drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Yasser Arafat


Oleh : drh.chaidir, MM

Andai Adolf Hitler masih hidup, tentulah ia bisa diminta bantuannya untuk memerangi Israel dan agaknya sang Kanselir ini tidak akan berkeberatan sama sekali. Sejarah dunia mencatat, pada akhir Perang Dunia Kedua, Nazi yang dikomandoi Hitler membunuh lebih kurang 6 juta Yahudi Eropa. Demikian dendamnya mereka terhadap Yahudi.

Kini Yahudi yang direpresentasikan oleh Israel, kembali membuat geram bangsa lain melalui tindakan mereka yang membabi buta di Palestina. Perseteruan Israel dengan Palestina memang tidak pernah usai, tetapi bahwa kemudian Israel memasuki Palestina dengan kekerasan dan menyandera Presiden Palestina Yasser Arafat bersama orang-orang dekatnya di kantor sang Presiden, ini tentu sudah "menyalah".

Dendam di Tepi Barat Sungai Yordan dan di Jalur Gaza itu tampaknya tidak pernah reda. Israel, betapa pun dikutuk dunia, tetap dibela oleh Amerika Serikat. Dan bangsa Palestina pula didukung oleh negara-negara Arab dan negara-negara muslim lainnya di dunia. Anehnya, Amerika dan negara-negara Arab itu berkawan dekat. Dalam commonsense, bila orang di belakang layar bersahabat karib, maka mestinya orang-orang yang sedang main di atas panggung, menuruti apa pun yang dikehendaki dari belakang layar. Tapi permasalahannya memang tidak linear seperti itu. Bargaining Yahudi di Amerika Serikat sangat kuat, sementara bangsa-bangsa Arab sendiri sangat sulit untuk dipersatukan. Barat memang sangat berkepentingan terhadap menduanya sikap bangsa-bangsa Arab. Sebab bila bangsa-bangsa Arab ini bersatu teguh, akan menjadi kekuatan yang menakutkan Barat.

Tetapi pengepungan Presiden Yasser Arafat di kantornya, di kota Ramallah di Tepi Barat, apa pun alasannya susah untuk dicerna dengan akal sehat. Bagaimana mungkin seorang presiden dari sebuah bangsa yang berdaulat demikian saja dikepung. Dan menjadi lebih aneh bin ajaib, katanya pengepungan tetap akan dilakukan oleh Israel sampai Presiden Yasser Arafat hengkang dari Palestina dan tidak boleh kembali lagi ke negerinya.

Yasser Arafat bukanlah tokoh karbitan. Namanya dikenal besar kecil, tua muda di seluruh dunia terutama di negeri-negeri muslim. Sebutlah Palestina atau PLO, yentu yang terbayang adalah sosok Yasser Arafat. Palestine Liberation Organization (PLO) adalah organisasi politik yang mewakili bangsa Arab Palestina dengan tujuan untuk mendirikan negara Palestina bagi bangsa Arab. PLO pada tahun 1974 diakui oleh negara-negara Arab sebagai "wakil rakyat Palestina satu-satunya dan sah".

Yasser Arafat adalah seorang tokoh revolusioner Palestina yang membentuk organisasi perlawanan Al-Fatah. Al-Fatah sendiri dalam bahasa Arab artinya adalah pembukaan, penaklukan. Maksudnya adalah penaklukan Palestina untuk orang Palestina yang mengadakan perlawanan terhadap Israel. la mulai bergerilya bersama Al-Fatah tahun 1950 sampai kemudian pada tahun 1969 ia terpilih menjadi ketua PLO yang didirikannya.

Pada tahun 1974, Yasser Arafat melakukan debat di Sidang Umum PBB mengenai Palestine dan menjadi pemimpin organisasi nonpemerintahan resmi pertama yang diberi kesempatan seperti itu dalam Sidang Umum PBB. Hasilnya, PBB kemudian mengakui PLO sebagai wakil bangsa Arab Palestine. Pada tahun 1991, ia memimpin PLO untuk berpihak pada Irak dalam Perang Teluk melawan Amerika Serikat dan sekutunya. Popularitas Yasser Arafat semakin melambung ketika pada tahun 1994 bersama pemimpin Israel Yitzhak Rabin dan Shimon Peres meraih hadiah Nobel Perdamaian.

