari mana yang Anda pakai untuk pembeli baju baru tersebut? Kenapa Anda beri juga subsidi BBM sehingga BBM di Indonesia termurah harganya di dunia? Kenapa Anda tidak jual semua BUMN termasuk yang masih sehat? Lantas mengenai defisit anggaran, dari mana akan Anda tutup? Tahun ini utang Anda sudah jatuh tempo sebanyak 5,5 miliar dolar AS, bagaimana cara Anda membayarnya? Dan segudang pertanyaan lain yang harus diberikan jawaban secara komplet dan memuaskan

Oleh karena itu, Tim Ekonomi Indonesia yang hadir dalam forum tersebnt sampai harus melakukan simulasi di Jakarta sebelum mereka berangkat ke Paris. Laksana mahasiswa yang akan maju ujian skripsi, Tim Ekonomi Indonesia ini konon terlebih dahulu berlatih menjawab soal-soal yang mungkin akan diajukan oleh para kreditur dalam Forum Paris Club III. Pasti ada juga upaya Tim Ekonomi ini untuk mencari kisi-kisi soal supaya bisa mempersiapkan diri menjawab pertanyaan dengan mulus.
Hasilnya? Tim Ekonomi Indonesia lulus dengan predikat sangat memuaskan. Indonesia yang seharusnya sudah melunasi utangnya sejumlah 5,5 miliar dolar AS tahun 2002 - 2003, diberi masa tenggang 10 tahun, kemudian 10 tahun berikutnya harus lunas. Dengan demikian utang Indonesia dijadwal ulang dengan memberikan masa pelunasan total selama 20 tahun, suatu keputusan yang cukup melegakan.

Walaupun penjadwalan kembali (rescheduling) utang itu bermakna pemerintah yang sekarang akan mewariskan utang sejumlah 5,5 miliar dolar AS kepada anak-cucu kita nanti, tapi jelas ini memberikan Indonesia kesempatan bernapas. Dan lebih dari itu terbuka pula kesempatan untuk melakukan konsolidasi keuangan negara, sebagaimana diucapkan oleh Wapres Hamzah Haz. Tetapi rescheduling itu tentu tidak gratis. Yang tidak gratis itu pun pilihannya sudah tinggal sedikit, tidak lagi bisa memilih secara leluasa.

Negara-negara kreditur yang tergabung dalam Paris Club ini bukanlah kumpulan pekerja sosial panti jompo yang memiliki sifat penyayang, mereka adalah bankir-bankir kelas kakap dan kapitalis. Pekerjaan-pekerjaan sosial, bukan urusan mereka. Cerita itu hanya ada dalam film-film picisan, selebihnya tidak. Semua harus bisa dikonversikan ke dalam modal uang dan bisa dihitung untung ruginya secara eksak. Jangankan rugi, impas saja mereka tidak akan mau. Oleh karenanya kalau mereka mengiakan Indonesia yang meminta utangnya dijadwal ulang, itu pasti ada udang di balik batu.

Konsesi yang mereka minta ada yang diucapkan dan ada pula yang sengaja disimpan. Yang terucap misalnya adalah keharusan melakukan liberalisasi perdagangan, menghapuskan segala bentuk subsidi, termasuk subsidi BBM, keharusan privatisasi BUMN, harus ini, harus itu dan sebagainya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Tim Ekonomi kita mengambil posisi yang pas dalam forum Paris Club III itu, menjawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan para kreditur lalu kemudian mengangguk lemah ketika disodorkan sederetan keharusan-keharusan. IMF pasti membela Indonesia dengan memuji Indonesia sebagai democratic country yang baru, simpati perlu diberikan kepada Indonesia, bahkan juga aplaus. Tetapi IMF yang mengelola dana pinjaman itu pun ada udang di balik batu juga.

Negeri sebesar dan selugu Indonesia terlalu besar dan terlalu lugu untuk diabaikan. Inilah agaknya yang tidak diucapkan oleh negara-negara kreditur dan IMF. Dengan penduduk 220 juta jiwa dan potensi konflik yang sangat besar (baca: mudah diadu domba), Indonesia adalah pasar yang cukup menggiurkan untuk segala macam bentuk produk. Tranparansi dan demokrasi yang ditandai dengan perbedaan pendapat yang tajam dan saling mele-mahkan, agaknya sangat disukai oleh negara-negara kreditur, sebab itu bermakna tingkat ketergantungan akan semakin tinggi. Negera-negara kreditur itu sesungguhnya tidak kehilangan apa-apa bila Indonesia tidak mampu membayar utangnya, sebab mereka akan mendapatkan bunga pinjaman sepanjang masa. Sebaliknya akan terjadi bila Indonesia semakin solid dan kokoh.

Alasan bahwa Indonesia adaiah sebuah negeri yang besar dengan potensi pasar yang besar agaknya adalah alasan mengapa rescheduling itu diperoleh. Bila Indonesia merupakan negeri kecil, lemah, dan miskin sumber daya alam, tentu tidak akan ada kreditur yang mau ambil pusing.

Apa yang kita khawatirkan sejak lama semakin menyadarkan kita bahwa penjajahan fisik memang tidak akan pernah terjadi lagi di abad modern ini, tetapi penjajahan ekonomi sekarang sedang kita alami. Messages di sebalik Forum Paris Club III mengingatkan, kita agaknya semakin jauh dari kemandirian sebagai sebuah bangsa yang berdaulat.


(21 - 27 April 2002)



Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/128-Udang-di-Balik-Batu.html