drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

PSPS-ku Sayang PSPS-ku Malang


Oleh : drh.chaidir, MM

Bulan madu Bima Sakti dan kawan-kawan dengan pencinta PSPS Pekanbaru tampaknya akan terputus di tengah jalan. Sebenarnya, sampai dengan partai pertandingan yang ke-14 ketika PSPS tanpa ampun meng-hajar PSDS Deli Serdang 8-0, semua masih berjalan lancar dan meyakinkan sesuai skenario. Seluruh kerabat kerja PSPS demikian juga para pendukung yang menamakan dirinya "Askar Theking", masih berbunga-bunga dan yakin PSPS akan melaju ke babak delapan besar. Tetapi kemudian tak ada topan tak ada badai. lima pertandingan berturut-turut Bima dan kawan-kawan melempem, bagai ayam sayur. Pamor PSPS sebagai "The Dream Team" (Tim Im-pian) yang bertabur bintang melorot drastis. Julukan "The Dream Team" pun mulai diplesetkan oleh para pencinta menjadi "The Dreaming Team" (Tim Yang Bermimpi).

Bola memang masih bundar, tetapi ketika tak satu pun gol mampu dijaringkan dalam lima pertandingan terakhir berturut-turut, bahkan terhadap tim lemah Persikab Bogor dan PSMS Medan, ceritanya menjadi lain. Ini masalah yang sangat serius. Padahal, tanpa maksud meremehkan Persikab dan PSMS, kedua kesebelasan ini tampil buruk dalam Ligina VIII sehingga selalu menjadi tempat panen gol bagi kesebelasan lain. PSPS Pekanbaru, sialnya, tidak hanya selalu gagal dalam membobol gawang lawan, justru gawang mereka sendiri yang dikawal oleh kiper nasional Hendro Kartiko beberapa kali kebobolan.

Akibatnya, jalan menuju Senayan untuk babak empat besar, yang menjadi impian setiap kesebelasan, yang tadinya terang benderang, kini mulai berkabut tebal. Beberapa rekan wartawan yang semula memuja PSPS kini mulai skeptis. "Senayan? Mimpi kali ye", ujar mereka. Senayan agaknya memang tinggal impian. Hanya keajaiban saja yang bisa menyelamatkan PSPS setelah Rabu sore yang ba-ru lalu ditekuk Pelita Krakatau Steel 1-0. Apalagi menurut berita yang saya baca di koran lokal, pelatih Suimin Diharja telah "disuruh" mengambil cuti panjang alias dipecat.

Kalau benar Suimin dipecat, maka agaknya PSPS Pekanbaru telah runtuh. Sebuah keruntuhan yang terlalu dini dan patut disayangkan karena tidak sewajarnya. PSPS merupakan tim dengan materi pemain yang sangat bagus, tetapi salah urus. Secara psikologis, para pemain bintang PSPS tampaknya mengalami demoralisasi. Bima Sakti, Kurniawan, dkk. yang dikontrak mahal tertekan karena merasa berdosa tidak mampu mengangkat prestasi PSPS. Ini masalah kehormatan.

Pertanyaan kita adalah, di mana letak salahnya? Dana cukup, bahkan membuat kesebelasan lain di Tanah Air menjadi iri melihat kemampuan PSPS memobilisasi dana. Kualifikasi kemampuan individu pemain? Siapa yang meragukan kehebatan Bima Sakti dan Kurniawan yang pernah berguru selama dua tahun di kompetisi Primavera Italia. Bima Sakti bahkan sempat terpilih menjadi pemain terbaik di Primavera dan Kurniawan pula termasuk dalam jajaran top scorer di negeri spaghetti itu. Hendro Kartiko? Dia palang pintu tim nasional. Slamet Riyadi, Eko Purjianto, Edu Juanda, memiliki kemampuan teknis di atas rata-rata. Rahmat Rivai atau Foci? Dia pemain pujaan penonton. Dan Suimin Diharja? Dia salah seorang pelatih terbaik yang dimiliki PSSI. Lalu, letak salahnya di mana? Kesimpulannya: bukan masalah teknis, tetapi masalah nonteknis.

