drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Panggil Aku Osama


Oleh : drh.chaidir, MM

Ketika Perang Teluk berkecamuk, awal tahun 1991, saya sedang studi di Reggio Emilia, Italia, sebuah kota kecil tidak jauh dari Bologna. Beberapa kawan sekelas yang mengikuti program ini yang berasal dari negara-negara Afrika, seperti Aljazair, Tunisia, Tanzania, Kenya, Mesir, dan Senegal benar-benar mengagumi Saddam Hussein, Presiden Irak yang gagah berani melawan Amerika. Sebaliknya, mereka sangat membenci Presiden Amerika Serikat George Bush (ayah dari George W Bush. Presiden AS yang sekarang)

Suatu kali saya disodori teka-teki oleh Lalou Fadhilla, seorang kawan yang berasal dari Aljazair: "Siapa cowok yang paling ganteng di dunia?" (dalam bahasa Italia tentu). Sambil senyum-senyum cewek cantik ini memberi saya kesempatan beberapa saat berpikir. Saya tahu ini bukan pertanyaan yang serius. Saya pun menjawab sekenanya, "Saddam Hussein!" Kawan saya itu bersorak gembira, ternyata saya "betul". "Vero, vero, davero! Tu sei bravo il mio fratello" (Betul, sangat betul, kamu hebat sekali saudaraku)," jerit Fadhilla.

Saddam Hussein memang kalah secara fisik dalam Perang Teluk (siapa yang bisa melawan kedigdayaan Amerika?), dan Irak kemudian dikenai embargo oleh AS bersama sekutu-sekutunya. Tapi Saddam Hussein memenangkan hati tidak hanya umat Islam di seluruh dunia, juga negara-negara dunia ketiga yang terpinggirkan. Saddam Hussein menang moril dan menjadi pahlawan di mata rakyatnya, apalagi kemudian, Presiden AS yang menghajarnya, tumbang silih berganti. George Bush dikalahkan Bill Clinton dan Clinton dikalahkan George W Bush, dan Saddam masih berdiri di sana, tak ada "matinya".

Maka kemudian ketika saya pulang ke tanah air, saya tidak terkejut ketika kawan saya Ir. Nasrun Effendi, mantan Ketua AMPI Propinsi Riau, memberi nama anaknya Saddam. Sebuah kedai kopi di Pasar Pusat di Pekanbaru pun diberi nama Kedai Kopi Saddam. Mungkin masih banyak Saddam-Saddam yang lain, seperti juga orang-orang memberi nama anaknya Habibie atau Mega, sebagai wujud sebuah kekaguman.

Dan kini, muncul fenomen baru: Osama bin Laden! Anda tentu ternganga dan terbelalak melihat menara kembar pencakar langit WTC di New York ditabrak dua buah pesawat komersial dan kemudian runtuh ke bumi tapi saya yakin, anda kembali ternganga ketika menyadari kenyataan-kenyataan lain yang mengekori bencana tersebut. Osama bin Laden, dituduh sebagai tokoh yang berada di balik aksi teror ini. Tokoh yang konon dikenai sebagai pribadi pemalu dan jarang tampil di muka umum ini, dicap sebagai ekstrimis Islam yang sangat anti-Amerika. Tuduhan itu agaknya muncul dari beberapa indikasi yang dirangkai oleh AS dari beberapa ancaman permusuhan yang dikumandangkan Osama bin Laden, terutama kegeraman Osama terhadap Amerika dan Israel dalam masalah Palestina.

