drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 5

Di Balik Perang Uhud


Oleh : drh.chaidir, MM

Pernah dengar Perang Uhud? Perang Uhud adalah perang yang terjadi antara pasukan Quraisy Makkah melawan pasukan Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabatnya yang bermukim di Madinah. Karena perang itu terjadi di Bukit Uhud atau Jabal Uhud, di pinggir kota Madinah, maka perang itu dikenal sebagai Perang Uhud.

Perang ini pada awalnya diungguli oleh pasukan Nabi Muhammad Saw. yang menvebabkan pasukan Quraisy terdesak dan terpaksa mundur dengan meninggalkan harta benda, perlengkapan perang, makanan, dan sebagainya. Pasukan Nabi yang semula mengambil posisi strategis di Bukit Uhud, tergiur dan turun ke Lembah Uhud berebut harta benda tersebut. Melihat keadaan ini, pasukan Quraisy berbalik dan merebut posisi strategis Bukit Uhud dan menghujani pasukan Nabi dengan anak-anak panah yang mematikan. Pasukan Nabi kocar-kacir, korban berjatuhan di pihak Nabi. Di Perang Uhud inilah pasukan Nabi meng-alami kekalahan teruk untuk pertama kalinya.

Setelah pasukan Quraisy meninggalkan medan Uhud dengan penuh kemenangan, Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya kembali ke Lembah Uhud untuk mengambil mayat-mayat kaum Muslimin untuk dikuburkan. Paman Nabi, yang sangat dicintainya, Hamzah bin Abdul Muthalib juga ikut tewas dalam perang ini. Nabi sangat terpukul. "Ini sebuah malapetaka", ujar Nabi Muhammad Saw. kepada para sahabatnya.

Maka sampai sekarang, umumnya jemaah haji Indonesia selalu melakukan ziarah ke Jabal Uhud ini untuk mengenang perjuangan Nabi, berdoa untuk beliau dan sahabat-sahabatnya, sambil memaknai kekalahan Nabi dalam perang tersebut.

Nafsu untuk menguasai harta benda secara tidak terkendali ternyata menimbulkan malapetaka. Ini sebuah message (pesan) yang sangat jelas dan universal dari Bukit Uhud. Oleh karena itu, walaupun Riau berada ribuan mil dari Bukit Uhud, pesan itu tetap relevan dan kontekstual. Apalagi kini di era otonomi, daerah berpeluang untuk menarik manfaat yang lebih besar dari kekayaan sumber daya alamnya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Dari berbagai indikasi tahun-tahun terakhir ini, suka atau tidak suka, kita terlalu banyak mencurahkan energi tenaga dan pikiran bagaimana mengeksploitasi dan memanfaaikan sumber daya aiam yang kita miliki untuk kesejahteraan masyarakat. Riau memang kaya akan sumber daya alam. Orang bilang, Riau itu negeri "di bawah minyak di atas minyak di tengah gambut" (baca: di bawah tanah minyak bumi, di atas tanah minyak kelapa sawit dan di tengah gambut tebal yang juga bisa dipakai sebagai sumber energi dan bermacam-macam keperluan). Salahkah bila itu dieksploitasi? Tentu tidak. Bukankah itu nikmat yang diberikan oleh Yang Mahakuasa? Tetapi mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam itu secara berlebihan, apalagi kalau amat sangat berlebihan, tentu juga tidak dapat dibenarkan. Apatah lagi dalam pemanfaatan kekayaan alam tersebut satu pihak dengan pihak lainnya cakar-cakaran, saling sikut, saling pojok memojokkan, saling menjatuhkan bahkan saling bunuh.

