drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 5

Merajut Tirai Kasih


Oleh : drh.chaidir, MM

Dendam, cinta, dan air mata, adalah tiga tema yang menonjol dalam sinetron-sinetron yang membanjiri layar kaca kita dalam satu dekade terakhir ini. Sesungguhnya itu juga refleksi dari realitas kehidupan masyarakat kita yang dewasa ini sedang dirundung krisis dan sedang mengalami perubahan besar hampir dalam segala aspek kehidupan. Lingkungan yang berubah cepat menyebabkan perubahan pada gaya hidup. Sukar untuk tidak mengatakan telah terjadi perubahan nilai-nilai dalam masyarakat kita nilai-nilai etika dan estetika dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan sesaat dan individual.

Rasa kesetiakawanan sosial yang menipis, ikatan persaudaraan yang menjadi longgar, hidup nafsi-nafsi, siape lu siape gue, individualistis, materialistis, justru menjadi ciri-ciri yang menonjol dalam masyarakat kita dewasa ini. Itu belum cukup karena dorongan primitif sering pula mengedepan; nafsu saling membunuh, saling menyakiti, saling membakar, saling memangsa, homo homini lupus - manusia yang satu serigala bagi manusia lainnya. Atau bentuk yang paling ringan dari dorongan primitif yang terdapat dalam diri seseorang; demikian mudahnya mengumbar nafsu amarah, menghujat, memfitnah, cepat naik pitam, dan bereaksi secara berlebihan terhadap suatu kondisi yang kurang menyenangkan.

Dulu, ada sifat-sifat yang terasa menonjol dalam masyarakat Melayu sebagai bentuk reaksi terhadap se-suatu yang mengganggu. Sifat-sifat itu seakan berproses dari satu stadium ke stadium lainnya. Mula-mula reaksi itu adalah "biarlah". Ini bentuk yang paling akomodatif. Biarlah, tak apa-apa itu, tak akan ada apa-apa. Kalau kemudian apa-apanya itu masih juga mengganggu, maka muncul reaksi pada stadium kedua: "mengalahlah". Mengalah tentu bukan kalah, tapi menghindari konflik. Kalau kemudian ternyata apa-apanya itu rupanya cukup bebal, maka reaksi yang ketiga muncul sambil mengurut dada, "sabarlah". Kalau reaksi pada stadium 1,2, dan 3 itu, biarlah, mengalahlah, dan sabarlah, tidak juga men-dapatkan perhatian sedikit pun, maka biasanya orang Melayu mulai pasang kuda-kuda dan mulai "keluar", wah ini tampaknya sudah "menyalah". Kalau sesuatu sudah dideskripsikan sebagai "menyalah", maka jaraknya dengan "amuk" tinggal dipisahkan oleh selaput tipis.

Kini, akibat impitan permasalahan yang berjibun dan kegamangan menghadapi situasi baru yang terasa agak aneh itu, maka proses biarlah, mengalahlah, sabarlah, menyalah, dan amuk tidak lagi memerlukan tempo. Ada aksi, ada reaksi, bahkan reaksi amat sangat berlebihan dibandingkan aksinya.

Sesungguhnya, dendam tidak ada dalam konsep Islam. Sebab paling tidak sekali setahun umat Islam berada dalam suasana saling memaafkan. Dendam adalah amarah yang terpendam tak terlampiaskan secara berke-panjangan. Sementara dalam konsep Islam amarah itu tidak boleh dipendam. Amarah harus diselesaikan paling lama dalam tempo 3 x 24 jam, ya 3 x 24 jam!

