drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 3

"KarenaMu Malaysia"


Oleh : drh.chaidir, MM

Malaysia boleh! Untuk pertama kalinya dalam sejarah SEA Games, Malaysia muncul sebagai ju-ara umum. Malaysia boleh tahan, adalah ungkapan Melayu untuk memberikan salut terhadap suatu kehebatan. Malaysia memang hebat sekarang. Dalam beberapa kali SEA Games sebelumnya ketika Malaysia menjadi tuan rumah, mereka belum pernah keluar sebagai juara umum, paling banter hanya peringkat ketiga setelah Indonesia dan Thailand.

Kali ini Malaysia tidak hanya sukses mendepak Thailand dan Indonesia, mereka juga sukses sebagai penyelenggara dengan mempertontonkan kemajuan pembangunan di Malaysia yang sangat atraktif. Petronas ("Pertamina"nya Malaysia) misalnya, membangun gedung kembar pencakar langit tertinggi di dunia, mengalahkan gedung kembar pencakar langit WTC yang sekarang telah runtuh ditubruk pesawat terbang. Kuala Lumpur juga memiliki kebanggaan lain, "KL Tower" yang indah dan menakjubkan.

Memang selaku tuan rumah Malaysia bisa diuntungkan oleh "kemudahan" ketika atletnya bertanding, tetapi yakinlah kemudahan saja tidak akan cukup bila mereka tidak mempersiapkan diri dengan baik. Tidak usah mengecilkan arti kemenangan lawan, akui sajalah, Malaysia boleh!

Adakah pengaruh spirit "KarenaMu Malaysia" demikian hebat memompa semangat? KarenaMu Malaysia, rangkaian kata yang terasa unik, adalah tema peringatan hari ulang tahun ke-44 Malaysia 31 Agustus tahun ini. Uniknya lagi, belum pernah terjadi tema hari jadi Malaysia sama dengan tema hari jadi tahun sebelumnya. Tapi tema KarenaMu Malaysia dipertahankan dua tahun ber-turut-turut, HUT tahun 2000 dan 2001. KarenaMu Malaysia, singkat, tetapi sarat makna dan filosofi.

Melalui sosialisasi yang demikian gencar dan bersahabat, Malaysia mampu mengawal emosi dan sekaligus prestasi masyarakatnya sehingga rakyatnya termotivasi, tersugesti, dan merasa berutang budi pada negara., Apa pun yang dituntut oleh negara rakyatnya siap berbakti, bahkan mati. "Tanpa Malaysia, kami tidak akan jadi begini", begitu Konsul Malaysia di Pekanbaru, Ahmad Samad, menjelaskan secara singkat filosofi dari KarenaMu Malaysia. Dampak dari tema ini telah membangkitkan semangat cinta kepada tanah air, dan rakyat Malaysia bangga menjadi orang Malaysia.

Cukupkah dengan memompa semangat saja? Tentu tidak. Malaysia di bawah kepemimpinan Dr. Mahathir Mohamad, sejak hampir 20 tahun yang lalu telah berhasil membuat dan mengimplementasikan suatu perencanaan strategis. Malaysia berhasil mengidentifikasi secara tajam potensi konflik yang ada dalam bahasa yang sederhana. Mereka menyadari ada masalah dengan distribusi kekayaan negara yang bersentuhan dengan identitas suku, agama, dan ras. Distribusi tidak seimbang terhadap identitas Melayu. Kalau ini tidak ditangani dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi bom waktu.

Maka untuk menghilangkan potensi konflik tersebut, yang sudah pernah meletus bulan Mei tahun 1969 berupa kerusuhan etnik, Malaysia kemudian merumuskan Dasar Ekonomi Baru (DEB). DEB bukanlah bertujuan memberi kekayaan yang sama bagi setiap rakyat Malaysia, tetapi mewujudkan distribusi kekayaan yang wajar antara kaum-kaum. Apa yang ada pada bukan bumiputera, harus ada juga pada bumiputera.

