drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Membaca Amien Rais


Oleh : drh.chaidir, MM

Siapa tak kenal Amien Rais. Tokoh kunci Poros Tengah ini adalah orang yang paling berjasa dalam mendudukkan Gus Dur di singgasana kepresidenan, tetapi kemudian dia pula yang paling berjasa mengusung Gus Dur turun dari singgasana dan memfasilitasi haiknya Megawatt Soekarnoputri. Anda boleh bilang apa saja, tapi fakta menunjukkan Amien Rais layak diberi julukan "Kings Maker".

Dalam Sidang Umum MPR tahun 1999, Amien Rais selaku pemimpin Poros Tengah, konon mendatangi Gus Dur dan berbasa-basi menawarkan kepada Gus Dur apakah bersedia dipilih menjadi presiden. Konon, sekali lagi konon, jawaban yang diharapkan Amien ketika itu adalah, dengan keterbatasan fisiknya, Gus Dur akan menjawab: tidak bersedia. Bila Amien bertanya basa-basi, Gus Dur pula menjawabnya tanpa basa-basi: dia bersedia! Maka, pertanyaan tidak mungkin diulang lagi dan Gus Dur pun melenggang kangkung. Momen ini, entah benar entah tidak, sering menjadi bahan cerita politik di warung kopi.

Amien Rais adalah tokoh reformasi yang paling terkenal, ucapan-ucapannya orisinil dan sering membuat orang kebakaran jenggot. Tanpa segan-segan dia mengatakan bahwa Indonesia akan segera memiliki kepemimpinan nasional yang baru. Padahal pada pertengahan Juli 2001, ketika Amien membuat statement politik itu, Gus Dur kan sedang garang-garangnya. Maka tak ayal lagi, Gus Dur pun menantang adu kekuatan dan langsung mengeluarkan rudalnya: dekrit! Untung rudal itu tidak mengenai sasaran, alias luput. Kalau tidak luput, sasarannya pasti sudah luluh lantak.

Dekrit adalah senapan pamungkas Gus Dur yang sudah sering diacung-acungkannya untuk menakut-nakuti lawan. Senapan itu kemudian sungguh-sungguh dipergunakannya, tetapi ternyata tidak lagi mangkus, bahkan kalau boleh disebut, senjata makan tuan. Terdorongnya dekrit dikeluarkan oleh Gus Dur, bisa jadi sebuah skenario politik tingkat tinggi, namun bisa juga kebetulan. Banyak pengamat mengatakan, dekrit itu "blessing in disguise" - suatu kejadian yang memberikan berkah. Situasi cepat menjadi matang, walaupun terkesan matang dikarbit. The game is over!

Amien Rais memang terkenal ceplas-ceplos. Sepertinya kalau bicara tak ambil pusing, layaknya tidak memiliki saraf takut. Atau saraf takutnya telah lama putus. Perihal keberanian yang nilainya 150 ini, ada yang berseloroh, jangan-jangan Pak Amien juga memiliki jin sebagai body guardnya.

Tidak dapat disangkal, hiruk pikuknya panggung politik nasional lima tahun terakhir ini telah memberikan peluang bagi Amien Rais untuk menancapkan benderanya. Amien Rais kelihatannya menemukan habitatnya pada keadaan yang tidak menentu (uncertainty) dan keadaan yang tidak dapat diperkirakan (unpredictable). Tentu masih segar dalam ingatan kita, saat awal bergulirnya gerakan reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa. Petinggi-petinggi seperti cacing kepanasan dan kehilangan muka dihujat kiri-kanan hari demi hari, tetapi tidak dengan Amien Rais. Amien laksana burung merak mengepak-ngepakkan sayapnya kian kemari. Amien ibarat ikan dan mahasiswa ibarat kolamnya. Amien bisa membawakan diri secara pas dan ungkapan-ungkapannya terasa mengena dengan selera mahasiswa.

Ketika Gus Dur naik ke singgasana kepresidenan dengan atribut ulama intelektual dan membawa segudang predikat, tokoh prodemokrasi, reformis, tokoh Islam, tokoh pencerahan dan mulai melakukan gebrakan demi gebrakan, Amien seakan tenggelam. Suaranya sayup-sayup terdengar, atau bahkan nyaris tak terdengar. Dia kemudian baru bangun dari lelap ketika Gus Dur mulai kehilangan keseimbangan akibat bisikan-bisikan yang agaknya tidak akurat, sehingga melakukan beberapa blunder. Amien pun mulai "bernyanyi" dan mendendangkan lagu untuk sohibnya Gus Dur: "Kau bukan dirimu lagi". Dan koor pun mulai memanasi Amien: "Kau yang memulai kau yang mengakhiri". Maka sejarah pun berulang.

Amien Rais kelihatannya sangat menikmati habitatnya: situasi yang kacau-balau dan suasana yang mencekam. Semakin tertekan semakin dia menampakkan diri. Oleh karena itu, ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan Amien Rais, menurut hemat saya, bukan bagaimana ia keluar dari situasi sulit, tetapi bagaimana dia unjuk gigi di masa damai. Di masa sulit, jelas dia sudah teruji.

Oleh karena itu, saya tidak begitu heran kenapa Pak Amien tidak berceramah secara panjang lebar dalam peringatan Hari Ulang Tahun Partai Amanat Nasional se-Sumatra di Balai Dang Merdu, Pekanbaru, Riau. Padahal kesempatan seperti itu lazimnya akan dipergunakan dengan baik oleh seorang pemimpin partai untuk memberikan pemantapan platform partai terhadap para anggotanya yang jauh-jauh datang ingin mendengarkan wejangan pemimpinnya. Ketika Amien Rais memulai pidatonya dengan mengatakan, "Saya tidak akan berbicara panjang lebar." Kontan beberapa hadirin nyeletuk agar pidatonya panjang. Pak Amien mungkin belum tahu, di Pekanbaru harus ditanya dulu "mau panjang atau pendek"?

Saya membaca, Pak Amien mungkin sedang tidak mood, atau masih belum hilang letih ngurusin negara. Tetapi setelah agak lama saya renungkan, saya menyadari kenapa Pak Amien kurang bersemangat untuk berpidato. Iklim kehidupan berbangsa yang kondusif seperti sekarang agaknya bukan habitat yang sesuai bagi tokoh yang bernama Amien Rais. Sasaran tembaknya saat ini memang sudah tidak ada lagi. Ibu Mega terlalu dini untuk dikritik, belum cukup alasan untuk dikirimi rudal, seperti yang dilakukannya terhadap Gus Dur ketika menyampaikan pidato dalam pembukaan Musyawarah Wilayah PAN Riau beberapa waktu yang lalu. Ketika itu tanpa basa-basi Amien Rais melontarkan beberapa rudal scud-nya. Amien Rais bukan tidak pernah memancing, dia mengkritik kunjungan Ibu Mega berkeliling ASEAN, tetapi kritik ini tampaknya tidak direspon oleh "pasar". Atau itu hanya sekadar kritik basa-basi. Hamzah Haz pula, sebagai tokoh yang tersisih dari kumpulan Gus Dur ketika berkuasa, adalah figur yang layak pada posisinya sekarang, juga belum memiliki celah untuk dikritik. Sementara Akbar Tanjung terlalu santun untuk dikirimi rudal, lagi pula kan sesama anggota majelis. Bukankah sesama bus kota dilarang saling mendahului?


(9 - 15 September 2001)


Tulisan ini sudah di baca 182 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/115-Membaca-Amien-Rais.html