drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 5

Membangun Kehormatan


Oleh : drh.chaidir, MM

Melakukan pembangunan fisik, wujudnya bisa bermacam-macam, bisa dirasa, dilihat, dan diraba. Hasilnya bisa sebuah plaza indah, gedung yang megah, atau pencakar langit yang mengagumkan. Membangun kehormatan dan mempertahankan keterhormatan wujudnya juga bisa bermacam-macam dan esensial. Hasilnya bisa bernama harga diri, kemuliaan, rasa bermartabat, dan bagi orang Riau hasil keseluruhan itu disebut dengan marwah. Marwah itu abstrak, tidak terlihat, namun nilainya lebih berharga. Tangankan dibanding dengan sebuah plaza mewah, dengan nyawa pun marwah itu lebih mahal.

Keterhormatan bisa milik individu, bisa milik sebuah keluarga, tapi bisa juga milik sebuah lembaga atau insti-tusi. Atau lebih besar lagi, milik sebuah bangsa. Seringkali keterhormatan individu membawa sekaligus nama keluarga dan nama lembaga. Semua orang sudah tahu, bagaimana sepak terjang si Badu, misalnya; sifatnya adalah individual, oknum, bukan atas nama keluarga atau lembaga, tetapi pasti dikaitkan juga dengan marwah keluarga dan bahkan marwah lembaga. Siapa dia itu? Ooh si Badu, pantaslah dia begitu, dia kan keturunan si Anu. Atau, ooh, dia anggota Dewan; anggota Dewan kok begitu ya. Komentar-komentar seperti itu tidak bisa kita hindari, tidak pula bisa dimanipulasi.

Gara-gara tersangka kasus peledakan gedung kembar pencakar langit WTC di New York memiliki nama Arab misalnya, maka semua orang yang namanya berbau Arab dan Muslim selalu diawasi dengan ketat. Konon wali kota Pekanbaru, Herman Abdullah, termasuk yang diawasi secara khusus ketika berada di Amerika Serikat yang kebetulan bersamaan waktunya dengan peristiwa runtuhnya gedung kembar WTC yang megah itu. Saya berpikir, anak saya yang bernama Abdel Chaleed, pastilah suatu saat kelak akan kesulitan untuk mendapatkan visa kunjungan ke Amerika Serikat. Begitulah akibat langsung dari peristiwa jati diri.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) adalah sebuah lembaga yang terhormat, demikian juga lembaga serupa di daerah, baik di propinsi maupun di kabupaten, dan kota. Status dan posisinya yang terhormat itu, memberikan akibat langsung pula pada individu yang duduk di dalamnya, sehingga mereka pun selalu dipanggil sebagai "yang terhormat". Disebut lembaga yang terhormat, agaknya adalah, karena lembaga tersebut merupakan lempal beikumpumya wakii-wakii rakyat yang disaring melalui serangkaian proses dan akhirnya memperoleh legitimasi melalui penulihan umum. Dengan demikian wakil-wakil rakyat tersebut mestinya adalah orang-orang pilihan. Dalam pemilihan umum, rakyat bebas memilih partai politik mana yang dikehendaki mewakili suaranya. Maka secara teoretis, sebuah partai politik pasti akan me-nempatkan kader-kader terbaiknya untuk dipilih mewakili rakyat. Kader-kader tersebut mestinya adalah kader-kader yang memiliki integritas yang terpuji dan teruji, memiliki dedikasi, loyalitas, dan mampu menjaga kehormatan dirinya sendiri, kehormatan partainya, dan kehormatan lembaganya yang terhormat itu.

Membangun keterhormatan sama susahnya dengan menjaga dan memelihara keterhormatan. Contoh kasus di Italia agaknya adalah hal yang paling menarik dalam konteks ini, bagaimana seorang mantan pelacur yang su-dah dikenal umum menjadi seorang anggota parlemen. Keterhormatan tidak bisa dibangun dalam sekejap mata, dia memerlukan waktu dan pengakuan. Dan susahnya, pandangan yang sudah terbentuk terhadap diri seseorang atau lembaga, susah sekali untuk diubah.

