drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 5

Pesan dari Ramallah


Oleh : drh.chaidir, MM

"Aku tidak akan menyerah kepada Israel, tapi akan berjihad sampai mati seperti para pendahuluku, yang juga mati dalam jihad." Begitu bunyi pesan Yasser Arafat kepada dunia. Pesan itu disampaikannya dari rumahnya yang dibombardir tentara Israel, setelah Israel akhirnya mengumumkan Arafat sebagai musuh.

Palestina memang melawan dengan segenap kekuatan yang ada, baik dengan kekuatan senjata, melalui jalur intifadah, maupun melalui istishadi (orang-orang yang memilih kematian sebagai alat perjuangan atau yang lebih dikenal sebagai pengebom bunuh diri). Tapi itu tidak berarti banyak, karena Israel memiliki kekuatan militer yang lebih besar, dan lebih celaka lagi, kekuatan Israel yang besar itu mendapat dukungan pula lewat kebijakan politik Amerika Serikat yang tidak jelas.
Pertempuran yang tidak seimbang antara Israel dan Palestina ini memakan korban yang besar dari kalangan Palestina dan Islam. Sejumlah korban berjatuhan di Ramallah, sementara PBB bungkam, dan Amerika justru menuding bahwa teroris Palestinalah yang memicu semua ini. Sungguh suatu sikap yang tidak adil dan menunjukkan arogansi yang besar. Sikap Amerika ini bukan lagi suatu ambivalensi, tapi justru merupakan sebuah pemihakan yang tegas terhadap Israel, dan sekaligus membenarkan asumsi bahwa pasca perang dingin, Amerika memang menjadikan Islam sebagai musuh.

Serangan Israel yang langsung mengarah pada simbol Palestine, Yasser Arafat, ini, dengan segera mendapat respon dunia internasional. Sejumlah negara segera menyampaikan kecaman dan kutukan terhadap serangan yang dilakukan. Tidak hanya masyarakat di negara-ne-gara Islam, tapi dukungan terhadap Palestine juga datang dari kelompok-kelompok masyarakat Eropa yang membenci peperangan, seperti demonstrasi yang dilakukan di Belgia, dan bahkan di Amerika sendiri.

Di Indonesia, dukungan untuk Palestina juga mengalir. Pemerintah Indonesia secara resmi, juga telah mengecam dan mengutuk serangan Israel tersebut. Bersamaan dengan itu, di kalangan masyarakat, gelombang-gelom-bang demonstrasi terjadi hampir setiap hari, yang pada iritirtya mengutuk kebrutalar. serangan Israel dar. ketidak jelasan sikap politik Amerika. Tidak hanya itu, seruan jihad pun dikumandangkan. Di beberapa tempat dibuka posko-posko pendaftaran mujahid yang bersedia diberangkatkan.

Sebagai orang Islam kita mendukung Palestina, dan sekaligus mendukung semangat dan gerakan jihad yang dilakukan. Dukungan kita kepada Palestina, di samping atas dasar semangat keIslaman, juga karena Palestina sedang berada dalam posisi teraniaya secara kemanusiaan, dan jihad untuk melawan orang-orang yang merendahkan martabat kemanusiaan itu hukumnya wajib.

Sikap Israel itu sudah waktunya diberikan perlawanan nyata. Keberingasannya sudah terasa begitu merendahkan, yang ironisnya hal itu justru terjadi di jantung Islam itu sendiri. Jika kita (dunia Islam) tidak memberikan respon yang lebih konkret, maka Israel akan semakin semena-mena. Atas dasar itu, kita memang harus mendukung gerakan jihad yang dikumandangkan di beberapa negara Islam, juga seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pembela Islam di tanah air.

Kita tidak mungkin lagi meletakkan harapan pada kebijakan internasional Amerika maupun PBB, tapi harus lebih mengarahkan perlawanan dengan membangkitkan solidaritas Islam. Jika kita runut, pertikaian Palestina dan Israel bukanlah suatu hal yang baru, tapi sebaliknya sudah berlangsung sangat lama, khususnya ketika klaim atas tanah suci Palestina tidak bisa dirujuk kepada salah satu agama, baik itu Yahudi, Nasrani, maupun Islam. Dan sepanjang pertikaian yang berlangsung lama tersebut, Palestina, selalu berada pada pihak yang dirugikan.

Lebih dari itu, kita secara jelas dapat melihat, bahwa meski perjanjian damai selalu dilaksanakan, tapi Israel sering tampil sebagai kekuatan yang melanggar perjanjian yang disepakati. Hal ini dapat kita lihat sejak perjanjian Camp David sampai sekarang, yang kesemuanya dilanggar oleh Israel dengan alasan bahwa Palestina men-sponsori gerakan teroris. Padahal kalau kita lihat, apa yang sedang dilakukan Israel terhadap Palestina adalah sebuah gerakan terorisme negara.

Penyerangan Ramallah ini adalah sebuah contoh, bagaimana Israel sebenarnya tidak mempunyai iktikad damai, sebab penyerangan mereka lakukan justru bersamaan dengan sedang berlangsungnya pembicaraan damai Arab-Israel di Beirut (26 - 28 Maret 2002). Dari fakta ini, umat Islam dan juga negara-negara Islam sebetulnya tidak perlu melakukan perundingan apa pun, tapi meng-konkretkan perlawanan secara nyata.

Jihad mungkin merupakan jalan terbaik, terutama setelah kita memang telah menempuh upaya damai yang lebih lembut, namun tak membawa hasil, sementara korban di pihak Islam terus berjatuhan. Jihad. Ya, sekali lagi Jihad. Di mata saya, pesan jihad yang bernuansa getir, yang diucapkan oleh Yasser Arafat dari Ramallah, adalah undangan bag! semua umat Islam agar membuka mata dan sekaligus melakukan sesuatu untuk martabat Islam itu sendiri.

Jihad juga harus menjadi jawaban, karena serangan Israel tidak hanya menjelaskan makna persengketaan kedua negara, tapi lebih dari itu, penyerangan tersebut juga memberi arti bahwa Islam dianggap sebagai sesuatu yang lemah.

Serangan Israel ini seharusnya juga menjadi sebuah peringatan penting bagi dunia Islam dan negara-negara Arab, bahwa Islam harus memakai cara yang keras untuk mengingatkan dan menghadapi Israel. Oleh itu, gerakan jihad ini merupakan suatu gerakan yang harus didukung bersama oleh orang Islam dengan cara dan kemampuannya masing-masing.

Ramallah telah memberikan kita pesan keislaman dan pesan kemanusiaan, bahwa penindasan terhadap Islam sedang berlangsung. Jika kita tak mempedulikan ini, maka sungguh kita membiarkan diri dizalimi.


(14 - 20 April 2002)


Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/127-Pesan-dari-Ramallah.html