drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Mr. Lee


Oleh : drh.chaidir, MM

Hubungan Indonesia dan Singapura akhirnya memanas. Naiknya eskalasi konflik Indonesia dan Singapura ini diakibatkan oleh pernyataan Menteri Senior Singapura, Lee Kuan Yew, yang menyatakan bahwa di Indonesia terdapat jaringan terorisme, yang sewaktu-waktu dapat mengancam Singapura.

Pernyataan Lee tersebut segera mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan di Indonesia. Mulai dari mahasiswa, masyarakat, sampai ke kalangan DPR dan MPR. Bahkan, secara khusus, Ketua MPR, Amien Rais, sempat mengeluarkan nada keras menanggapi hal tersebut, dan meminta pemerintah segera mengeluarkan pernyataan resmi. Sejalan dengan itu, demonstrasi menentang pernyataan Lee marak di mana-mana. Mulai dari Jakarta, khususnya di depan Kedutaan Besar Singapura di Indonesia, sampai ke tingkat propinsi seperti Pekanbaru, dan beberapa daerah lain.

Menyikapi hal tersebut, menurut saya, kemarahan rakyat Indonesia adalah sesuatu yang semestinya. Pernyataan tersebut tidak hanya mendiskreditkan gerakan Islam, tapi juga menyinggung perasaan sebuah bangsa, yang implikasinya dapat pula merusak citra Indonesia dalam pergaulan internasional, khususnya setelah terorisme menjadi suatu hal yang menakutkan pasca serangan terhadap WTC, 11 September 2001, yang berikut pula dengan serangan Amerika ke Afganistan. Tambahan pula, Lee ternyata tidak dapat menunjukkan bukti-bukti terhadap apa yang dituduhkan.

Sungguh, kita sangat menyayangkan sikap yang ditunjukkan oleh Lee Kuan Yew, ataupun pemerintah Singapura dalam kasus ini. Seharusnya, sebagai dua negara yang bersahabat, bertetangga sangat dekat dan satu kawasan, sikap yang harus dikembangkan adalah saling menghargai antara satu sama lain dalam semangat persekutuan. Sikap Lee, sepertinya menunjukkan suatu iktikad yang tidak bersahabat, sebagaimana layaknya dua negara tetangga.

Sebetulnya, tidak hanya dalam hal ini saja Indonesia menyimpan rasa kecewa terhadap Singapura. Sebelumnya, ketika Indonesia sedang dilanda oleh keadaan yang menakutkan secara ekonomi pasca gerakan refor-masi, dan ingin melakukan proses hukum terhadap kekayaan sejumlah konglomerat, Singapura justru membuka pintu kepada sejuirdah konglomerat yang ingin nielin dungi asetnya. Betapa banyak konglomerat Indonesia yang menyimpan uangnya di bank-bank Singapura, bahkan ada yang menggunakan praktik "money laundrying" (cuci uang). Mestinya Singapura pada waktu itu melihat bahwa Indonesia berada dalam kondisi krisis. Masalah program reklamasi pantai di Singapura dengan menggunakan pasir laut dari Riau misalnya, telah menyinggung perasaan masyarakat Riau. Pemerintah Singapura demikian saja berlepas tangan dengan mengatakan masalah impor pasir laut itu bukan urusan pemerintah.

Kekecewaan Indonesia sekarang ini, menurut saya, sudah merupakan akumulasi dari sejumlah kekecewaan yang ada terhadap Singapura, baik secara ekonomi maupun politik. Padahal jika kita ingin jujur, sesungguhnya Indonesia, seperti juga Riau misalnya, telah memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan Singapura, melalui mekanisme perdagangan yang tidak seimbang.

Sikap yang ditunjukkan oleh Lee yang membuahkan kemarahan rakyat dari satu sisi, dan tanggapan pemerintah yang belum jelas pada sisi yang lain, membuat saya tiba-tiba teringat kepada Presiden Soekarno. Saya pun berandai-andai, jika pada saat ini Indonesia diperintah oleh Soekarno, maka saya yakin tanggapannya akan berbeda. Bukan suatu hal yang luar biasa bila keluar perintah: sebelum ayam jantan berkokok esok hari Singapura harus direbut. Generasi tua tentu masih ingat bagaimana dulu ada operasi Ganyang Malaysia. Perintah sebelum ayam jantan berkokok itu tentu akan menimbulkan benturan militer yang dahsyat.

Tapi pemerintahan sekarang adalah pemerintahan Megawati Soekarnoputri, bukan pemerintahan Soekarno, dan tatanan serta konstelasi ideologi, politik, dan ekonomi kawasan Asia Tenggara pun sudah berubah. Lebih dari itu, kita juga tentu tidak ingin mengedepankan atau menggunakan tanggapan dengan cara yang demikian, sebab sebagai bangsa yang terhormat, kita tentu lebih dulu ingin mengedepankan cara yang terhormat.

Saya tidak ingin lebih jauh mengomentari ending dari ketegangan ini, meski sepanjang yang saya ketahui, pernyataan yang tidak mengenakkan dari Menteri Senior Singapura bukanlah barang baru, khususnya dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia pun bukan satu-satunya negara yang pernah tertikam "lidah tajam" Lee. Pemerintah Malaysia pun pernah tersinggung oleh Singapura, khususnya ketika pemerintahan Mahathir dikritik atas kebijakan memberikan keistimewaan terhadap bumi-putera, Melayu.
Lee juga kabarnya pernah membuat orang Melayu Singapura tersinggung oleh pernyataannya. Dalam pernyataannya, Lee Kuan Yew meragukan ketinggian nasionalisme tentara Singapura yang berasal dari etnis Melayu, jika kelak berhadapan dengan Malaysia secara militer. Yang terakhir ini memang soal dalam negeri me-reka, tapi rentetan peristiwa itu menunjukkan bahwa Lee memang sering bersikap demikian.

Seperti yang saya katakan di atas, kita menyayangkan sikap yang demikian, namun terlepas dari siapa pun Lee dan bagaimanapun kedudukan Singapura secara ekonomi dan politik, maka sebagai bangsa yang memiliki martabat, kita memang perlu meminta secara tegas kepada Singapura untuk memberikan klarifikasi dan meminta maaf atas pernyataannya.

Sikap tegas ini perlu untuk mengajarkan kepada Lee, atau kepada siapa pun juga, bahwa dalam kondisi yang bagaimanapun, mereka tidak punya hak untuk semena-mena dalam memandang negara lain. Jika ketegasan ini tidak kita berikan, maka orang kelak akan memandang sebelah mata terhadap eksistensi Indonesia sebagai sebuah negara yang bermartabat.

Sekali lagi, kita menyayangkan sikap tidak bersahabat ini. Namun demikian, kita juga harus menyikapi persoalan yang ada dengan hati-hati dan berkepala dingin. Jika kita tidak hati-hati, atau hanya mengedepankan emosi, maka kita justru akan terbelit pada tali konflik yang memanjang.


(10 - 16 Maret 2002)


Tulisan ini sudah di baca 99 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/120-Mr.-Lee.html