drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

"Buon Venuti Per Voi"


Oleh : drh.chaidir, MM

Buon venuti, bravo! Selamat datang orang hebat, begitu saya menyapa Kurniawan di Gedung Daerah beberapa hari lalu. Sambil melontarkan senyuman, Kurniawan pun refleks menjawab, "grazie," (terima kasih). Dalam hati saya berkata, benar, dia jebolan Italia. Saya sengaja menyapanya dalam bahasa Italia, tidak lebih hanya sekadar memberikan suasana agar Kurniawan dan Bima Sakti serasa sedang diperkenalkan sebagai bintang liga sepakbola Seri A Italia. Duilee. Tapi Ligina (Liga Indonesia) kan memang Liga Seri A nya Indonesia sebut sajalah begitu.

Orang-orang Italia, negeri spagheti di mana Kurniawan dan Bima Sakti pernah berguru sepak bola, memang ramah, suka ngobrol, dan suka saling memuji. Mereka biasa saja mengatakan temannya orang yang paling cantik atau paling ganteng, paling hebat di dunia. Yang dipuji balas memuji atau dengan tanpa beban mengatakan teri-ma kasih, sepertinya dia memang layak menerima pujian itu. Kurniawan dan Bima Sakti mestinya sudah terbiasa dengan kebiasaan orang-orang Italia ini.

Dua pemuda mantan diklat sepak bola Primavera Italia, Bima Sakti dan Kurniawan, yang kini juga tercatat sebagai pemain nasional Indonesia, memang telah hadir di Kota Bertuah Pekanbaru. Mereka pun datang bukan pula sembarang datang, datang memperkuat Askar Bertuah PSPS Pekanbaru.

Kedua anak muda ini diperkenalkan bersama beberapa orang pemain baru PSPS, termasuk empat orang pemain nasional lainnya. Ada sang kiper Hendro Kartiko, ada libero Slamet Riyadi, kemudian Eko Purjianto, dan ada Edu Juanda. Perkenalan itu bersempena pula dalam syukuran ulang tahun Gubernur Riau Saleh Djasit yang ke-59 tanggal 13 November yang baru lalu di Gedung Daerah. Tak ayal lagi ini merupakan kado amat sangat istimewa bagi Pak Saleh, karena memang setahu saya, sebagaimana Pak Saleh pernah bercerita kepada saya, se-jak setahun lalu Pak Saleh sudah terobsesi untuk memboyong anak-anak muda itu ke Pekanbaru. Tapi dalam musim kompetisi Ligina tahun lalu Pak Saleh rupanya belum berhasil mengikat kontrak.

Transfer Bima Sakti dan Kurniawan dari PSM Makassar ke PSPS Pekanbaru telah bikin heboh percaturan sepak bola nasional. Dengan uang transfer Rp 500 juta per orang untuk satu musim kompetisi di luar gaii dan bonus, ini merupakan rekor baru dalam sejarah persepakbolaan profesional Indonesia, bahkan konon dua kali lipat lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang dipegang oleh pemain Persebaya Uston Nawawi. Beberapa klub peserta Ligina kedengaran bersungut-sungut karena transfer itu dianggap terlalu mahal dan merusak pasaran. Tetapi sesungguhnya itu adalah hal yang biasa dalam sepak bola profesional. Kehadiran pemain bintang jelas akan menarik bagi para sponsor untuk mendanai klub, dan penonton pun tidak akan segan-segan merogoh koceknya untuk membeli karcis yang mahal. Sepakbola memang sudah memasuki era baru, era industrialisasi. Sepak bola tidak lagi bisa hanya dilihat sebagai olahraga hobi, tetapi juga sebagai industri, sebagai sebuah ladang bisnis. Siapa lagi yang akan memberikan penghargaan yang layak kepada anak-anak muda kita yang berprestasi kalau bukan kita?

