drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 3

Greoux Les Bains


Oleh : drh.chaidir, MM

Monsieur Vincent La Rocca jongkok di samping kursi Willy Siahaan. Satu tangannya memegang lutut Willy dan satunya memegang sandaran kursi. Saya tidak mengerti apa yang sedang mereka perbincangkan dengan akrab, mereka berbicara dalam bahasa Prancis. Yang terasa aneh dan menarik bagi saya, Monsieur Vincent La Rocca adalah Wali kota Greoux Les Bains (dibaca: Grulebang), sebuah kota kecil yang indah di Prancis Selatan, kota di mana Group Sanggar Malay Dance dari Pekanbaru manggung atas undangan wali kotanya. Dan, Willy Siahaan adalah seorang pegawai rendah Konsulat Jenderal RI di Marseille yang ditugasi oleh Konsul Jenderal sebagai pengemudi saya selama berada di wilayah Prancis Selatan termasuk di Greoux Les Bains.

Tidak terbayangkan oleh saya seorang wali kota mau berbicara langsung dengan rakyat biasa seperti Willy tanpa hambatan protokoler yang lazim ditemui di negeri kita. Sama sekali tidak kelihatan beda status antara La Rocca dengan Willy, padahal dari segi kepangkatan dan penghasilan, jangan tanya. Restoran dan hotel tempat kami dijamu oleh La Rocca siang itu, adalah milik La Rocca pribadi. Dibuat-buatkah sikap merakyat seperti itu? Rasanya tidak. Tidak ada tingkah polah La Rocca yang kelihatan norak, tidak juga Willy, orang Indonesia yang sudah berada di Prancis selama 15 tahun. Willy tidak kelihatan rikuh, tidak juga ngelunjak. Sikapnya saya perhatikan wajar saja walaupun yang jongkok di sebelahnya adalah seorang wali kota.

Entah mengapa saya jadi teringat Prof. B.J. Habibie, mantan Presiden kita, ketika membuat suatu deskripsi tentang masyarakat madani yang waktu itu sedang hangat-hangatnya menjadi wacana. Gambaran masyarakat madani, menurut Prof. B.J. Habibie, adalah suatu masyarakat yang anggotanya hidup berdampingan sederajat. Seorang direktur tidak merasa risi makan siang satu meja dengan tukang sapu. Mereka bisa berbincang-bincang akrab, tetapi setelah itu mereka kembali ke tugas masing-masing. Seorang direktur juga tidak segan-segan mengucapkan selamat pagi terlebih dahulu kepada sopirnya, atau sekadar menanyakan apa kabar.

Masyarakat madani tidak gembar-gembor tentang persamaan hak, persamaan derajat, tentang persaudaraan tetapi hakikatnya mereka wujudkan dalam tindakan-tindakan nyata, dalam perilaku sehari-hari. Sebab sesungguhnya bukankah sebagai manusia, direktur dan sopir adalah sama, hanya profesi yang membedakan: yang satu sopir yang satunya direktur. "Baju kebesaran" direktur kan tidak perlu dibawa ke mana-mana dan tidak perlu dipertontonkan di segala tempat. Dalam deskripsi pemikiran Prof. Habibie, wong cilik tidak perlu minder bila berbincang-bincang dengan orang yang status sosial-ekonominya tinggi, sebaliknya tidak juga perlu "ngelunjak" alias besar kepala apabila diperlakukan secara terhormat sederajat. Apalah artinya "baju kebesaran" apabila di dalamnya terbungkus akal bulus. Sebaliknya baju boleh lusuh, tetapi di dalamnya terbungkus tubuh yang memiliki kepribadian agung. Pada masyarakat madani, peja-batnya merakyat, rakyatnya pula tidak sirik. Egaliter, begitulah agaknya ungkapan yang paling tepat. Kondisi masyarakat yang ideal sebagaimana digambarkan atau dikhayalkan oleh Prof. Habibie itu mudah diucapkan, na-mun sulit dalam perwujudannya. Pengalaman beberapa tahun terakhir ini merupakan minda yang sulit untuk digambarkan. Masyarakat kita hampir-hampir kehilangan identitas, kita bahkan cenderung menjadi aneh. Kita berbicara tentang supremasi hukum misalnya, tapi pada saat yang sama kita melanggar rambu-rambu. Kita berbicara tentang demokrasi, tapi kita marah bila orang lain berbeda pandangan. Banyak kejadian yang mengindikasikan bahwa kita ternyata sangat rasialis.

Kita memang tidak memiliki segmen sejarah seperti Revolusi Prancis yang terkenal dengan semboyan liberte, egalite, dan fraternitenya. Semboyan itu pula yang sampai kini, walau tidak lagi digembar-gemborkan, terpatri dalam sanubari orang-orang Prancis, walaupun kejadiannya telah berlangsung lebih dari tiga abad yang silam. Kebebasan.persamaan.dan persaudaraan ini membuat orang-orang Prancis memiliki imej yang ramah dan tidak arogan sebagaimana konon imej orang-orang Eropa Utara atau Amerika. Komitmen yang sungguh-sungguh untuk mengakui kebebasan, mengakui persamaan dan komitmen untuk memelihara persaudaraan telah membebaskan Prancis dari tirani kekuasaan absolut yang mengungkung mereka selama beberapa abad sebelum revolusi itu meledak. Semboyan itu sekarang tidak lagi mereka teriakkan sebagai yel-yel, tapi sudah mendarah daging.

Kota Greoux Les Bains adalah sebuah kota kecil, tapi tertata dengan cantik dan indah. Kota yang berbukit-bukit ini sungguh memanjakan warganya dengan berbagai macam fasilitas publik, salah satu di antaranya adalah tersedianya trotoar yang tertata cantik untuk para pejalan kaki. Pejalan kaki tidak akan cepat merasa letih karena di sepanjang trotoar terdapat bunga-bunga yang cantik dan terawat dengan baik. Suasana itu memungkinkan warganya berkreasi dan memberikan apresiasi yang tinggi terhadap sebuah hasil karya, termasuk kesenian dan kebudayaan. Maka, tidak heran bila wali kotanya tidak lagi memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan perut dan sekitarnya. Tingkat basic neednya sudah tinggi, sehingga dia tidak segan-segan membelanjakan fulusnya untuk memberikan tontotan kesenian yang menarik bagi warga dan turis-turis yang berdatangan ke kotanya dengan mengundang Sanggar Malay Dance.

Pada saat makan siang dengan Wali kota Greoux Les Bains itu, saya mengingat karib saya Pak Herman Abdullah yang dilantik menjadi Wali kota Pekanbaru. Greoux Les Bains dan Pekanbaru tentu tidak sama, tetapi bila Pak Herman berhasil memanjakan warganya dan berhasil menumbuhkan semangat persamaan dan persaudaraan yang bermartabat di Kota Bertuah ini, tentulah itu sebuah master-piece yang akan dikenang sepanjang masa.


(1 Agustus 2001)


Tulisan ini sudah di baca 113 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/110-Greoux-Les-Bains.html