Maka, Pemerintah Taliban yang berkuasa di Afghanistan, di mana konon Osama bermukim, dan menurut Amerika menyembunyikan Osama, diberi ultimatum oleh AS: apabila dalam tempo 3 x 24 jam tidak menyerahkan Osama, maka AS bersama sekutunya akan melakukan ope-rasi militer terhadap Afghanistan. "Kami tidak memerangi Afghanistan, kami hanya mencari dan menangkap Osama," begitu kata AS. Dari mana AS belajar mengultimatum 3 x 24 jam itu? Sebab sepengetahuan saya, yang pertama mensosialisasikan ultimatum tempo 3 x 24 jam itu adalah ARUK (Aliansi Riau Untuk Kuasai CPP Block), sebuah aliansi dari beberapa kelompok pergerakan pemuda dan mahasiswa di Riau yang mengultimatum pemerintah pusat dalam masalah perpanjangan kontrak salah satu ladang minyak di Riau. Lalu beberapa hari kemudian disusul oleh Polda DKI Jakarta yang juga memberikan ultimatum 3 x 24 jam kepada Tommy Soeharto agar menyerah. Dan AS pun kemudian ikut-ikutan latah menggunakan senjata ultimatum 3 x 24 jam, walaupun agaknya hanya gertak sambal.

Betul atau tidak Osama bersalah, tudingan itu telah membuat heboh. Kalau betul misalnya, alangkah dahsyatnya orang yang bernama Osama bin Laden ini. Dari bunkernya di Afghanistan, sebuah negeri yang porak-poranda akibat perang saudara, dia bisa mengendalikan sebuah operasi mahapenting dan maharahasia. Sungguh luar biasa! Tentulah Osama bukan orang sembarang orang, dan tentulah Osama memiliki peralatan komunikasi yang super canggih, yang mengalahkan peralatan komunikasi super canggihnya AS. Tidak cukup hanya dengan saling kirim SMS. Kalau tidak super canggih, tentulah jaringan komunikasi Osama akan dengan mudah disadap oleh jaringan intelijen AS. Apalagi selama ini Osama bin Laden, dalam perspektif AS, adalah seorang teroris yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) nomor wa-hid di sono yang selalu diteropong keberadaannya.

Namun, masyarakat tentu belum lupa sepenuhnya ketika nama Osama bin Laden juga pernah mencuat berhari-hari setelah peristiwa pengeboman gedung federal AS di Oklahoma City yang juga menewaskan banyak korban. Ironisnya, kendati penyelidikan tertuju kepada Osama, namun akhirnya diketahui pengeboman dilakukan oleh mantan serdadu AS, Timothy McVeigh, yang mengalami depresi hebat. Keliru kan?

Kalau tudingan kepada Osama kembali salah seperti kasus Oklahoma City itu, maka alangkah gegabahnya AS mencari kambing hitam, apalagi dengan mengerahkan armadanya: darat, laut, dan udara. Itu artinya sama saja Amerika menabur angin. Dan sudah menjadi hukum alam, siapa menabur angin akan menuai badai. Coba lihat, belum lagi terbukti Amerika salah sasaran, mereka pun telah menuai badai. Gelombang aksi anti-Amerika ini, juga membuat kita ternganga. Walaupun Presiden AS George W Bush telah mengumpulkan tokoh-tokoh muslim di seluruh negeri Paman Sam dan membuat pernyataan bahwa Amerika bukan memerangi umat Islam, tetapi memerangi teroris, namun polarisasi sudah telanjur mengental dan simpati sudah mengalir kepada si lemah. Kita juga ternganga melihat reaksi yang berlebihan terhadap Amerika, seperti aksi-aksi sweeping yang memalukan, aksi-aksi pembakaran bendera. dan sebagainya. Osama pun dibela habis-habisan walaupun belum jelas siapa sesungguhnya Tuan Osama bin Laden ini. Teroriskah atau pahlawan.

Musibah gedung WTC dan Pentagon merupakan pil yang teramat pahit bagi AS dan juga telah menyibakkan banyak hal tentang perilaku kita. Sepatutnya AS dan kita belajar banyak dari kasus ini. Pihak lemah yang terpojok sangat mudah meraih simpati. Dan itu diperoleh Osama. Sehingga saya pun mahfum ketika suatu siang beberapa hari yang lalu sebuah SMS masuk ke HP saya: "Bang, panggil aku Osama".


(7 - 13 Oktober 2001)


Tulisan ini sudah di baca 178 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/116-Panggil-Aku-Osama.html