Satu pihak mengklaim kekayaan alam itu milik mereka, mereka yang paling berhak. Pihak lain mengklaim bahwa mereka juga berhak. Rebutan kewenangan pun tidak terelakkan. Tidak hanya antara pusat dan daerah, bahkan juga antara daerah satu dengan daerah lain. Tidak hanya itu Tuan, rebutan juga bisa terjadi antar puak, lebih kecil lagi ruang lingkupnya antara sesama suku, bahkan antara mamak dan kemenakan. Si kemenakan "teking", tidak lagi mau tunduk kepada mamaknya (ini kan zaman reformasi, katanya). Si mamak pula, karena merasa dituakan dan didulukan selangkah, makan sendiri alias "mansur" - main surang (baca: seorang). Rebutan "harta karun" itu mulai dari yang berskala besar seperti berebut rezeki di sekitar wilayah penambangan minyak dan gas, berebut menam-bang batu bara, berebut menambang granit, berebut menebang hutan, pembukaan lahan untuk perkebunan, pengerukan pasir, dan seterusnya, sampai kepada yang kecil-kecil. Akhirnya timbul konflik, persatuan dan kesatuan buhulnya menjadi longgar, persaudaraan menjadi retak.

Dalam sudut pandang itu, kekayaan sumber daya alam tidak hanya dapat dilihat sebagai berkah, tetapi juga sekaligus musibah. Sebab intensitas yang sangat tinggi dalam ekslploitasinya akan menimbulkan kerusakan alam, yang sebagian diantaranya masih bisa diperbaiki, tetapi sebagiannya lagi rusak permanen. Bahkan dalam proses pengolahan kekayaan alam kita itu, ada pula yang menghasilkan limbah. Kalau kita lihat kecenderungan pengusahaan sumber daya alam kita dewasa ini, seperti minyak, pasir, dan hutan, terlihat seakan-akan dunia sudah mau kiamat. Kalau minyak bisa disedot hari ini, disedot semuanya hari ini juga. Demikian pula pasir laut, kalau bisa, dikeruk semuanya hari ini. Hutan pula, kalau bisa ditebang habis semuanya hari ini. Tidakkah kita sisakan sedikit untuk anak cucu? Bukankah sustainable development (pembangunan berkelanjutan) itu harus menjadi salah satu prinsip dalam pengelolaan sumber daya alam kita?

Dalam suatu perbincangan dengan Laksamana Sukardi, Menteri BUMN kita beberapa waktu yang lalu, saya mencatat beberapa hal yang menarik. Laks menga-takan bahwa sesungguhnya kekayaan terhadap SDA bukan serta merta membuat masyarakat akan sejahtera. "Daerah yang terlalu mengedepankan kekayaan SDA sama seperti anak mendapatkan warisan," kata Laks. Kalau kebetulan si anak mampu mengelola dengan baik warisan itu, maka warisan tersebut akan berguna, tetapi yang sering terjadi anak-anak pada cakar-cakaran memperebutkan warisan.

Laksamana memberikan contoh seperti Singapura, Swiss, Korea Selatan, dan bahkan Jepang, mereka ini ada-lah negeri-negeri yang tidak memiliki SDA, tetapi mereka menjadi pengekspor cokelat, pengekspor ikan, dan peng-ekspor minyak. Kualitas SDM memang sangat menentukan. Kualitas tidak hanya dilihat dari kemampuan pe-nguasaan iptek, tetapi juga pada sikap dan karakter

Kita memang kaya akan SDA, tetapi kita mengeksploitasinya tidak secara bermartabat, sehingga kekayaan yang ada tidak hanya membuat masyarakat tidak sejahtera, bahkan membuat satu dan lainnya saling curiga, per-saudaraan menjadi longgar dan kita berkecai-kecai. Yang menarik keuntungan dari situasi itu akhirnya pihak lain. Perang Uhud memang terjadi nun jauh di sana lebih dari seribu tahun yang lalu, tetapi "pesan" kekalahan Nabi Muhammad Saw. dalam perang tersebut mestinya dapat ditangkap dengan jelas. Kita tidak ingin jadi pecundang.


(24 - 30 Maret 2002)


Tulisan ini sudah di baca 112 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/126-Di-Balik-Perang-Uhud.html