drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Panggil Aku Osama "Part Two"


Oleh : drh.chaidir, MM

Esai saya yang berjudul "Panggil Aku Osama" di Tabloid Mentari dua minggu yang lalu mendapat respon dari kawan-kawan muda yang membuat saya geli. Beberapa SMS masuk ke HP saya. "Bang Chaidir, panggil aku juga Osama," kata mereka. "Bang, aku memang Osama, namaku Osamah Kurniawan," kata yang lain. Yang membuat saya terkejut, Pak Abusamah, yang biasanya saya panggil Pak Abu, tidak lagi mau dipanggil Pak Abu, dia juga minta dipanggil Osama, mungkin karena secara secara fonetis bunyi pengucapan Abusamah memang mirip dengan Osama. Di Afghanistan ada Osama, di Pekanbaru ada Abusamah, begitulah kira-kira. Yang gila lagi ada teman yang memanggil suaminya Osama, dan menjuluki putranya Osama Junior. Edan!

Osama, lengkapnya Osama bin Laden adalah sebuah nama yang mendunia dan paling terkenal pasca tragedi Gedung WTC di New York dan Gedung Pentagon di Washington 11 September. Yang mempopulerkan nama itu justru Presiden Amerika Serikat George Walker Bush yang amat sangat membenci Osama. Presiden Bush mengajak seluruh penjuru dunia memerangi dan menangkap Osama hidup atau mati. Tentu ada yang setuju ada yang tidak, ada yang wait and see, ada yang me-nunggu di muara (hanya menunggu hasilnya saja), tetapi ada juga yang seperti baling-baling di atas bukit, tergantung ke mana angin bertiup.

Sesungguhnya Osama bin Laden bukan levelnya George W Bush. George W Bush adalah presiden dari satu-satunya negara superpower di dunia saat ini, tokoh dunia yang sangat terkenal, dihormati, disegani, dan tinggal di gedung putih yang mewah. Ibaratnya, kumis ada, jenggot pun punya. Presiden Amrik cing! Opo ora hebat! Sementara Osama bin Laden, konon memang kaya, tetapi dia bukan tokoh dunia. Afghanistan yang miskin berantakan dan disorder itu pun bukan dia yang mengepalai. Dia hanya "anak dagang" di Afghanistan. Osama lebih tepat disebut nomaden karena tempat tinggalnya berpindah-pindah dari satu bunker ke bunker yang lain, dari satu kemah ke kemah lain. Dalam bahasa gaulnya, Bush adalah somebody, sementara Osama nobody. Kasihaaan deh lo!

Kalau menggunakan gaya kepemimpinan Jawa, Bush harus diupayakan mati-matian tidak akan pernah menyebut nama Osama bin Laden. Bush tidak perlu menyebut Osama sebagai musuh nomor satu, karena kalau dilakukan demikian maka sang lawan akan merasa hebat sekali. Perlu ada rekayasa agar orang lain yang memunculkan nama Osama, sedangkan sang pemimpin akan hemat berkomentar. Kalaupun berkomentar dia akan mengatakan: mungkin bukan dia orangnya, orang itu hanya kaliber pencuri ayam. Pokoknya bagaimana rivalnya direndahkan martabatnya. Tapi Bush bukan orang Jawa. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya. Kini foto Bush dan Osama bergandengan di mana-mana seperti dua sejoli. Bush telah membuat Osama selevel dengannya.

Kini, ketika kaitan Osama bin Laden dengan tragedi Gedung WTC dan Gedung Pentagon belum lagi menampakkan titik-titik terang bahkan semakin kusut, muncul pula tuduhan lain untuk Osama yang tidak kalah dahsyatnya. Osama dituding oleh Wakil Presiden Amerika Serikat, Dick Cheeney, sebagai otak di balik penyerangan AS dengan senjata biologi (biological weapon) melalui penyebaran kuman anthrax di Amerika Serikat.

