drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

Berawal dari Akhir


Oleh : drh.chaidir, MM

Tiga event yang sangat sakral bagi umat manusia yang berbudaya dan bermartabat telah berlangsung dalam suasana aman, damai, dan tenteram di penghujung tahun 2001. Paling tidak di Riau di mana saya bermastautin. Indikasinya sederhana, no conflict no bomb. Konflik ditakuti karena bisa meluas cepat seperti wabah anthrax. Sementara bom jelas ditakuti karena meledak tanpa basa-basi sehingga membuat suasana mencekam. Tiga event tersebut adalah Hari Raya Idul Fitri 1422 H, Hari Natal, dan malam Tahun Baru 2002.

Sebelumnya memang ada kekhawatiran, salah satu atau salah dua atau ketiga-tiga event tersebut akan kacau. Semula memang ada informasi yang mengkhawatirkan, dan informasi itu karena merupakan desas-desus cepat menyebar dan tak jelas asal usulnya. Desas-desus itu memang sangat mengkhawatirkan, apalagi catatan pahit setahun silam mungkin masih terasa segar dalam ingatan. Di daerah ini beberapa bom meledak di malam Natal yang menyebabkan korban tewas berjatuhan dan beberapa lainnya luka berat dan ringan. Catatan hitam masa lalu itu tentu menghantui dan membuat trauma masyarakat, apalagi masyarakat kita sangat mempercayai pepatah orang tua-tua, "malang itu tidak berbau".

Oleh karena itu, walaupun perayaan ketiga event tersebut tetap berlangsung dalam suasana meriah, namun secara jujur diakui oleh beberapa pemuka agama yang saya temui dalam berbagai kesempatan, belum kembali ke suasana seperti beberapa tahun sebelumnya, ketika perasaan-perasaan sentimen keagamaan, kesukuan, dan ras masih terkawal dengan baik. Terkawal maksudnya bukan akibat pengamanan aktif oleh aparat keamanan seperti yang kita lihat tahun ini, tetapi terkawal secara pastf oleh rambu-rambu internal di dalam diri masing-masing umat.

Dulu ungkapan-ungkapan yang tidak boleh diucapkan, sungguh-sungguh tidak diucapkan. Biarpun hari-mau di perut, tetapi kambing juga yang dikeluarkan di mulut. Nilai-nilai ini sebelumnya masih terkawal dengan baik, sehingga ketersinggungan yang mungkin timbul akibat nuskomunikasi dapat ditekan pada tingkat yang minimal. Maklum masyarakat kita sekarang sangat heterogen, berbilang kaum, lubuk tidak sama, padang pun berbeda, sebagaimana bidal orang tua-tua, "lain lubuk lain ikannya lain padang lain belalangnya".

Perayaan tiga event yang baru saja berlalu di akhir tahun 2001, tidak dapat dinafikan memang berlangsung dalam pengamanan aktif dari aparat keamanan pada tingkat kesiapsiagaan penuh. Saya tidak tahu apakah itu siaga satu, dua, tiga, atau berapa, tetapi melihat Kapolda Riau, Pak Joni Yodjana berseragam pada saat menunaikan salat Idul Fitri dan ketika menghadiri perayaan Natal, saya merasa ada sesuatu yang berkaitan dengan kewaspadaan. Suatu kali sambil senyum-senyum simpatik Pak Joni memberikan argumentasi. Beliau bilang, "Hanya untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat, bahwa polisi ada di tengah-tengah mereka." Saya pun maklum bin mahfum, Aparat memang tidak mau ambil risiko dengan berpura-pura tidak ada masalah. Rasa aman masyarakat memang sedang terjejas. Sebab bagaimanapun, kekhusyukan beribadah tentu sedikit banyak akan terpengaruh oleh keamanan dan ketertiban masyarakat.

