drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Jefri Noer


Oleh : drh.chaidir, MM

Sampai kartu suara yang ke 44 dibuka, skor masih imbang antara sang calon unggulan Zulher dengan sang "kuda hitam" Jefri Noer: 22 vs 22. Kartu suara terakhir, kartu suara ke-45, dibuka dengan hati-hati oleh Panitia Pemilihan yang tampak ikut tegang: Jefri Noer! Maka, dengan memperoleh 23 suara, yang berarti lebih dari setengah Anggota DPRD Kampar, resmilah Jefri Noer terpilih sebagai Bupati Kampar, Propinsi Riau periode 2001 - 2006. "Pertandingan" mendebarkan itu sebelumnya telah terjadi pada babak penyisihan ketika kedudukan imbang terjadi antara Syawir Hamid dan Jefri Noer: 13 lawan 13. Sementara Zulher telah melenggang lebih dulu ke babak final dengan mengantongi 18 suara. Jefri pada saat gen-ting itu berhasil memperoleh tambahan satu suara sementara Syawir terpaku pada 13 suara. Ibarat pertandingan sepak bola, perjuangan Jefri Noer untuk menjadi juara cukup sengit. Semua pertandingan dimenangkannya melalui "adu pinalti".

Banyak hal yang menarik dalam proses pemilihan Bupati Kampar kali ini, apalagi dengan tampilnya Jefri Noer sebagai pemenang dan dengan demikian menjadikan dia sebagai pucuk pimpinan Kampar, orang yang didulukan selangkah dan ditinggikan seranting di masyarakat. Jefri adalah orang swasta murni, sama seperti Rusli Zainal, Bupati Indragiri Hilir, yang untuk pertama kalinya di Riau berhasil menjungkirbalikkan tradisi, bahwa jabatan kepala daerah adalah porsi orang-orang birokrasi atau TNI. Dan sampai saat ini, walaupun pada awalnya ada kalangan yang skeptis, Rusli Zainal dalam pemantauan saya telah menunjukkan kinerja yang brilian sebagai Bupati Indragiri Hilir. Rusli Zainal telah mem-berikan garansi bahwa orang swasta layak menjadi kepala daerah.

Sebenarnya Bupati Rokan Hulu, Ramlan Zas, juga bukan berasal dari birokrasi atau TNI, tetapi dengan pengalamannya yang hampir 10 tahun menjadi Anggota DPRD Propinsi Riau, apalagi latar belakang profesinya sebagai pengacara, saya tidak menggolongkan Ramlan Zas sebagai swasta murni. Di samping itu, Ramlan Zas belum lagi cukup setahun menempati posisinya di singgasana Rokan Hulu, sehingga terlalu dini untuk memberikan suatu penilaian walau sifatnya kualitatif sekalipun.

Entah terpengaruh oleh kawan-kawannya dari Indragiri Hilir, entah tidak, kenyataannya DPRD Kampar telah memilih orang swasta untuk menjadi nakhoda "perahu" Kampar selama lima tahun ke depan. Tapi itu sama sekali tidak relevan untuk dikaji. Yang relevan adalah, Rusli Zainal dengan kepiawaian lobinya telah sukses di Inhil, maka Jefri Noer harus lebih sukses lagi sebagai nakhoda Kampar, apalagi duetnya Zakir BS adalah birokrat yang berpengalaman. Rasa optimis itu agaknya bukan sesuatu yang mustahil. Walaupun masih muda dalam usia, tetapi Jefri bukanlah orang baru dalam dunia organisasi dan kepartaian, dan sebagai anak negeri produk lokal alias putra daerah (meminjam istilah orang pusat), tentu seluk-beluk wilayah yang dipimpinnya tidak lagi asing bagi Jefri. Sebagai orang swasta murni, yang sudah ter-biasa dengan "dunia pendekatan", Jefri tentu tahu benar bagaimana cara melakukan pendekatan ke bawah, ke atas, dan ke samping. Itu makanannya sehari-hari.

Keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh seorang seperti Jefri adalah keberaniannya untuk mengambil risiko tanpa ada keragu-raguan. Ini nilai-nilai enterpreneurship yang sudah melekat pada dirinya. Perjuangan (dan ini agaknya juga berlaku untuk pembangunan) memerlukan keberanian dan keyakinan. Orang yang tidak per-nah berani mengambil risiko dan selalu ragu-ragu hanya akan menuai kekalahan dan kepedihan. Apabila platform enterpreneurship ini berhasil diadopsi dan menjadi platform perjuangan daerah maka saya yakin Kampar ke de-pan akan semakin solid dan hebat. Hanya saja memang hams diingat, apabila sebelumnya keberanian mengambil risiko itu hanya akan membawa konsekuensi pribadi atau perusahaan, maka sekarang keberanian mengambil risiko itu membawa konsekuensi nasib daerah, nasib masyarakat luas sehingga apa pun risiko yang hendak di-ambil harus sungguh-sungguh diperhitungkan.

Ada sisi-sisi di mana Jefri tentu periu membuka diri untuk sebuah kompromi gagasan dan pemikiran, karena kehidupan bermasyarakat bukanlah pertimbangan ekonomi semata, atau pertimbangan politik, atau pertimbangan sosial semata. Kompromi pemikiran harus siap dipertimbangkan dalam arti tidak sepenuhnya apa yang telah menjadi konsep-konsep yang selama ini telah berhasil mengantarkan Jefri menjadi seorang pengusaha yang sukses dapat diterapkan, atau menekan dengan serendah-rendahnya kehendak orang lain. Kompromi adalah suatu keseimbangan yang memenuhi rasa keadilan dan sekaligus marwah.

Kampar adalah sebuah negeri yang sangat kental dengan adat istiadat dan iklim keagamaan. Kedua faktor ini boleh dikatakan merupakan faktor yang sangat dominan dalam masyarakat Kampar. Mengabaikan faktor ini sama dengan membuat masyarakat Kampar terasing di negerinya sendiri. Dan untuk hal seperti ini pun Jefri Noer kelihatannya sudah terbiasa. Dia akrab dengan lingkungan santri, bahkan dia telah memiliki sebuah pesantren di kawasan Rumbai.

Jefri tentu menyadari dan sependapat bahwa apa yang harus diperjuangkan hanya akan berhasil apabila didukung oleh suatu kehendak politik, kehendak ekonomi, kehendak sosial, dan kehendak budaya bersama yang lahir dan tumbuh dari persatuan masyarakat (societal cohesiveness). Apabila potensi pemuka-pemuka agama, pemuka-pemuka adat, dan eksponen pemuda dapat dipersatukan dalam sebuah semangat kebersamaan, maka ini akan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa. Namun masyarakat sendiri juga harus bersedia mengembangkan nilai-nilai kompromi. Dalam arti yang sederhana, demo-krasi, yang sekarang menjadi kata kunci, harus dimaknai bahwa kita bisa berbeda pendapat sebe;um keputusan diambil, namun setelah keputusan dibuat semua harus loyal kepada keputusan tersebut. Perbedaan, apalagi sampai pada tingkat pertikaian, sudah waktunya dihentikan, karena secara psikologis pertikaian itu melemahkan. Perbedaan pendapat adalah hal yang halal dan lumrah, sepanjang perbedaan itu membuat kita semakin dewasa dan produktif. Untuk apa perbedaan bila membuat kita berkecai-kecai.

"Oblivione sempiterna delendam" (Biarlah kepedihan peristiwa masa lalu tenggelam dalam tidurnya yang abadi). Kata-kata itu diucapkan oleh filsuf Cicero kepada masyarakat Romawi yang hampir terpecah akibat pem-bunuhan Julius Caesar. Cicero benar dengan ungkapan-nya, karena masa depan tetap lebih penting dari sebuah masa silam yang kelam. Jefri, selamat bekerja.

(11 - 17 November 2001)


Tulisan ini sudah di baca 129 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/118-Jefri-Noer.html