drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

Duka BBM


Oleh : drh.chaidir, MM

Ibuku telah mati kemarin,juga hari ini." Itulah ungkapan pedih tokoh "Orang Asing" dalam karya Albert Camus. Ungkapan itu muhcul ketika kepada dirinya datang penderitaan dan penindasan yang bertubi-tubi, serta takmenunjukkan tanda untuk selesai. "Orang Asing" sesungguhnya dapat mewakili sejumlah realitas kemiskinan bagi banyak orang dalam banyak negara, yang oleh ketidakbijakan negara, menjadi kehilangan harapan.

"Orang Asing" mungkin adalah contoh yang paling tepat untuk menggambarkan realitas yang dialami rakyat Indonesia. Sudah beberapa puluh tahun rakyat Indonesia membangun harapan dalam dirinya, tapi setelah melewati berbagai sistem pemerintahan, melewati berbagai perubahan kebijakan, dan bahkan melewati pergantian sejumlah rezim, rakyat Indonesia tetap berada dalam kon-disi yang menyedihkan.

Betapa tidak. Belum lagi selesai melewati sejumlah mimpi buruk yang ditinggalkan oleh rezim sebelumnya, dan baru saja akan membangun mimpi baru, penderitaan kembali datang dengan bentuk yang bermacam-macam dan tindih-menindih. Mulai dari ketakutan akibat pergolakan politik, keamanan yang tidak terjamin, melemahnya nilai tukar mata uang, sampai munculnya bencana alam.

Ternyata semua itu masih belum cukup. Belum lama ini rakyat semakin tercekik oleh kebijakan pemerintah yang menaikkan BBM dengan persentase yang cukup menakutkan, tanpa peduli kondisi rakyat. Dengan segera, kenaikan BBM tersebut menuai kecaman yang cukup keras dari berbagai kalangan, kelompok mahasiswa, dan kelompok masyarakat. Gelombang demonstrasi menolak kenaikan BBM terjadi di mana-mana, tak terkecuali Riau. Bahkan di Riau, demonstrasi diikuti pula dengan gerakan mogok makan dari beberapa mahasiswa.

Reaksi keras masyarakat dan perjuangan mahasiswa menolak kenaikan tersebut sebenarnya suatu hal yang wajar dan memang sudah pada tempatnya. Secara dan sebagai pribadi, maupun sebagai anggota dewan, saya sependapat, dan bahkan mendukung perjuangan yang dilakukan itu. Kenaikan BBM menuai kecaman, pada hemat saya, karena BBM tidak bisa naik hanya untuk dirinya sendiri, tapi membawa akibat menaiknya harga bagi semua komoditas lain, dan akibat-akibat lain itulah yang sangat memberatkan masyarakat.

Pemerintah memang memberikan alasan, bahwa BBM harus dinaikkan supaya tidak membebani anggaran. Kebijaksanaan pemberian subsidi yang dianggarkan dalam APBN selama ini terasa memberatkan pemerintah. Sebuah alasan yang masuk akal kalau hanya kita lihat dari satu sisi dan sepintas, namunbenarkah demikian? Apakah memang subsidi BBM akan membuat negara ini bangkrut? Pada pikiran saya, persoalannya tidak demikian. Bukan subsidi itu benar yang membebani, tapi justru hal-hal lain yang tidak bersangkut paut dengan kemaslahatan masyarakat, seperti mengeluarkan banyak uang untuk menyelamatkan sejumlah bank yang hampir kolaps, menalangi utang swasta, program penyelamatan para konglomerat, dan sejumlah persoalan besar lainnya.

Jika kita bandingkan, beban subsidi BBM pastilah lebih kecil dari beban yang ditanggung untuk urusan yang tak bersangkut-kait dengan rakyat tersebut. Itu belum lagi, kalau kita berhitung soal dana-dana yang meng-hilang tidak pada tempatnya, dan lain-lain jenis kejahatan pribadi, kejahatan jabatan, dan kejahatan kelompok ke-kuasaan, yang kadang memakan persentase yang cukup besar dari anggaran.

