drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Akbar Tanjung


Oleh : drh.chaidir, MM

Apalah artinya sebuah nama, kata orang Inggris. Tapi bagi Akbar Tanjung, dan juga bagi umumnya kaum Muslimin, nama mengandung makna. Nama seringkali mewarnai watak seseorang. Orang bernama Amin umumnya mempunyai sifat yang lurus, atau mungkin, banyak orang yang bersifat lurus kebetulan bernama Amin. Barangkali ibarat ayam dan telur.

Premis itu, boleh setuju boleh tidak, seakan menjadi suatu yang sulit terbantahkan pada diri Akbar Tanjung. Eki Syachrudin, suatu kali menulis tentang Akbar Tanjung dalam buku "Akbar Tanjung Anak Desa Sorkam", yang disusun oleh Evendhy Siregar: "Setelah saya pikir-pikir," tulis Eki," Akhirnya memang sudah begitulah guratan tangan Akbar. la oleh yang di Atas sono ditakdirkan untuk meraih the greatness, kebesaran atau ke-akbar-an dalam hampir segala bidang kehidupannya." Rasanya hampir semua orang tahu bagaimana riwayat karier Ak-bar Tanjung di organisasi dan di panggung politik, mulai dari HMI, KNPI, dan kemudian di Golkar yang telah bermetamorfosis menjadi Partai Golkar. Dia selalu menjadi tokoh sentral, selalu menjadi yang terbesar.

Namun menjelang tengah malam tanggal 7 Maret 2002 "the greatness" itu seakan luluh demikian saja ketika Akbar Tanjung terpaksa harus mendekam dalam tahanan Kejaksaan Agung berkaitan dengan kasus dana non-budgeter Bulog. Dia menghadapi masalah yang juga besar karena tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan partainya. Akbar berarti besar. Semua serbabesar.

Namun, simpati kelihatannya mengalir untuk Akbar Tanjung, bukan karena alasan penahanannya yang masih "debatable", melainkan karena figur Akbar Tanjung pada dasarnya adalah seorang tokoh yang santun dan bersahabat. Dr. Rizal Mallarangeng, Direktur Freedom Institut Jakarta menulis dalam Harian Kompas, bahwa Akbar Tanjung adalah seorang tokoh yang senantiasa tampil dengan kata-kata yang selalu terukur dan emosi yang senantiasa terjaga dengan baik. Sebagai seorang politisi ia telah terbukti mampu mengemudikan biduk partainya melewati berbagai kesulitan politik dan memperoleh legitimasi kuat dari rakyat dengan muncul sebagai pemenang kedua dalam pemilu tahun 1999, yang oleh para pengamat disebut sebagai pemilu yang paling bebas, terbuka dan representatif sepanjang sejarah pemilu di Indonesia.

Agaknya karena sudah terbiasa bermain buih di masa kecilnya, karena dia memang anak pesisir Samudra Hindia, maka Akbar Tanjung tidak pernah panik diterpa ombak. Badai selalu bisa dihadapinya dengan tenang. Akbar Tanjung memang lahir di Desa Sorkam, sekitar 30 km dari kota Sibolga (Tapanuli Tengah - Sumatra Utara), dengan nama lengkap Djanji Akbar Zahiruddin Tanjung. Sejak umur 7 tahun sudah menjadi anak yatim, dan sejak kecil bercita-cita menjadi TNI-AL, tapi tidak kesampaian. Mungkin karena Akbar Tanjung adalah anak pesisir yang akrab dengan laut dan pantai, sehingga terobsesi menjadi anggota TNI Angkatan Laut.

