drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

Kesadaran Kultural


Oleh : drh.chaidir, MM

Mengamati perjalanan otonomi yang telah berlangsung selama lebih setahun ini, saya melihat, paling tidak, ada dua perkembangan yang cukup menarik dari sejumlah perkembangan yang terjadi di Riau, yaitu perkembangan pembangunan pada satu sisi, dan mun-culnya kesadaran kebudayaan pada sisi yang lain. Perkembangan dan pesatnya pembangunan, bagi saya, merupakan konsekuensi logis dari kondisi yang ada, dan memang sudah pada tempatnya. Tapi munculnya kesadaran kultural sering dengan gempita pembangunan, merupakan hal yang harus mendapat perhatian kita semua.

Di mana-mana di Riau, kini muncul sejumlah organisasi Melayu yang memposisikan diri secara signifikan dalam pembangunan dengan memperlihatkan jati diri kemelayuan yang kental. Ada Lasykar Hulubalang Melayu, ada Gerakan Pemuda Melayu, Pemuda Melayu Riau Bersatu, Ikatan Keluarga Melayu Riau, Rumpun Melayu Bersatu, dan sejumlah nama lain yang menunjukkan ikti-kad kebersamaan dan siap berperan aktif mendukung perjalanan Riau menuju masa depan. Pertanyaan sekarang adalah dalam konteks ke-Melayu-an, peran apakah yang harus dimainkan oleh sejumlah organisasi yang ada ini? Saya kira, dalam kondisi Riau sekarang, peran utama yang harus dilakukan adalah mengawal eksistensi dan perkembangan budaya Melayu itu sendiri.

Pemikiran ini muncul berdasarkan pandangan saya terhadap realitas Riau sekarang ini. Tidak bisa kita pungkiri, heterogenitas penduduk Riau yang terdiri dari lintas agama, etnis, dan akar budaya, dan kemudian dilingkari oleh akselerasi pembangunan dan sergapan kapital, dapat membuat segala sesuatu menjadi bias, tak terkecuali budaya Melayu Riau pada masa datang. Apabila koridor budaya tersebut dibiarkan tidak terkawal secara terus-menerus, tentu tidak mustahil akan banyak generasi berikutnya menjadi tidak kenal lagi dengan kebu-dayaannya sendiri. Dan tentu saja hal tersebut akan mem-berikan akibat pula pada eksistensi Riau Melayu. Maka, dalam kondisi yang bagaimanapun, Riau ke depan tetap harus berada pada arah budaya dan identitas yang jelas. Pembangunan yang mengabaikan kebudayaan lokal tidak akan sesuai dengan hakikat pembangunan itu sendiri, karena ia akan meminggirkan masyarakat lokal, yang seharusnya justru menjadi kelompok sasaran.

Hal yang sama pernah saya sampaikan pada peresmian Lasykar Hulubalang Melayu, di Batam, pada 24 Oktober 2001 yang lalu. Pada acara tersebut, saya mengatakan (menyarankan), bahwa adalah lebih bijak jika Lasykar Hulubalang Melayu, atau organisasi-organisasi Melayu lainnya menitikberatkan aktivitas pada pengawalan kebudayaan, khususnya kebudayaan Melayu. Pengawalan di sini, dalam konteks Batam misalnya, tidak hanya sekadar memberikan identitas, tapi sekaligus memberikan peluang kepada masyarakat Melayu agar dapat bersanding secara setanding dengan kekuatan-kekuatan yang melingkarinya. Bukan saja ketika berhadapan dengan heterogenitas Batam, tapi juga ketika berdepan dengan Malaysia dan Singapura. Tidak bisa tidak, jika pembangunan tidak berangkat dari kesadaran budaya setempat, maka yang terjadi adalah terpinggirnya masyarakat lokal, dan tentu saja hal ini tidak kita inginkan. Di samping tidak manusiawi juga bisa menjadi benih-benih konflik yang tak berkesudahan.

