drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

The Dream Team


Oleh : drh.chaidir, MM

Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, kata orang bijak. Hebat benar kata-kata mutiara ini, sehingga menjadi si tawar si dingin ketika "The Dream Team" kalah telak 2-0 dari Persija Jakarta dalam pertan-dingan perdananya. Kata-kata mutiara tersebut mampu menjadi obat yang mujarab untuk mengobati hati yang kecewa ketika harus menerima kekalahan yang di luar harapan itu. Namun kata-kata indah hanya bermakna bagi crang yang gemar berfilsafat. Bagi yang tidak peduli, tentu lain ceritanya. Kalah ya kalah, tidak usah diakal-akali supaya kelihatan menang. Bahwa hari ini kalah besok mungkin menang, memang sudah menjadi hukum alam. Hidup kan seperti roda pedati; berputar terus, kadang di atas kadang di bawah.

Orang yang kalah memang punya sejuta alasan, kata orang yang menang. Tapi itu manusiawi. Maka jangan heran bila kemenangan yang tertunda itu pun dibreakdown secara beraneka ragam. Ada yang bilang, The Dream Team - sebuah julukan yang aduhai untuk PSPS Pekanbaru -sebaiknya jangan langsung menang, sebab nanti mereka menjadi besar kepala. Yang lain mengatakan, dengan kekalahan ini grafik penampilan PSPS nanti akan bagus. Ini mungkin pendapat ahli statistik. Dia lupa bahwa ini sepak bola, kita bukan bertanding untuk membuat statistik yang baik, tapi bertanding untuk kemenangan (tentu dengan sportivitas yang tinggi). Ada pula yang menghibur diri sendiri, ini kan pertandingan pertama, masih ada pertandingan berikutnya, kita belum kiamat. Kalah 2-0? "Aaah, nggak apa-apa", kata yang lain menirukan iklan sebuah produk rokok. Yang arif pula memberikan komentar, kekalahan ini akan membuat PSPS introspeksi dan lebih waspada dalam pertandingan berikutnya.

Apa pun komentar yang sifatnya menghibur diri, boleh-boleh saja, tidak ada yang larang. Yang menyesakkan agaknya, pertandingan perdana ini menurut orang-orang Pekanbaru, apalagi menurut "Askar theking" (julukan untuk supporter PSPS) akan dimenangkan oleh PSPS. PSPS sedang berada dalam semangat bertanding yang tinggi. Apalagi semua petinggi Riau dan Pekanbaru tum-pah ruah ke Stadion Utama Senayan memberikan dukung-an. Ada gubernur, ada wakil gubernur, ada sekda, para bupati, dan wali kota pun tidak ketinggalan, para kepala dinas jangan tanya. Dan last but not least, ketua dan beberapa anggota DPRD Propinsi dan kabupaten/kota seakan menggelar Rapat Paripurna di Stadion Utama Senayan. Semua optimis PSPS, Askar Bertuah, akan menang.

Harapan itu sesungguhnya tidak pula berlebihan setelah menyaksikan hasil beberapa try-out PSPS. Stadion Utama Senayan pasti tidak lebih angker daripada Stadion Teladan Medan. Persija tidak lebih menakutkan ketim-bang PSMS Medan. lya kan? Nah, PSMS saja ditundukkan oleh PSPS di Stadion Teladan Medan. Tidak tanggung-tanggung pula, skor kemenangan PSPS pun fantastik: 4-0. Semen Padang dan PSP yang seumur-umur tidak per-nah mampu dikalahkan PSPS, itu pun sudah dikalahkan.

Manajer Tim Anto Rachman dan pelatih Suimin Diharja terkesan berbunga-bunga sekembalinya dari uji coba di Medan. Tak ketinggalan Gubernur Saleh Djasit yang gila bola, berbinar-binar dengan hasil uji coba itu. Askar Ber-tuah telah menampakkan dirinya sebagai The Dream Team seperti apa yang dijuluki oleh pengamat olahraga dan media pers baik lokal maupun nasional.