Bima Sakti dan Kurniawan adalah dua orang pemain terbaik dalam skuad Primavera, sebuah proyek ambisius PSSI. Beberapa tahun yang lalu, PSSI mengirim pemain-pemain yunior untuk berlatih, menetap, dan ikut kompe-tisi Primavera di Italia selama lebih kurang dua tahun. Proyek tersebut dianggap gagal karena Tim Primavera gagal menjadi sebuah Tim PSSI yang tangguh. Tetapi sesungguhnya Tim PSSI Primavera tidak dapat dikatakan jelek. Pada puncak prestasinya, mereka hanya kalah tipis 1-2 dari Korea Selatan di Seoul dalam kejuaraan resmi Pra-Olympiade waktu itu. Setelah itu belum pernah ada Tim PSSI yang mampu kalah tipis dari Korea Selatan. Coba, kalah tipis saja tidak bisa, apalagi draw. Jangan bicara menang, itu mimpi di siang belong. Tetapi secara individu, banyak pemain-pemain hebat di Ligina sesungguhnya berasal dari Tim Primavera, sebut saja Anang Ma'ruf, Nuralim, Uston Nawawi, Kurnia Sandy, dan banyak yang lain.

Primavera dalam bahasa Italia sebenarnya berarti musim semi. Italia memberikan nama Primavera untuk Liga Yunior. Barangkali karena musim semi adalah musim yang menggembirakan, penuh keindahan, dan keceriaan. Di awal musim semi, yang biasanya dimulai awal April setiap tahun, bunga-bunga mulai menguncup dan kemudian mekar berwarna-warni di seluruh negeri setelah hampir lima bulan kering kerontang diterpa musim dingin. Agaknya filosofi bunga-bunga, daun-daun, dan pucuk-pucuk yang baru tumbuh dan baru mekar inilah yang diambil oleh orang-orang Italia sebagai simbol bagi anak-anak muda yang baru mulai berkiprah di sepak bola, sebuah industri raksasa di Italia. Seperti di Brazilia, Argentina, dan beberapa negara Latin lainnya, di Italia sepak bola sudah seperti agama. Sepak bola demikian menguasai hidup mereka. Setiap akhir pekan hampir semua mata dan telinga mereka arahkan ke stadion-stadion di mana berlangsung pertandingan Seri A maupun Seri B. Kalau mereka tidak sempat menonton langsung, maka banyak di antara anggota masyarakat yang menenteng radio kecil ke mana-mana atau menghidupkan radio di mobil untuk mendengarkan siaran pandangan mata pertandingan.

Banyak pemain-pemain hebat Italia yang berlaga di Seri A sekarang adalah jebolan kompetisi Primavera. Sebut saja Alessandro Del Piero dari Juventus, Vieri dari Inter Milan, Cannavaro dari Parma, Totti dari AS Roma, Rober-to Baggio dari AC Milan, dan termasuk juga dua kiper nasional Italia yang amat tangguh, Toldo dan Buffon, semuanya bintang-bintang yang bersinar di Primavera.

Sebagai pemain muda yang bersinar di Primavera dan sekarang di Ligina, wajar kalau pencinta sepak bola di Pekanbaru berharap banyak terhadap kehadiran Bima Sakti dan Kurniawan di Askar Bertuah PSPS Pekanbaru. Apalagi secara keseluruhan ada enam orang pemain nasional berada dalam skuad Askar Bertuah PSPS. Maka PSPS kini layak menyandang predikat sebagai "The Dream Team", sebuah tim impian. Mudah-mudahan tim impian ini bisa memenuhi impian-impian pencinta sepak bola di rantau ini, khususnya di Pekanbaru, tidak justru menjadi The Dreaming Team, atau tim yang bermimpi.
Semoga Bima Sakti, Kurniawan, Hendro Kartiko, dan kawan-kawan yang sudah mengilap, bisa tampil lebih mengilap lagi di kota minyak ini. Mari kita beri anak-anak muda ini apresiasi sewajarnya. Buon Venuti per voil


(25 November - 1 Desember 2001)


Tulisan ini sudah di baca 111 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/107-%22Buon-Venuti-Per-Voi%22.html