drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 5

E-Ramadan


Oleh : drh.chaidir, MM

Sebuah pesan elektronik melalui jasa SMS (short message services) masuk ke HP saya: "Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan, syahrul mubarak syahrul Qur'an, washshiyam, washshabr, wadda'wah, walukhuwwah, waljihaad, La'allakum tattaquun" Maksudnya kira-kira, selamat datang bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah, bulan turunnya kitab suci Alquran, bulan puasa, bulan yang penuh kesabaran, bulan yang penuh dakwah, bulan yang penuh rasa persaudaraan, bulan yang penuh jihad melawan hawa nafsu, kekuasaan, arogansi, dan sejenisnya, semoga kamu menjadi hamba yang bertakwa.

Pesan itu terasa lain dari sekian banyak SMS yang masuk dan oleh karenanya saya pun meneruskannya ke hand phone (telepon genggam) teman-teman lain yang sempat saya kirimi. Sambil duduk dalam mobil pun saya bisa ber-SMS-ria mengirimkan ucapan selamat memasuki Ramadan 1422 H. Mudah dan murah. Mudah karena saya tak perlu menuliskan ucapan selamat melalui sebuah kartu yang pasti banyak menyita waktu dan tenaga, murah karena biaya sekali kirim SMS lebih murah dari prangko surat kilat. Teknologi komunikasi melalui jasa SMS, tak lebih, merupakan sebuah produk dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka saya pun teringat ucapan Albert Einstein yang disampaikannya dalam suatu kuliah singkat di depan mahasiswa Institut Teknologi California Amerika Serikat, "Ilmu membuat hidup menjadi mudah." Ucapan Albert Einstein ini dalam setting waktu yang berbeda, disambung oleh da'i sejuta umat KH Zainuddin MZ, "Ilmu membuat hidup menjadi mudah, agama membuat hidup menjadi indah." Ungkapan-ungkapan itu dielaborasi oleh Prof. B.J. Habibie, "flmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tanpa iman dan takwa (imtak) berarti buta, imtak tanpa iptek akan lumpuh."

Maka untuk sekadar berlatah ria, era ketika ucapan-ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan selamat Idul Fitri mulai menggunakan jasa elektronik, mungkin dapat kita sebut bahwa kita telah memasuki era "e-Ramadan". e-Ramadan atau electronic Ramadan, atau Ramadan digital, maksudnya adalah memberi kemudahan pada apa saja yang berhubungan dengan Ramadan melalui kemajuan teknologi elektronik. Bukankah sebentar lagi kita akan memasuki era e-government dan e-commers?

e-government adalah pemerintahan elektronik atau pemerintahan digital, sedangkan e-commers adalah perdagangan elektronik atau perdagangan digital. Tapi jangan salah, yang disebut terakhir itu bukan perdagangan barang-barang elektronik, jangan keliru. e-commers adalah perdagangan dengan menggunakan jasa-jasa kemajuan teknologi elektronik, semua menggunakan komputer. Orang jual beli barang atau tawar-menawar cukup dari rumah saja, buka komputer, pencet sana-sini, barang akan datang ke rumah. Transfer uang pun cukup melalui komputer dari rumah masing-masing. Maka Anda akan terhindar dari bahaya kecopetan atau perampokan. Itu dalam skala mikro. Dalam skala globalnya, hanya dengan membuka komputer di Roma atau di Tokyo misalnya, seorang pedagang yang ingin mengimpor biji kopi, dia akan langsung tahu daerah-daerah mana yang menjadi produsen kopi terbaik di dunia, berapa luas kebunnya untuk menjamin kontinuitas suplai, bagaimana kemudahan pengangkutannya dan bagaimana costnya. Apakah dari Brazilia, Lampung, atau dari Aceh Tengah?

e-government pula, sederhananya kira-kira adalah pemerintahan yang sudah menggunakan komputer dalam segala kegiatan dan pelayanannya. Semua pekerjaan menjadi mudah, cepat dan hemat, efektif, dan efisien atau sangkil dan mangkus. Komputer tidak bisa diajak ber-KKN-ria, bersekongkol, komputer juga tidak bisa melakukan pungutan atau kutipan liar. Kalau Anda berbicara tentang otonomi daerah yang ditandai dengan transparansi dan akuntabilitas, maka komputer adalah "si tawar si dingin"nya, dengan kata lain adalah obatnya. Tanda terima kutipan pajak yang diketikkan di sebuah komputer di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir misalnya, akan langsung terekam dan bisa dilihat di komputer Kepala Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Riau di Pekanbaru pada saat yang sama. Dan pada saat yang sama juga gubernur bisa memonitor melalui layar komputer di ru-ang kerjanya. Kemajuan proyek di Bengkalis misalnya langsung bisa diketahui oleh gubernur melalui komputer di mejanya. Instruksi dari sang gubernur pun hanya de-ngan sekali pencet di ruangannya akan langsung bisa diterima di seluruh kabupaten dan kota.

Malaysia adalah contoh negara yang sudah melakukan e-government. Dr. Mahathir memang boleh. Cobalah amati bagaimana dia membangun pusat pemerintahan canggih di Putra Jaya, dan tidak jauh dari Putra Jaya, Dr M juga membangun Cyber Jaya, pusat komputernya Malaysia. Seluruh dunia dengan mudah bisa mengakses informasi yang berkaitan dengan Malaysia, dengan demikian dunia perdagangan internasional dengan mudah pula dapat melakukan kesepakatan-kesepakatan bisnis dengan pihak Malaysia. Ada kepastian hukum dan ada kepastian pelayanan yang prima. Secara budaya dan geo-grafis Riau kan dekat dengan Malaysia, mestinya Riau juga bisa seperti Malaysia.

Nah, e-Ramadan? Ah itu agaknya hanya sebuah kelatahan menggunakan istilah "e" saja. Menambah keindahan dan getaran jiwa memasuki bulan suci Ramadan melalui SMS terlalu berlebihan kalau sudah disebut e-Ramadan. Tetapi misalnya, bila suatu saat kita semua telah computer minded, seperti mengatur menu sahur dengan komputer, menu berbuka dengan komputer, membayar zakat fitrah melalui komputer maka itu baru boleh disebut kita telah memasuki era e-Ramadan. Sekarang agaknya masih jauh. e-government saja belum. Penentuan hari pertama puasa atau penentuan hari raya saja kita masih berbeda. Padahal kalender yang kita lihat adalah kalender yang sama dan ufuk yang kita lihat adalah ufuk yang sama, tetapi kita memberikan makna yang berbeda. Untuk sekadar menghibur diri dan memberikan jastifikasi terhadap eksistensi kita sebagai umat manusia, kita boleh mengatakan, di situlah letak sempurnanya umat yang bernama manusia. Kesempurnaan manusia terletak pada ketidaksempurnaannya.

Ahlan waa sahlan yaa Ramadhan. Bulan ini bulan penuh berkah, bulan di mana kita umat manusia kembali memiliki momentum untuk melakukan perenungan-perenungan yang mendalam terhadap ketidak sempurnaan kita.


(18 - 24 November 2001)


Tulisan ini sudah di baca 110 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/123-E-Ramadan.html