Tetapi agaknya, predikat The Dream Team (Tim Impian) itu pula yang menjadi beban bagi PSPS ketika melakukan pertandingan perdana melawan Juara Bertahan Persija Jakarta yang dibuka dan disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Hamzah Haz.

PSPS Pekanbaru dijuluki sebagai Tim Impian karena bertabur bintang. Klub mana pun, pelatih mana pun, akan selalu memimpikan sebuah tim yang bertaburan dengan bintang. PSPS sekarang memang tiba-tiba saja bertaburan dengan pemain nasional. Pemain-pemain itu pun di Tim Nasional PSSI bukan pula pemain-pemain yang rata-rata, tetapi pemain jangkar. Nama-nama seperti Bima Sakti, Kurniawan, penjaga gawang Hendro Kartiko, Slamet Riyadi, Eke Purjianto, daŤ F.du Juanda adalah pemain-pemain nasional yang berbakat. Bima Sakti bahkan tercatat sebagai pemain termahal di Indonesia di musim kompetisi Liga Indonesia - Bank Mandiri ke-8 ini. Tim manajer yang didukung penuh oleh Gubernur Saleh Djasit, tidak ragu mengontrak pemain-pemain nasional ini walaupun untuk itu PSPS harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Konon tidak kurang dari dua miliar rupiah dana yang dikeluarkan untuk mengontrak pemain-pemain nasional ini. Gubernur percaya bahwa tim yang bagus akan berdampak positif bagi pembinaan olahraga di daerah ini dan lebih jauh dari itu dapat menggugah rasa kebersamaan masyarakatnya yang berbilang kaum.

Apa yang saya saksikan dari tribun kehormatan Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, PSPS terkesan tampil kurang pede, ragu-ragu, dan sedikit grogi. Saya yakin itu bukan kemampuan yang sesungguhnya dari PSPS. Bahkan sang jenderal di lapangan, pemain termahal Bima Sakti yang menjadi kapten PSPS sama sekali tidak kelihatan menonjol. Bima Sakti bahkan membuat blunder ketika dia mengganjal dengan keras seorang pemain Persija, dan atas kesalahannya itu dia dikenai kartu kuning.

Kekalahan itu walaupun mengecewakan, tapi tidak boleh mematahkan semangat Askar Bertuah. Kekalahan itu justru harus menjadi cambuk dan dievaluasi dengan sungguh-sungguh oleh pelatih dan seluruh pemain. Sebagai seorang pelatih yang baik, Suimin Diharja tentu mampu membuat analisis terhadap jalannya pertandingan, apalagi di sana ada Bima Sakti dan Kurniawan yang per-nah berlatih di Italia selama dua tahun bahkan sempat mengikuti kompetisi Primavera di negeri spagheti itu. Mereka tentu bisa menjadi mitra diskusi untuk menyiasati pertandingan-pertandingan berikutnya. Pompa semangat tim untuk berjumpa kembali dengan Persija di Stadion Utama Bung Karno di partai puncak kelak.

Masyarakat pencinta sepak bola di Pekanbaru khususnya, dan di Riau pada umumnya menaruh harapan yang tinggi pada The Dream Team ini untuk mewujudkan impian-impian yang selama ini seakan mustahil untuk diwujudkan. Kini peluang itu sesungguhnya terbuka, ti-dak ada masalah dengan materi pemain. Yang perlu ditempa dan dipompa agaknya adalah kekompakan dan semangat tim. Sebab sebaik apa pun materi pemain, setinggi apa pun teknik individualnya, sepak bola tetap saja dimainkan oleh 11 orang. Dan karena ini adalah olahraga tim, maka kekompakan dan semangat kebersamaan antara sesama pemain dan antara pemain dengan pengu-rus tetap menjadi sesuatu yang sangat penting.

Saya yakin PSPS sebagai The Dream Team akan semakin kompak dan akan mampu membuat the dream come true (impian menjadi kenyataan). Dan saya juga percaya kepada ucapan orang bijak itu: kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Semoga!



(20 - 26 Januari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 190 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/108-The-Dream-Team.html