Sesungguhnya yang paling mudah adalah membagikan sama rata kekayaan itu kepada semua. Namun beberapa percobaan pada masa lalu oleh negara-negara komunis dan sosialis untuk mendistribusikan semua kekayaan dengan sama rata kepada seluruh rakyat telah menghasilkan kemiskinan yang sama rata, bukan kekayaan yang sama rata. DEB tidaklah bertujuan mengagih semua kekayaan dengan sama rata antarkaum, sebab hal ini dapat menjejas perkembangan ekonomi negara. Tujuannya adalah untuk mencapai pertumbuhan dengan keadilan, yaitu menghasilkan lebih banyak kekayaan dan mengagihkannya ke arah pembetulan ketidakseimbangan antarkaum, bukan antarindividu.

Dalam konsep DEB, Malaysia memerlukan pertumbuhan ekonomi. Kekayaan melalui pengembangan perniagaan merupakan salah satu titik perhatian dalam konsep DEB. Untuk mengoreksi ketimpangan distributif, Malaysia ngotot memperuntukkan bahagian yang lebih besar dari kekayaan baru itu kepada bumiputera dibanding bukan bumiputera, yang memang telah menguasai bahagian yang jauh lebih besar dari kekayaan ekonomi yang ada. Jika diberi bahagian dan kesempatan yang sama kepada kedua golongan, apatah lagi jika diberi berdasar-kan kemampuan menimba kekayaan, tentulah jurang perbedaan itu semakin luas, bukan berkurang.

DEB adalah tentang hal ikhwal ekonomi, khususnya tentang menyusun semula ekonomi Malaysia supaya kaum-kaum yang tinggal di negara ini mendapatkan bagian yang adil dari kekayaan ekonomi negara. Ini tidaklah dicapai melalui pengagihan kekayaan dengan mengambil harta orang kaya untuk dibagikan kepada orang lain. Sebaliknya, reposisi itu dicapai dengan menghasilkan kekayaan baru, dengan member! peluang-peluang mendapatkan kekayaan itu secara sungguh-sungguh, bukan lips service, supaya golongan yang tidak berada mendapat lebih banyak peluang daripada golongan yang berada.

Tanggung jawab menolong bumiputera untuk mendapatkan peluang dan kekayaan terletak bukan saja di atas bahu pemerintah, tetapi di atas bahu bumiputera itu sendiri yang juga harus pandai menggunakan peluang bagi mendapatkan kekayaan. Dengan kata-kata yang sederhana, pemerintah akan memberi kontrak atau izin perniagaan yang eksklusif kepada bumiputera, tetapi selepas itu bumiputera harus mengurus dan mengembang-kan ekonomi mereka sendiri. Konsepnya sederhana dan tanpa tedeng aling-aling.

Ketika Malaysia mencapai kemerdekaan pada tahun 1957, banyak pengamat yang meramalkan bahwa negara yang terdiri dari multietnis (berbilang kaum) ini akan terpuruk secara politik dan ekonomi. Namun 40 tahun kemudian, Malaysia telah mencapai pembangunan ekonomi yang cemerlang serta keharmonisan kaum yang telah menjungkirbalikkan ramalan pengamat yang skeptis itu. Malaysia bahkan telah tumbuh menjadi suatu negeri yang maju dan modern. Dan kini dalam cabang olahraga pun mereka semakin sulit tertandingi.

Sesungguhnya Malaysia dan Riau adalah dua negeri serumpun. Keduanya, agaknya hanya dipisahkan oleh olahraga, tetapi keduanya dipertautkan oleh Selat Malaka. Visi Riau 2020 pun sedikit banyak diadopsi dari tetangga. Meniru sukses apa salahnya, lagi pun keduanya memiliki akar budaya yang sama. Kata orang, bahasa menunjukkan budaya.


(30 September - 6 Oktober 2001)


Tulisan ini sudah di baca 136 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/113-%22KarenaMu-Malaysia%22.html