Selain alasan-alasan di atas, ada sejumlah pertimbangan lain tentang perlunya pengawalan budaya ini dilakukan. Pertama, gerakan-gerakan ekonomi dan kapital yang tertuang dalam bentuk pembangunan fisik dan material akan kehilangan ruh jika tidak berporos pada kebudayaan secara tepat. Dengan terjaganya budaya dan tetap berkembangnya kesadaran kultural, maka pembangunan tidak akan kehilangan arah. Hampir semua negara maju mengawal dan merujuk pada kebudayaan tertentu, seperti Eropa merujuk pada kebudayaan Yunani dan Timur Tengah merujuk pada Islam. Dalam kasus Riau pula, kebudayaan Melayu harus menjadi ruh bagi pembangunan yang sedang dilaksanakan. Pemberian ruh dan identitas itu tentu saja hanya bisa dilakukan, jika hnHaya Melayu itu sendiri terjaga dengan baik. Merujuk Riau, jika otonomi dilaksanakan secara sungguh-sungguh, maka ke depan Riau akan menjadi sebuah daerah yang maju pesat, dan kemajuan fisik itu memerlukan ruh dan pengimbang agar ia tidak menjadi sebuah peristiwa pembangunan yang tanpa alas, dan pengimbang yang tepat adalah kebudayaan. Kesadaran semacam ini dapat kita lihat di Francis, Jepang, Cina, yang pembangunan fisik material berjalan seimbang dengan kebudayaan, sehingga mereka muncul menjadi sebuah bangsa yang bermarwah.

Kedua, Kesadaran kultural itu penting untuk menum-buhkan semangat juang. Secara historis, bangsa Melayu, adalah bangsa pekerja keras, dan dengan kerja keras itu mereka berhasil membangun sejumlah kerajaan besar dan pusat-pusat perdagangan yang terkenal, seperti kerajaan Sriwijaya, Riau Lingga, Siak Sri Indrapura, Johor, Melaka, dan sebagainya. Dengan terjaganya kesadaran semacam itu, maka secara perlahan generasi sekarang dan mendatang akan memiliki semangat juang yang besar untuk membawa Riau menuju kejayaan.

Jika kita hubungkan dengan program untuk menjadikan Riau sebagai pusat Kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, seperti yang termaktub dalam Visi Riau 2020, maka tidak bisa tidak, pengawalan dan pengembangan kesadaran kultural ini harus diperhatikan. Dengan kesadaran kultural itu, semangat juang generasi muda sekarang dan generasi mendatang akan terpompa secara positif, sehingga mereka dapat pula melahirkan karya dan hasil yang besar dalam bidang kebudayaan, melebihi kegemilangan hasil budaya yang pernah terjadi pada masa Kemaharajaan Melayu lebih dari seabad yang lampau.

Ketiga, pada masa datang - sesungguhnya sudah dimulai dari sekarang - kita hidup pada sebuah zaman tanpa batas, atau yang lebih sering disebut sebagai era globalisasi atau kesejagatan. Pada era ini, manusia seperti berada dalam sebuah rumah yang besar, di mana setiap orang saling bisa berhubungan secara mandiri melalui kecerdasan teknologi. Pada masa itu, batas-batas teritorial dan negara sudah menjadi kehilangan arti. Jika benar apa yang dikatakan oleh para futurist bahwa hanya seni (budaya) dan agama saja lagi yang menjadi identitas atau tanda pengenal sesuatu kaum, puak, atau bangsa, maka dengan menjadikan pengawalan budaya dan penumbuhan kesadaran kultural sebagai prioritas, maka artinya kita sudah melakukan sesuatu dan satu hal yang benar dalam menghadapi masa datang.

Memang akan banyak sekali jawaban untuk itu, tapi inti dari semuanya, bahwa kita memang perlu melakukan pengawalan budaya Melayu ini secara baik, seiring dengan berkembangnya kebudayaan lain secara baik pula. Untuk mewujudkan semua itu, selain diperlukan sinergi antar berbagai pihak, juga harus didukung oleh kehendak yang kuat, baik kehendak politik, kehendak ekonomi, kehendak sosial, dan kehendak kebudayaan dari segenap unsur masyarakat. Tanpa pengawalan budaya, saya khawatir, generasi mendatang, seperti generasi Chaleed, anak saya, akan menjadi sebuah generasi yang gamang dengan dirinya.

"Kebudayaan itu meredakan, serta mampu menetralisir perilaku-perilaku masyarakat urban (perkotaan) yang cenderung anomi, agrestf, kejam, dan serbamasif," kata Mathew Arnold dalam Kebudayaan dan Kekuasaan. Saya kira saya setuju dengan pandangan ini.


(3 - 9 Maret 2002)


Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/105-Kesadaran-Kultural.html