drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

Character Assassination


Oleh : drh.chaidir, MM

Sudah menjadi resam manusia, selalu ingin mendapatkan banyak hal sekaligus. Jika disuruh memilih, hidup enak tapi kalau mati masuk neraka atau hidup pas-pasan tapi kalau mati masuk sorga, maka orang yang cerdas akan memilih hidup enak dan kalau mati masuk sorga. Hidup ini ternyata juga seperti orang berdagang. Dengan modal sekecil-kecilnya diharapkan untung sebesar-besarnya. Bekerja seadanya, tapi hasil diharapkan sebanyak-banyaknya.

Krisis politik diharapkan bisa tuntas sekaligus dengan krisis ekonomi, sementara SDM yang menjalankan sistem dan pranata penegakan supremasi hukum yang diperlukan untuk mengatasi krisis itu masih lemah. Kita mengizinkan unjuk rasa, tapi pada saat yang sama kita mengharamkan tindakan anarkis. Kita memperbolehkan mahasiswa turun ke jalan, tetapi sekaligus mengharuskan mereka menegakkan disiplin. Padahal semua tahu kalau massa sudah turun ke jalan dan menjadi sebuah gerakan massa, maka perilakunya pun perilaku massa; emosionalitas tinggi, dan rasionalitas rendah.

Kata orang, demokrasi hanya beda-beda tipis dengan anarki. Sedikit saja tergelincir, maka demokrasi akan menjadi anarki, sebab keduanya hanya dipisahkan oleh rambut dibelah tujuh. Oleh karena itu, Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura, arsitek pembangunan yang berhasil membangun Singapura menjadi sebuah negeri kaya, bersikukuh mengatakan, bukan demokrasi yang akan membuat rakyat sejahtera, tapi disiplin. Lee Kuan Yew tentu tidak betul seratus persen, tetapi juga tidak sepenuhnya salah. Demokrasi yangbaik memang memerlukan disiplin dari warga negaranya, yakni suatu sikap kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Hak dan kewajiban ditempatkan dalam tataran yang seimbang, sebab yang memiliki hak dan kewajiban tidak hanya kita sendiri; orang lain juga memiliki barang yang sama.

Namun repotnya, disiplin berkaitan erat dengan tingkat pendidikan masyarakat. Makin tinggi tingkat pen-didikan masyarakat, makin mampu masyarakat tersebut memberikan apresiasi terhadap disiplin. Tapi alur berpikir ini agak repot diterapkan dalam setting kehidupan pergerakan mahasiswa di kampus. Sebab mahasiswa di kampus memang diskenario untuk berpikir dan berbicara bebas. Biarlah mereka mencari makna disiplin itu dari ruang-ruang kuliah, di laboratorium, di perpustakaan, atau bahkan di kantin dan di halaman kampus, atau di kamar-kamar kos. Mahasiswa bahkan diskenario oleh alam boleh menggugat apa saja, boleh meragukan bumi berputar atau meragukan bahwa bintang adalah api.

Karakter pergerakan mahasiswa seakan memang telah menemukan bentuk dalam era ref ormasi ini. Mahasiswa tidak hanya mampu memaksa presiden untuk turun tahta, tetapi juga mampu memaksa dekannya untuk meletakkan jabatan. Lho apa dekan lebih tinggi daripada presiden? Dalam perspektif psikologis pergerakan mahasiswa, agaknya memang demikian, sebab mereka tidak takut kepada presiden, tapi mereka takut kepada dekan. Tetapi dekan yang mereka takuti itu pun bisa mereka lengserkan kalau mereka mau.

Oleh karena itu, terasa menyentakkan ketika Misbah, seorang mahasiswa UNRI dipecat sebagai buntut aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Menteri Pendidikan Nasional, yang notabene adalah "bapak kandung" mereka sendiri. Ada yang berkomentar, pemecatan ini merupakan character assassination atau pembunuhan karakter terhadap pergerakan mahasiswa. Sebab dengan demikian ke depan mahasiswa akan berpikir dua kali untuk melakukan unjuk rasa, apalagi dengan berteriak-teriak secara lantang memprotes kebijakan-kebijakan yang mereka anggap sungsang.

Barangkali komentar itu berlebihan, tapi mengundang perhatian. Unjuk rasa yang biasanya diikuti dengan penyampaian aspirasi secara amat berani dan terbuka tanpa tedeng aling-aling, bahkan biasanya dibumbui dengan ekspresi emosional, sudah menjadi karakter pergerakan mahasiswa dalam era reformasi sekarang ini. Sikap yang amat berani, terbuka, tanpa basa basi, dan bebas dari rekayasa, adalah segi-segi yang membedakan pergerakan mahasiswa dengan pergerakan-pergerakan sejenis lainnya yang seringkali sarat dengan muatan kepentingan Karakter pergerakan mahasiswa memang tidak bisa ditunggangi oleh kepentingan.

Namun demikian sesungguhnya aksi unjuk rasa mahasiswa jangan melulu dilihat dari cara dan gayanya, tetapi difokuskan kepada substansi yang disampaikan. Substansi yang disampaikan walaupun secara redaksional kadang sangat provokatif, tetapi acapkali memuat hal-hal yang sangat mendasar dan penting. Dan sekali lagi, dalam merumuskan sikapnya, biasanya mahasiswa tidak punya kepentingan. Kalaupun ada kepentingan, maka kepentingan itu adalah dalam koridor fungsi mahasiswa sebagai sosial kontrol dan moral force. Namun sebagai manusia, mahasiswa juga bisa salah dan mereka harus diingatkan untuk mencari jawabannya di ruang kuliah dan di per-pustakaan melalui diskusi-diskusi akademis.

Character assassination kedengarannya memang agak seram. Presiden Abdurrahman Wahid ketika masih berkuasa seringkali mengeluhkan tentang adanya character assassination terhadap dirinya. Gus Dur agaknya adalah contoh yang paling baik terhadap tuduhan character assassination itu. Selama menduduki jabatan presiden, Gus Dur terkekang. Dia tidak lagi bisa berbicara bebas sesuka hati-nya, juga tidak lagi boleh melawak. Tetapi karena memang sudah menjadi karakternya sebagai individu yang merdeka, bebas dalil, bebas berbicara apa saja, dan bebas menertawakan apa dan siapa saja, maka kemudian timbul kontroversi-kontroversi. Hari-hari terakhir sebelum Sidang Istimewa MPR yang menggusur dirinya dari tampuk kekuasaan, Gus Dur yang biasanya ceria dan humoristik, kehilangan karakternya sama sekali. Dia mengeluh bahwa pers telah melakukan character assassination terhadap dirinya.

Character assassination sekarang juga dikeluhkan oleh Akbar Tanjung, Ketua DPR-RI yang juga adalah Ketua Umum Partai Golkar. Tuduhan korupsi melalui "trial by the press" yang demikian gencar dialamatkan kepadanya tentu akan sangat mempengamhi citra Akbar Tanjung sebagai seorang politikus yang berkarakter. Berpuluh-puluh tahun Akbar Tanjung membangun citra dirinya yang dimulai dari HMI, sebagai aktivis yang memiliki integritas kokoh. Integritas pribadi itu terlihat dari sikap, cara berbicara, dan caranya merespon perkembangan politik di sekitarnya yang jauh dari konfrontatif. Kini karakter itu dibunuh.

Kita tidak tahu sejauh mana pembunuhan karakter itu memang sungguh-sungguh terjadi, sebab ini adalah hal yang abstrak. Terbunuh badan tampak kuburnya, terbunuh karakter?


(13 - 19 Januari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 105 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/103-Character-Assassination.html