Islam mengajarkan kepada pengikutnya agar menyambung atau mempererat tali persaudaraan. Tirai kasih persaudaraan yang terkoyak, segera dirajut kembali. Hubungan silaturahmi tidak boleh dibiarkan ierjejas. Tujuannya tidak lain adalah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kedamaian. Damai itu indah dan keindahan kedamaian itu baru kita sadari ketika kita tidak lagi hidup dengan selesa karena harus berhadapan dengan penjahat di sekeliling. Apa nikmatnya melaksanakan ibadah, kalau ke mana-mana harus selalu siap dengan pistol yang terko-kang. Damai membuat kita saling tolong-menolong dalam kebajikan. Umat Islam dilarang saling membenci. Kalaupun pertelagahan (pertengkaran) itu terpaksa terjadi juga, sampai saling tidak tegur sapa, maka tidak boleh lebih dari tiga hari tiga malam saja lamanya (3 x 24 jam). Saya pernah mendengar ceramah ustad di suatu penga-jian, Rasulullah saw. bersabda, "Tidak halal bagi orang Islam membenci saudaranya (sesama Islam) melebihi tiga hari. Jika telah berlalu selama tiga hari, hendaklah men-jumpainya dan member! ucapan salam."

Dengan demikian alangkah hebatnya konsep Idul Fitri. Ada agenda tetap dan indah, sekali setahun, umat Islam dan umat lainnya, bersalaman, bersalaman, dan bersalaman. Saling maaf-memaafkan. Bersalaman dan memaafkan adalah aktivitas yang paling dominan di Hari Raya Idul Fitri yang sekali setahun itu. Dan ini sudah berlangsung sejak dahulu kala dalam konsep Islam. Maka mestinya, tidak lagi ada dendam, tidak juga amarah, tidak juga ada amuk, semua bisa diselesaikan dalam semangat persaudaraan.

Maaf-memaafkan adalah kewajiban yang harus dihidupkan di antara sesama umat Islam. Masih saya dengar dari pengajian, perintah Allah Swt. jelas dan tegas, "Jadilah engkau pemaaf". Melakukan pembalasan atas perbuatan seseorang, memang bukan merupakan suatu kesalahan, namun memaafkan adalah tindakan yang terpuji.

Hubungan silaturahmi seringkali rusak akibat komunikasi yang tidak baik. Orang menyebutnya miskomunikasi. Kadang-kadang maksud baik tidak selalu dapat ditangkap dengan jelas. Kritik bercampur-baur dengan fitnah, karena tidak didukung oleh informasi yang akurat, sementara keinginan untuk mengkritik cukup kuat bahkan sudah seperti orang sakau. Maka dengan semangat Idul Fitri segala bentuk miskomunikasi dan segala bentuk eksesif dari pergeseran nilai-nilai itu dikubur dalam-dalam. Tali persaudaraan dengan sanak kerabat, tetangga dan sesama umat Islam kembali dirajut dengan jalan saling mengunjungi. Jangan pikirkan jabatan, jangan pikirkan gengsi, acungkan tangan, bersalaman. Dengan demikian kalau ada tirai kasih persaudaraan yang terkoyak segera kembali menjadi pulih, komunikasi akan kembali terjalin, hubungan batin, sambung rasa akan kembali terbina. Kita memerlukan tangan-tangan yang saling bergandengan, bukan tangan-tangan yang saling menepiskan.

Biarlah dendam dan permusuhan itu hanya ada dalam sinetron. Karena seperti kata mutiara: "Menanam dendam untung-untungan, hidup sukar mati pun sesat", artinya, hidup mendendam hanyalah sebuah perjudian. Dendam justru akan menambah penyakit dan pende-ritaan batin, baik dunia maupun akhirat. Hidup mendendam itu tak lebih dari ibarat menelan air garam, sekali diminum tak pernah memuaskan. Dendam akan berbalas dendam.

Idul Fitri memberi kita peluang untuk saling memaafkan dan sekaligus introspeksi diri. Kita simak apa saja yang telah kita kerjakan dan kesalahan apa yang telah kita perbuat? Jika ada, sudah seharusnya kita bertekad memperbaikinya agar tidak terulang pada waktu-waktu mendatang. Dengan demikian insya Allah, perilaku kita dari tahun ke tahun semakin lebih baik.

Kalau tak ada awan, kita tak akan bisa merasakan indahnya mentari. Biarlah semua dendam dan kemarahan itu, kalau ada, tenggelam dalam tidurnya yang abadi. Selamat Idul Fitri, minal aidin walfaidzin, maaf lahir batin.

(16 - 29 Desember 2001)


Tulisan ini sudah di baca 125 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/124-Merajut-Tirai-Kasih.html