Tidak dapat dipungkiri, PSPS dalam empat bulan terakhir ini telah menjadi buah bibir, khususnya di Riau. Semua memperkatakan bola, mulai dari gubernur sampai tukang sapu. Bima Sakti dkk., memang memiliki daya magnet. Dan itu wajar, bukankah mereka adalah pemain-pemain nasional yang memiliki nama besar. Maka wajar pula kalau manajer PSPS mengontrak mereka untuk bertanding di bawah bendera PSPS Pekanbaru dalam Ligina VIE PSSI tahun ini. Dan kontrak itu dari awal sudah bikin heboh. Bukan karena kerelaan Bima Sakti dan Kurniawan bermain untuk Pekanbaru yang belum memiliki tradisi sepak bola di pentas nasional, tetapi karena nilai kontraknya tercatat sebagai rekor tertinggi untuk pemain sepak bola di Indonesia. Masing-masing memperoleh Rp 500 juta untuk satu musim kompetisi (kurang dari satu tahun), di luar gaji dan bonus. Jumlah ini jelas lebih besar dari gaji seorang anggota DPRD Propinsi Riau.

Tapi masalah agaknya bermula di sini. Pemain kita belum siap menjadi profesional dan menjadi kaya. Bayaran mereka yang mahal telah menjadi heban rnenta!, sehingga mereka selalu tampil di bawah tekanan dan salah tingkah di lapangan. Uang, kata orang, kalau sedikit menjadi kawan, kalau banyak menjadi setan. Dari awal saya sudah risau dengan semangat bertanding mereka. Para pemain tidak mampu menunjukkan kelasnya dan jauh dari kesan bersemangat.

Saya tidak menyaksikan ketika PSPS menang 8-0 lawan PSDS, tapi dari beberapa kali saya menonton, terlihat betapa kemampuan Bima Sakti dkk. belum tereksploitasi secara maksimal. Bima dan Kurniawan selalu bermain di bawah kemampuan terbaiknya. Mereka memang pemain berbakat, tetapi sebagai pemain professional tampaknya belum memadai. Bakat individu saja ternyata tidak cukup, paling tidak begitu dikatakan ilmuwan Eric Hoffer. Bakat memberi banyak kesempatan untuk maju. Namun semangat besarlah yang kerap memberi kesempatan bahkan memberi banyak bakat.

Ikatan emosional agaknya menjadi faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Sebenarnya untuk seorang pemain profesional, tidaklah menjadi penting di klub mana mereka bermain. Kita lihatbagaimana seorang pemain profesional yang berasal dari Afrika bermain habis-habisan dalam Liga Francis atau Liga Italia. Mereka selalu bermain all-out. Teta-pi untuk ukuran sepak bola ala Indonesia, ikatan emosional pemain dengan klub yang dibela tampaknya masih signifikan walaupun sulit dibuktikan. Beberapa indikasi dapat dilihat, misalnya, ketika PSM Makassar mendapat suntikan beberapa pemain bintang, prestasinya melejit, de-nukian juga Semen Padang dan Arema Malang. Mereka telah memiliki modal dasar berupa pemain-pemain lokal yang berbakat. Mereka telah memiliki tradisi sepak bola. Tetapi PSPS? Ini kesebelasan instan. Komposisi pemainnya semua pemain "impor", dengan demikian tidak memiliki ikatan emosional dengan daerah. Tiba-tiba saya rindu dengan Miskardi, pemain Kuantan Singingi yang tak pernah lagi saya hhat menggmng boia dengan iaju dan Tarjaki Lubis yang jumpalitan di bawah mistar.

Sesungguhnya bagi PSPS, kemenangan adalah sebuah keniscayaan, sebab kita telah mengerahkan semua upaya secara maksimal. Bagi PSPS kemenangan mestinya bukan lagi sebuah sukses apabila sukses itu diartikan sebagai kemampuan mewujudkan keinginan dengan upaya minimal. Tetapi sudahlah, kegagalan bukan berarti kiamat. Kegagalan menurut Wendell Phillips, tidak lain dari pelajaran dan langkah pertama ke arah perbaikan.

PSPS-ku sayang PSPS-ku malang, padahal bertabur bintang, bertabur uang, tapi pecundang. Sayang ....


(28 April - 4 Mei 2002)


Tulisan ini sudah di baca 160 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/109-PSPS-ku-Sayang-PSPS-ku-Malang.html