Mungkin karena kepribadiannya yang kuat dan me-nonjol, maka suatu waktu beberapa tahun lalu, dia terpilih sebagai anggota DPR terpopuler. Yang melakukan jajak pendapat adalah Litbang Harian Kompas. Selama empat hari, tanggal 16 sampai dengan 19 Desember 1999, Kompas mengumpulkan pendapat masyarakat, siapa tokoh-tokoh nasional terpopuler di berbagai bidang seperti politik, ekonomi, hukum, militer, olahraga, dan seni. Sebanyak 1629 responden pemilik telepon, yang berasal dari Jakarta, Sura-baya, Medan, Makassar, Yogyakarta, Manado, Denpasar, Pekanbaru, Lampung, Samarinda, Banjarmasin, Pontianak, dan Jayapura berhasil ditanyai oleh Kompas secara acak. Setiap pertanyaan disusun dengan jawaban terbuka sehingga memungkinkan setiap responden untuk memberikan jawaban secara bebas terhadap tokoh yang menjadi pilihannya. Di samping itu, setiap responden juga diwajibkan memberikan alasan dasar pemilihan tokoh tersebut. Hasilnya? Meskipun Akbar Tanjung begitu gencar diserang lawan-lawan politiknya ketika itu, ternyata menurut hasil jajak pendapat tersebut, sebagian besar responden memilih Akbar Tanjung sebagai Anggota DPR yang paling dikagumi pada tahun 1999 dengan meraih angka 42,6 persen. Pilihan tersebut cukup besar jumlahnya, jauh melebihi dukungan terhadap tokoh-tokoh lainnya seperti Amien Rais (5,8 persen) dan Khofifah Indar Parawansa (5,1 persen). Menurut sebagian besar responden, kekaguman mereka kepada Akbar Tanjung karena tokoh ini mau mengakui kekurangannya, tegas, punya keberanian, tenang, dan sabar. Orang sabar memang dikasihi Allah.

Di kalangan Partai Golkar sendiri, Akbar Tanjung dikenal sebagai sebuah kamus besar. Dia sangat konsisten mensosialisasikan paradigma baru Partai Golkar. Dia selalu bisa tampil pidato tanpa teks menjelaskan paradigma baru Partai Golkar dalam waktu hampir dua jam dengan bahasa sederhana, namun memiliki kedalaman dan mengalir laksana sedang membaca sebuah buku, dan tidak membosankan. Pertemuan-pertemuan partai di mana pun, selalu dimanfaatkannya dengan baik untuk memberikan pendidikan politik. Pendidikan politik menurut Akbar sangat penting agar seluruh anggota partai memahami dengan baik hak dan kewajibannya, mampu berpikir rasional, tidak hanya mengedepankan emosionalitas.

Akbar gemar mengajak pihak lain berdialog. Dia sangat percaya akan kekuatan dialog. Dengan berdialog kita dapat mensosialisasikan gagasan-gagasan dan pemikiran kita dan dengan berdialog pula kita bisa memahami gagasan-gagasan dan pemikiran orang lain. Oleh karenanya Akbar Tanjung selalu membangun suasana yang dialogis dan itu pula yang dikembangkan dalam tubuh Partai Golkar yang dipimpinnya.

Hari-hari terakhir ini, orang besar dari Desa Sorkam itu mendapat ujian yang besar. Kekuatan yang dihadapinya besar, baik kekuatan hukum yang memang besar, maupun kekuatan kekuasaan yang berbeda kepentingan dengan Akbar. Tragisnya semua mengusung supremasi hukum.

Thomas Hobbes pernah mensinyalir adanya kecenderungan manusia berperang melawan sesamanya dalam rangka memenuhi kepentingannya (bellum omnium contra omnes). Tapi kecenderungan itu tidak boleh dibiarkan menjadi liar. Siapa yang akan mengendalikan kecenderungan itu? Hukum! Hukum adalah produk politik, tapi ketika hukum telah terbentuk maka semua "makhluk" politik harus tunduk pada hukum. Apabila politik tidak tunduk kepada hukum, apalagi makhluk politik berupaya mengintervensi hukum, maka kekuasaan atau tahta yang menjadi muara dari sebuah perjuangan politik, akan menjadi langit-langit yang tak tersentuh. Dan kekuasaan akan ber-metamorfosis menjadi Sang Leviathan ala Thomas Hobbes, dengan kekuasaan mutlak tergenggam di tangan. Mengerikan.


(17 - 23 Maret 2002)


Tulisan ini sudah di baca 113 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/121-Akbar-Tanjung.html