Suasana yang kondusif di akhir tahun 2001, khususnya dalam keamanan dan ketertiban masyarakat, merupakan awal yang baik untuk menapaki hari-hari di tahun 2002 yang sekarang sudah kita masuki. Sulit terbantahkan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang agamis. Agenda-agenda keagamaan seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Natal, dan Tahun Baru yang berlangsung secara beriringan di akhir tahtm 2001 merupakan agenda yang sangat sakral dan maha penting bagi umat beragama. Sedikit saja kekhusyukan dan kemeriahan itu terusik, para pengikutnya akan bereaksi keras, bahkan cenderung berlebihan. Ini sebuah pertanda bahwa masalah agama adalah masalah yang sangat prinsipil dan asasi. Masyarakat kita selalu menempatkan dimensi kebendaan atau duniawi dalam keadaan seimbang, selaras dan serasi dengan dimensi kerohanian. Keduanya berada dalam suatu harmonisasi. Dunia-akhirat bagi kita, umat beragama, adalah padanan yang tak bisa dipisahkan. Ukuran ini tentu tidak sama dengan ukuran di negara-negara maju yang menganut paham sekuler, di mana dimensi kerohanian bukan menjadi urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi, urusan individu.

Dalam masyarakat kita yang tidak menganut paham sekuler, keterikatan emosional antara pemeluk dengan paham yang dianutnya umumnya sangat kuat. Seseorang belum tentu menjadi pemeluk agama yang baik, tapi pasti ia pengikut yang setia.

Pengalaman kita dengan peristiwa pahit setahun yang lalu memperkokoh kesadaran dan pemahaman kolektif bahwa ketertiban, keamanan, dan rasa aman ternyata memang mahal. Ibaratnya, kita baru sadar sinar matahari itu indah ketika hari demi hari cuaca mendung berawan gelap. Amerika Serikat bisa menghitung kerugian material dari ambruknya gedung pencakar langit World Trade Center di New York atau rusaknya Pentagon, tetapi mereka tidak bisa menghitung kerugian moril dari ancaman senjata kuman anthrax. Dampaknya sangat luas, mereka menjadi takutbepergian ke luar rumah. Mereka merinding melihat tepung, tidak lagi bisa membedakan mana tepung yang tercemar kuman anthrax mana yang tidak, padahal bahan baku makanan pokok mereka adalah tepung gandum.

Dalam kadar yang berbeda, rasa aman kita pun telah terjejas. Secara fisik kita bisa mengatakan Hari Raya Idul Fitri, Hari Natal, dan Tahun Baru berlangsung aman, tetapi kita tidak bisa membohongi diri. Ada sesuatu yang hilang, yakni suasana kedamaian dan ketenteraman dalam hati kita masing-masing ketika kita berangkat menunaikan ibadah agama. Kita baru sedikit lega melihat kapolda dan danrem ada di sana, di tengah kita. Kalau bapak berdua mi ada, pasti di sana banyak anak buahnya, walaupun mereka hanya berpakaian preman.

Yang menjadi bahan renungan kita adalah sampai kapan keadaan seperti ini akan berlangsung, yaitu kondisi di mana kita merasa aman hanya ketika aparat ada di sekitar kita. Sesungguhnya keamanan dan rasa aman itu menjadi tanggung jawab kita bersama, menjadi tanggung jawab warga dan menjadi tanggung jawab semua pemeluk agama. Okelah, untuk tahun 2001 kemarin keamanan dan rasa aman itu dikawal oleh aparat keamanan, tetapi ke depan pelan-pelan pengamanan fisik seperti itu harus bisa kita kurangi, kita serahkan kepada diri masing-masing sebagai bentuk dari pemahaman bahwa kita adalah ma-syarakat yang berbudaya dan bermartabat. Aparat adalah juga manusia biasa, yang juga pasti ingin berkumpul berhari raya atau berhari Natal bersama keluarganya. Mari kita awali tahun 2002 dengan akhir yang baik tahun 2001.


(6 - 12 Januari 2002)


Tulisan ini sudah di baca 107 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/102-Berawal-dari-Akhir.html