drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 3

Petronas


Oleh : drh.chaidir, MM

Petronas kini lebih dikenal sebagai nama gedung kembar (Twin Tower) pencakar langit di Kuala Lumpur, Malaysia. Gedung ini termasuk gedung tertinggi di dunia. Padahal Petronas sesungguhnya bukanlah perusahaan properti. Petronas adalah Pertaminanya Malay-sia. Petronas yang dulu belajar dari Pertamina, kini telah tumbuh menjadi perusahaan raksasa. Mereka merambah ke mana-mana, ke Kazakstan, Myanmar, Afrika, dan lain-lain. Petronas bahkan telah membangun dua unit gedung pencakar langit yang menjadi kebanggaan rakyat Malaysia.

Di Semenanjung, nama Petronas tak akan terpisahkan dari nama Tengku Razaleigh. Tokoh anak Kelantan inilah yang berjasa mendirikan Petronas. Saya dari dulu ingin bersua dengan Tengku yang satu ini dan saya beruntung (mimpi kali ye?). Melalui jasa sohib saya Aziz Cemok, saya berhasil menemui "Raja Minyak dari Malaysia" ini di kantornya yang terkesan anggun di pusat kota Kuala Lumpur belum lama ini. Bayangan saya akan berhadapan dengan seorang tokoh glamour, sebagaimana layaknya orang-orang yang berkecimpung dalam bisnis perminyakan, serta merta sirna. Saya bertemu dengan seorang tokoh yang sangat kebapakan, akrab, dan low profile.

Tokoh ini, 35 tahun yang lalu, ketika masih berumur 28 tahun diberi tugas oleh Tuanku Abdurrahman, Perdana Menteri ketika itu, untuk menyusun konsep pengelolaan minyak bumi di Malaysia. Masalahnya, ketika ada operasi "Ganyang Malaysia" di awal tahun enam puluhan, Malaysia memberikan kebebasan kepada Sabah dan Serawak untuk mengelola hasil minyak buminya. Kebijakan ini diambil agar Sabah dan Serawak tetap setia kepada Semenanjung Malaysia. Ketika kemudian hubungan Indonesia dan Malaysia kembali normal, ganyang-mengganyang usai, pusat kekuasaan di Kuala Lumpur bingung bagaimana sebaiknya mengelola minyak di Sabah dan Serawak ini.

The Rising Star, Tengku Razaleigh, mendapat tugas besar dari perdana menteri. Apa yang dilakukannya pertama-tama adalah belajar dari Pertamina. Maka dia pun mondar-mandir Kuala Lumpur - Jakarta untuk menemui Dr. Ibnu Soetowo. "Suatu kali saya diajak Pak Ibnu Soetowo dalam kunjungannya ke daerah, saya lupa di mana. Saya kagum sekali melihat Pak Ibnu Soetowo disambut seperti raja", kenang Tengku Razaleigh.

Diilhami oleh Pertamina, Tengku Razaleigh mendirikan Petronas. Sistem penambangan minyak diperbarui. Perusahaan-perusahaan Malaysia harus ikut dalam konsesi minyak yang sebelumnya telah diberikan kepada orang asing. Tengku Razeleigh bercerita bagaimana Amerika sewot. Mereka protes, bahkan Presiden Gerald Ford sampai menelepon Perdana Menteri. "Tapi saya tak takut, saya tak bisa diberhentikan Amerika, saya pun tak digaji Petronas."

"Saya hanya mengajukan konsep yang sederhana saja. Sebelumnya orang Barat diberi konsensi: selama masih ada bulan dan bintang. Mana boleh," kata Tengku. Berbual-bual dengan Tengku Razaleigh, rasanya saya ingin berlama-lama. Lembut penuh keakraban, penuh kehangatan, dan penuh kearifan, itulah kesan saya terhadap sosok ini. Dari penampilannya yang bersahaja tidak tampak bahwa dia adalah seorang tokoh penting Malaysia. Majalah Asiaweek edisi November 1999 menyebutnya sebagai "The Leader in Waiting", pemimpin yang sedang menunggu. Jelas yang dimaksud oleh Asiaweek, yang ditunggu Tengku Razaleigh adalah kursi perdana menteri.

Siapa Tengku Razaleigh? Walau tidak pernah menepuk dada, dia bukanlah Tengku sembarang Tengku. Tengku ini adalah seorang ahli ekonomi yang dianggap mampu mengimbangi pemikiran Dr. Mahathir dalam visi perekonomian Malaysia. Pengalamannya memang mengesankan. Di samping pendiri Petronas, Tengku Razaleigh adalah juga pendiri Bank Bumi Putera dan Badan Investasi Negara, Pernas, bahkan juga pernah menjadi Menteri Keuangan serta Menteri Perdagangan dan Perindustrian Malaysia.

Dengan pembawaannya yang lembut tak terbayangkan oleh saya bagaimana Tengku Razaleigh bisa menantang Dr. Mahathir untuk memperebutkan kursi Presiden UMNO pada tahun 1987, walaupun akhirnya dia "tewas". Namun tercatat, dengan hanya kalah 43 suara dari 1.479, pertarungan itu dianggap paling sengit sepanjang sejarah Malaysia. Kekalahan itu membawa Tengku keluar dari UMNO untuk kemudian mendirikan Partai Semangat 46 dan berkoalisi dengan Partai Islam se-Malaysia (PAS) di negerinya, Kelantan. Dalam pemilu 1990 Partai Semangat dan PAS menyapu bersih semua kursi parlemen untuk Kelantan.

Namun ketika Tengku Razaleigh kembali ke UMNO tahun 1996, dia pun diterima karena dianggap sebagai tokoh Melayu yang cerdas dan memiliki kadar intelektualitas yang tinggi. Tengku Razaleigh adalah tokoh dari Kelantan yang dianggap mampu mengalahkan Tuan Guru Nik Aziz Mat pemimpin PAS di Kelantan yang tidak pernah berhasil ditundukkan oleh Dr. Mahathir.

Menurut pengamat dari Malaysia, apabila Tengku berhasil mengalahkan Cik Gu Nik Aziz di Kelantan maka peluang untuk naik ke pucuk pimpinan UMNO sangatlah besar, apalagi Tengku dianggap sebagai tokoh yang bisa mempersatukan Melayu di Malaysia setelah retak akibat isu Anwar Ibrahim. Tengku Razaleigh dianggap bersikap netral dalam isu yang paling banyak disorot di Malaysia dalam satu dekade terakhir ini. Oleh karena itu, dengan kapasitasnya yang sangat besar Tengku Razaleigh dianggap paling sesuai menggantikan Dr. Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia.

Tengku Razaleigh kini memang tidak lagi menjadi teraju Petronas. Tapi Petronas yang belajar dari Pertamina itu telah diasuhnya menjadi anak yang pandai mengali-ngali dan membagi-bagi sehingga mampu memberikan kado istimewa bagi Malaysia. Dan karena itu Petronas dicintai rakyat Malaysia.
Tanggal 31 Agustus ini adalah hari Kebangsaan Malaysia, entah kado apalagi yang diberikan oleh Petronas kepada negaranya. Tengku Razaleigh, tolong ajarkan kami ilmu mengali dan membagi.

(2 - 8 September 2001)


Tulisan ini sudah di baca 192 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/111-Petronas.html