Amerika tampaknya tak putus dirundung heboh. Setelah tragedi 11 September yang menjadi tragedi abad ini, kini AS kembali heboh. Negeri Paman Sam itu diserang kuman anthrax. Kuman anthrax adalah sejenis kuman yang biasanya menyerang ternak sapi, kambing, kuda, atau domba. Tetapi penyakit anthrax disebut penyakit zoonosis karena termasuk penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia. Apabila individu yang tercemar tidak dapat diidentifikasi secara dini, maka individu tersebut dalam bahaya kematian, sebab kuman Bacillus anthracis yang menyebabkan penyakit anthrax tersebut di dalam tubuh penderita akan menghasilkan toksin atau racun yang mematikan. Bila diketahui secara dini obatnya sebetulnya mudah, yaitu dengan suntikan antibiotik. Penyebaran kuman anthrax memang tidak secepat virus HIV, tetapi yang menyulitkan dalam pemberantasan penyakit anthrax adalah kuman itu sukar untuk dimusnahkan, apalagi bila sudah tercecer ke mana-mana. Kuman ini bisa hidup selama empat puluh tahun dalam spora di tanah, untuk kemudian akan kembali berkembang biak apabila lingkungannya favourable (menguntungkan).

Untuk suatu negeri di mana anthrax ditemukan secara sporadis, penyakit tersebut tidak terlalu menjadi momok, tetapi untuk negeri yang modern dan perfeksionis seperti AS, pencemaran kuman anthrax tersebut merupakan musibah besar dan menakutkan. Dan yang lebih mengancam AS sebenarnya adalah meluasnya rasa ketakutan, kepanikan, dan ketidaknyamanan. Warganya tidak lagi bebas. Pemerintah terpaksa mengeluarkan seperangkat petunjuk, larangan ini itu dan sebagainya, yang sesungguhnya tidak disenangi oleh warganya yang sudah terbiasa bebas. Sebagai sebuah negara superpower, mereka sekarang mengalami demoralisasi.

Jadi adalah sangat wajar apabila AS kalang-kabut menghadapi senjata biologis tersebut. Amerika membombardir Afghanistan dengan rudal dari pesawat tempur dan kapal induk, sementara AS sendiri dibombardir dengan kuman anthrax atau entah apalagi. Hanya saja, siapa yang mengirim kuman-kuman tersebut belum dapat dibuktikan, masih misterius. Kambing hitam yang paling mudah adalah Osama bin Laden.

Di sisi lain, setakat ini Osama bin Laden justru semakin kuat dengan semakin banyaknya dukungan moral dari seluruh penjuru dunia, bahkan terkesan berlebihan. Kemungkinan bahwa Osama betul berada di belakang tragedi Gedung WTC dan Gedung Pentagon serta penyerangan AS dengan seniata biologi kuman anthrax telah diabaikan. Betul atau tidak tudingan AS itu tidak lagi dipertimbangkan. Orang hanya melihat kondisi terkini, AS dengan pesawat-pesawat tempur super canggihnya dan perlengkapan perang yang super lengkap telah menghajar sebuah negara kecil dan lemah. Dan yang menggugah rasa simpati, si kecil dan si lemah yang tidak berdaya itu bertekad melawan terus sampai tetesan darah menghabisan, walaupun dia akan hancur lebur. Pemimpin Taliban Afghanistan Mullah Mohammad Omar dengan semangat pantang menyerah mengatakan hanya ada dua pilihan "kematian atau kemenangan". Satu hal: Mereka tetap tidak akan menyerahkan Osama bin Laden.

Semua sudah terbawa arus, entah hikmah dan pembelajaran apa yang bisa kita petik dari tragedi peradaban ini, sementara korban terus saja berjatuhan. Mengherankan, tidak ada nuansa ketakutan di sana. Dan orang semakin banyak saja yang menyebut dirinya Osama. Rasa-rasanya, walaupun kelak Osama akan luluh lantak di terjang rudal atau bom Amerika, masalahnya juga tidak akan usai, karena akar permasalahan sesungguhnya tidak terungkai.


(21 - 27 Oktober 2001)


Tulisan ini sudah di baca 110 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/117-Panggil-Aku-Osama-%22Part-Two%22.html