Berangkat dari pemikiran yang demikian, sebagaimana yang saya sebut di atas, maka saya dapat memahami penolakan masyarakat, LSM, mahasiswa, dan unsur-unsur lainnya di Indonesia, maupun di Riau. Substansi permasalahan sebenarnya terletak pada ketidakberpihakan kepada rakyat dalam kebijakan-kebijakan ekonomi yang diambil oleh penyelenggara negara. Jika penyelenggaraan kebijakan dilaksanakan secara benar, dan didukung pula dengan efesiensi dan efektivitas birokrasi dan keuangan, saya kira subsidi BBM bukanlah sebuah beban yang berat.

Beberapa waktu yang lalu, sejumlah mahasiswa Riau melakukan demonstrasi menentang kenaikan BBM, dengan rnelakukan mogok makan. Sebuah perjuangan yang besar dan patut dihargai. Mereka kemudian meminta saya mendukung mereka dan menolak kenaikan BBM tersebut. Seperti yang sudah saya jelaskan, saya berada di pihak mereka, tapi persoalannya tidak semudah itu. Kenaikan BBM diputuskan oleh pemerintah pusat dan disetujui oleh DPR, maka jika memang kenaikan itu harus dibatalkan, maka harus dibatalkan oleh si pembuatnya. Daerah hanya dapat memberi masukan dan mengimbau agar pemerintah pusat mengkaji ulang kebijakan yang telah diambil dengan mempertimbangkan kondisi riil masyarakat.

Respon keras atas kenaikan BBM ini, di mata saya adalah sesuatu yang pantas, selain karena persoalan akibat kenaikan BBM itu terhadap barang-barang lain, juga karena BBM bersentuhan langsung dengan napas kehidupan rakyat. Namun demikian, saya kira, semua pihak haras arif dalam menyikapi hal ini, terutama bagi masyarakat Riau, jangan sampai kita harus membayar lebih besar dan mahal sebagai akibat dari emosi yang meluap.

Secara filosofis, mari kita sama-sama mengingatkan kepada penyelenggara negara untuk kembali kepada fitrah. Tugas, esensi, dan fitrah sebuah negara, adalah memakmurkan rakyat. Begitu bunyi pesan dan keharusan yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip kemaharajaan Melayu. Kata-kata ini memberikan kita suatu pengertian, bahwa keberhasilan sebuah sistim pemerintahan atau keberhasilan suatu rentang amanah kekuasaan, diukur dari seberapa jauh pemegang amanah kekuasaan (pelayan rakyat) tersebut dapat menjamin kehidupan masyarakat. Jaminan tersebut dalam bentuk yang minimal adalah tersedianya kebutuhan secara memadai dan dapat dijkngkau pula oleh kekuatan-kekuatan ekonomi rakyat. Jika hal itu terpenuhi maka pemerintahan dapat dianggap telah berhasil, tapi jika tidak, pastilah telah terjadi disfungsi dan "kesalahan" dalam peiwapan kebiiakan ekonomi dan kebijakan publik.

Di Indonesia, hal inilah yang tidak terwujud. Rakyat selalu berada dalam posisi dikorbankan demi sejumlah "atas nama", baik itu atas nama pembangunan, atas nama persatuan, dan lain-lain, yang sesungguhnya tak lebih dari sebuah cara mengelabui akan ketidakmampuan melaksanakan fungsi. Jangankan bermimpi tentang kemakmur-an, untuk hidup saja, rakyat semakin susah, dan bertambah susah justru dalam usia kemerdekaan yang semakin tua. Sampai sekarang keadaan itu seperti belum akan ber-ubah, dan entah sampai kapan. Tapi kita memang harus mengubahnya.


(17 - 23 Februari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 119 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/104-Duka-BBM.html