drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 4

Megawati Soekarnoputri


Oleh : drh.chaidir, MM

Ada catatan humanis dibuang sayang yang masih tersimpan rapi dalam disket saya tentang Ibu Mega. Ternyata, urusan banyol-membanyol tidak hanya milik Gus Dur, yang dikenal sebagai presiden yang paling humoristik di dunia. Bu Mega juga bisa melawak, walaupun saya yakin tidak ada obsesi beliau untuk dikenal sebagai seorang presiden yang humoris. Di sela-sela makan siang menjelang peringatan HUT PDI Perjuangan Propinsi Riau di Pekanbaru belum lama ini, Bu Mega, yang ketika itu undangan yang duduk mendampingi beliau di meja utama ketawa ria.

Selaku Ketua DPRD Riau, saya beruntung mendapat kehormatan duduk di sebelah kiri Bu Mega, sementara di sebelah kanan duduk Gubernur Riau Saleh Djasit. Suatu kali ketika menyaksikan karapan sapi (lomba balapan sapi) di Madura, Bu Mega bercerita, namanya dipanggil oleh protokol perlombaan. "Selanjutnya Mega kami persilakan tampil", Ibu Mega menirukan gaya protokol. "Tentu saja saya agak kebingungan, karena tanpa basa-basi protokol perlombaan memanggil nama saya," kata Bu Mega. "Yaak ... kami persilakan", kata protokol menegaskan. "Saya sudah hampir berdiri, ketika tiba-tiba muncul seekor sapi Madura. Saya baru sadar bahwa Mega yang di-panggil itu bukan saya, tapi seekor sapi," kata Ibu Mega sambil ketawa renyah. Kami semua dibuat Ibu Mega ketawa.

Karena yang mentertawakan diri sendiri itu adalah Ibu Megawati Soekarnoputri, yang waktu itu seorang wakil presiden, tentu saja ini membuat ger-geran kami yang mendampingi Bu Mega makan siang ketika itu, apalagi Bu Mega bercerita dengan akrab dan santai. Salah seorang pejabat teras di Riau berbisik kepada saya kemudian, "Ternyata senyum Ibu Mega itu manis sekali," katanya tulus. Wow ..., belum taaahu dia. Inilah antara lain yang membuat Pak Taufik Kiemas kesengsem.

Tunggu Bung, cerita banyol-membanyol belum habis. Bu Mega masih punya cerita tentang Ketua Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Bangil di Jawa Timur yang berperawakan kecil tidak meyakinkan. "Perawakannya bahkan lebih kecil daripada Ketua DPD PDI Perjuangan Propinsi Riau," kata Bu Mega sambil menunjuk Pak Suryadi Khusaini yang memang berperawakan kecil. "Tapi, kecil-kecil cabe rawit Iho, biar kecil tapi poeedes," kata Bu Mega dalam logat Jawa Timuran. "Buktinya", Bu Mega meneruskan, "Di zaman ketika masih ada istilah daerah bebas partai politik, Kabupaten Bangil itu termasuk daerah bebas parpol. Suatu kali saya didatangi oleh seorang aktivis partai, perawakannya kecil, benar-benar tidak meyakinkan. Dia bilang dia siap menjadi pengurus partai di Bangil. Saya tidak percaya, tapi si aktivis yang kecil itu tetap saja membandel, sampai kemudian ketika musim bebas parpol habis, dia jadi ketua cabang dan sekarang, eeh malah jadi bupati". "Kecil-kecil begitu kok bisa jadi bupati ya," canda Bu Mega senyum-senyum. Bu Mega mungkin belum tahu, orang kecil dan pendek itu umumnya cerdik. Sebab, konon (nah, ini alasan menurut Prof. Habibie, Presiden ketiga RI yang juga berperawakan kecil), orang kecil itu jarak antara perut dan otaknya lebih pendek sehingga suplai makanan dari perut ke otak lebih cepat. Itu konon. Betul atau tidak, wallahualam.

Kini Ibu Mega telah terpilih menjadi Presiden RI yang kelima. Akankah Bu Mega masih bisa bercerita dalam suasana santai dan akrab seperti itu? Kita belum tahu persis karakter Bu Mega, seperti misalnya karakter Gus Dur yang suka melawak. Dulu kita pernah mendengar nina bobok: Presiden pertama Bung Karno, sangat tepat karena waktu itu bangsa kita memerlukan seorang orator untuk membakar semangat mempertahankan kemerdekaan. Soeharto pula muncul pada masa yang tepat ketika bangsa kita harus mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Periode selanjutnya, kita memerlukan seorang presiden ilmuwan seperti Habibie yang dapat memberikan muatan teknologi karena kita akan tinggal landas. Tepat juga. Namun kemudian ternyata kita gagal tinggal landas bahkan akhirnya terjebak dalam krisis multidimensi yang hampir-hampir membuat kita putus asa, maka sangat tepat kita memiliki seorang presiden yang humoris seperti Gus Dur, semuanya kelihatan ringan, begitu aja kok dipikirin.

Semuanya bisa disebut muncul tepat sesuai dengan zamannya, namun sayangnya semua turun dari singgasana dalam keadaan yang mengenaskan. Karakter mereka telah terbunuh oleh keadaan secara kejam, sehingga mereka kehilangan elannya. Gus Dur misalnya, tidak lagi bisa merespon secara kocak serangan dari lawan-lawan politiknya. Padahal di awal kepemimpinannya, ketika dia disuruh mundur, dengan kocak Gus Dur menjawab, "Maju saja susah, kok disuruh mundur." Atau ketika dia dituntut turun, dengan ringan dia menjawab, "Dokter saya menyuruh turun... turunkan berat badan," katanya. Suasana langsung demikian saja menjadi cair, paling tidak untuk sementara.

Nah, bagaimana dengan Bu Mega? Warisan masalah terlalu berat untuk dihumorkan. Cobalah bayangkan bila ada program nasional merakyatkan tertawa dan mentertawakan rakyat, kan bisa dikejar orang satu kampung dengan parang.

Kita semua berharap Bu Mega juga muncul pada saat yang tepat, ketika semua permasalahan sudah mencapai titik kulminasinya, ketika masalah itu sendiri sudah bosan jadi masalah, sehingga semua menjadi kaji menurun dan akhirnya dapat diselesaikan dengan tuntas. Daftar pan-jang pembunuhan karakter (character assassination) menjadi pengalaman buruk, jangan lagi sampai terulang. Kita pernah dipimpin oleh empat pria sejati, tapi gagal. Sekarang kita coba sentuhan wanita. John Naisbitt, agaknya Anda benar!


(3 - 9 Agustus 2001)


Tulisan ini sudah di baca 123 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/114-Megawati-Soekarnoputri.html