Keterhormatan juga bukan soal harta. Harta memang bisa membuat kedudukan seseorang menjadi lebih baik dalam ukuran-ukuran material, tapi bukan ukuran keterhormatan. Harta yang banyak juga bisa membuat orang menjadi tidak terhormat, apabila harta itu hasil KKN atau cara-cara tidak halal lainnya. Dalam konteks pemerin-tahan, keterhormatan itu adalah persoalan performance, kinerja, output yang positif bagi orang banyak.

Secara lebih dalam, inti dari sebuah keterhormatan adalah bersikap baik sesuai dengan kebenaran kolektif yang disepakati bersama. Keterhormatan lembaga tergambar dari sikap dan perilaku anggotanya, serta ketaatan pada hukum-hukum yang melingkarinya. Terhormat setinggi langit pun status lembaganya, apabila anggotanya tidak mampu mengawal sikap dan perilakunya, maka lembaganya tidak akan mampu mempertahankan predikat keterhormatannya.

Keterhormatan dapat dibangun dengan berbagai cara sesuai dengan ruang lingkup dan bentuk hubungan yang ada. Sebagai manusia, dalam hubungan vertikal (di hadapan Tuhan), keterhormatan dibangun melalui ketakwaan dan selalu berbuat baik dalam hubungan sosial. Sebagai lembaga eksekutif, keterhormatan terbangun dari bagaimana pelayanan diberikan secara maksimal terhadap kemaslahatan masyarakat, dan seterusnya. Sebagai anggota DPR, keterhormatan terwujud dari kemampuan menyalurkan aspirasi masyarakat secara luas dan menyangkut semua pihak dan strata (tidak atas dasar kepentingan-kepentingan kelompok tertentu) dan diukur pula dari ketaatan untuk memegang kebijakan-kebijakan yang justru dihasilkannya sendiri.

Adalah suatu hal yang ironis, jika anggota dari sebuah lembaga terhormat, seperti DPR misalnya, dalam mengambil kebijakan tertentu mengangkangi hal-hal yang telah disepakati bersama sebagai sebuah ketentuan perundang-undangan. Yang lebih menyakitkan bagi kita semua sebagai makhluk hukum adalah, bahwa kepada kita dihadapkan sebuah pelanggaran yang sewenang-wenang terhadap konstitusi yang telah dihasilkan atas nama kepentingan bersama, atas nama kepentingan sebuah bangsa, di mana pelanggaran itu justru untuk hal-hal yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan mar-wah bangsa dalam pergaulan internasional, tapi sebaliknya hanya untuk mengakomodir orgasmus ego, perasaan berkuasa, dan kepentingan sepihak.

Hakikat keterhormatan adalah hakikat pemuliaan dan memuliakan manusia. Dengan taat kepada konstitusi dan kesepakatan atas "rasa bersama". artinva kita telah ikut memberikan sumbangan dalam pembangunan marwah bangsa dan membangun keterhormatan. Akan jadi apa kita nantinya, jika masing-masing kita, masing-ma-sing lembaga, dan wilayah-wilayah kehidupan, tidak membangun "keterhormatan" secara baik dan maksimal. Jika kita tidak membangun keterhormatan, maka kita akan menuju ke suatu keadaan yang menyedihkan, dan masing-masing kita tak ubahnya seperti apa yang dikatakan oleh pengarang Irlandia, William Buttler Yeats, yaitu menjadi "penari yang menghentakkan kaki sambil menggemerincingkan lonceng-lonceng (menggemakan suara) kebiadaban".

Mari kita kembali pada keterhormatan, mari terus membangun keterhormatan. Tiba-tiba saya teringat pada pesan Nabi kepada Aisyah (elaborasi dari Tanbihul Ghafilin): "Milikilah sikap yang baik dan kelembutan (sikap terhormat), sebab sikap itu tidak akan datang kepada sesuatu selain membuatnya menjadi indah, dan tidak akan pergi dari sesuatu selain membuatnya menjadi buruk."


(10 - 16 Februari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 107 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/125-Membangun-Kehormatan.html