Palestine sejak zaman dahulu kala memang dihuni oleh bangsa Arab sampai kemudian bangsa Yahudi melakukan emigrasi. Arus pertama bangsa Yahudi terjadi sekitar tahun 1800. Emigrasi besar-besaran terjadi tahun ini, akibat penindasan kaum Yahudi di Eropa Timur. Maka kemudian terbentuk gerakan Zionisme yang bertujuan menjadikan Palestina negara merdeka bagi bangsa Yahudi.

Inggris boleh disebut penyebab awal malapetaka ketika mereka memberikan dukungan dengan membuat "Deklarasi Balfour" pada tahun 1917, yang memberikan peluang bagi terbentuknya "National Home" bangsa Yahudi di Palestina, tanpa mengganggu hak-hak bangsa non-Yahudi di daerah ini. Bangsa Arab sudah barang tentu menolak keras Deklarasi Balfour ini.

Ketika Naziisme lahir di Eropa dan bangsa Yahudi dikejar-kejar, gelombang pengungsi Yahudi ke Palestina makin besar, dan dengan mengumpulnya mereka di tanah Palestina itu, dukungan terhadap negara Israel makin meluas.

Pada tahun 1947, Inggris mengimbau PBB untuk menangani masalah Palestina. Rekomendasi Komisi Istimewa PBB untuk Palestina kemudian membagi wilayah ini menjadi negara Arab dan negara Yahudi; sementara Yerusalem di bawah pengawasan internasional. Keputusan yang diambil Sidang Umum PBB tahun 1947, di-terima oleh bangsa Yahudi, tetapi bangsa-bangsa Arab menolaknya. Maka perang pun pecah. Setahun kemudian, pada tahun 1948, negara Israel diproklamirkan dengan ibu kota Yerusalem. Maka sejak saat itu perang demi perang pun pecah di wilayah itu antara bangsa-bangsa Arab dengan Israel. Perang kedua pecah tahun 1956, perang ketiga yang disebut perang enam hari pecah tahun 1967, perang keempat pecah kembali tahun 1973.

Setiap kali perang setiap kali diakhiri dengan gencatan senjata, dan setiap kali dilanggar. Pada tahun 1978, Presiden Mesir Anwar Sadat, Perdana Menteri Israel Menachem Begin, dan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter mengambil inisiatif dengan melakukan perundingan di Camp David. Hasilnya, mengimbau perdamaian Mesir-Israel dengan dua butir persetujuan: penarikan pasukan Israel dari Sinai dan perundingan status otonomi Tepi Barat Sungai Yordan dan Jalur Gaza.

Kini negara Palestina dengan penduduk lebih kurang tiga setengah juta jiwa telah sah berdiri dengan presidennya Yasser Arafat. Jumlah penduduk Palestina hampir sama dengan penduduk Israel.

Oleh karena itu, memperlakukan Yasser Arafat secara tidak bermartabat tentu akan membuat umat Islam seluruh dunia akan marah. Dan Amerika Serikat agaknya akan kembali menuai badai. Amerika Serikat sebagai sahabat karib Israel, walaupun dalam perkembangan terakhir mulai menekan Israel untuk mundur dari Palestina, tidak begitu saja dipercaya oleh negara-negara Islam yang bersimpati terhadap Palestina. Itu lagu lama yang selalu dimainkan oleh Amerika Serikat. Pada akhirnya mereka tetap saja akan membela kepentingan sahabatnya Israel. Sesungguhnya tidak lagi jelas siapa yang berpengaruh terhadap siapa, Amerika Serikatkah yang berpengaruh terhadap Israel, atau sebaliknya. Sebab, dari berbagai sumber, orang Yahudi memang tidak sampai 20 persen di parlemen Amerika Serikat, tetapi pengaruh mereka luar biasa besarnya.

Kita tentu tidak berharap Israel sedang melakukan pembersihan etnis seperti yang terjadi dalam kasus Kosovo, tetapi melihat gelagat yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini, kesan itu tidak dapat dipungkiri. Oleh karenanya saya pun memahami kenapa demikian banyak orang dari berbagai negeri muslim yang menyatakan dirinya bersedia menjadi sukarelawan membela Palestina dan rela mati syahid.


(7 - 13 April 2002)


Tulisan ini sudah di baca 132 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/122-Yasser-Arafat.html