drh. Chaidir, MM
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Panggil Aku Osama | Bagian : 2

Tiga "Ta"


Oleh : drh.chaidir, MM

Tiga "Ta" tidak ada hubungan saudara sama sekali dengan 3-T seperti yang sering dibicarakan di berbagai seminar dan diskusi globalisasi. Tiga T adalah merupakan singkatan dari telekomunikasi, transportasi, dan turisme, yakhi tiga aspek yang sangat mempengaruhi perekonomian dunia dewasa ini. Sementara tiga "ta" adalah singkatan dari tahta, harta, dan wanita. Ketiga kosakata ini walaupun bisa juga mempengaruhi ekonomi dunia, tetapi konteksnya tentu berbeda. Jangan dikira tahta, harta, dan wanita tidak mempengaruhi dunia Disebabkan oleh tiga "ta" ini orang bisa berperang. Ka-rena tiga ta ini juga orang bisa bunuh-bunuhan, bahkan sesama saudara sekalipun. Kita sudah mendengar riwayat yang panjang tentang ini. Tahta, harta, dan wanita, berbeda artinya, tetapi seringkali dirangkaikan bila orang berbicara tentang libido kekuasaan.

Seakan sudah menjadi aksioma, tahta, harta, dan wanita selalu dikaitkan dengan intrik-intrik di seputar perebutan kekuasaan. Mantan Presiden Gus Dur tidak tumbang digoyang isu "wanita" Aryanti, tetapi jatuh oleh isu harta dan kenekatannya mempertahankan tahta. Akbar Tanjung belum pernah digoyang isu wanita, tetapi dia amat kalang kabut digoyang isu harta. Barangkali hanya Ibu Mega yang kecil peluangnya untuk digoyang isu wanita, karena beliau sendiri adalah wanita di atas tahta.

Tiga "ta" ini bisa menjadi sumber motivasi bagi seseorang untuk mencapai puncak karier, tetapi ketiga "ta" itu baik dalam kapasitasnya sebagai sumber motivasi ataupun sebagai sumber destruksi sama dahsyatnya. Do-rongan yang luar biasa kuatnya untuk meraih tahta, dengan kata lain menghalalkan segala macam cara untuk mencapainya, akan menjadi malapetaka. Keserakahan terhadap harta, juga sama buruknya. Nafsu birahi liar yang tak terkendali, demikian pula, bisa menghancurkan semuanya.

Dorongan yang hebat untuk mendapatkan atau mempertahankan tahta, dorongan untuk menumpuk harta tujuh keturunan, dorongan untuk mendapatkan wanita sesuai selera, adalah dorongan-rorongan primitif yang muncul ke permukaan secara tak terkendali. Orang yang gagal melawan kerakusan dan kebuasannya sendiri, adalah orang yang gagal menekan dorongan primitif yang muncul dari dalam dirinya. Kita sering mendengar ungkapan jastifikasi dari orang-orang yang sukses membungkus ambisinya: ambisi boleh, ambisius tidak boleh. Perjuangan untuk mengekang dorongan primitif itulah yang oleh Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai Jihadul Akbar (perjuangan terbesar). Karena seseorang harus berjuang melawan dirinya sendiri, menundukkan hawa nafsunya sendiri. Namun kalau dia berhasil melepaskan diri dari desakan dorongan primitif itu, pastilah dia akan memenangkan pertarungan terbesar dalam hidupnya.

Berbicara mengenai dorongan-dorongan primitif dan dorongan-dorongan positif yang muncul dari dalam diri manusia, kita tidak bisa berpaling dari teori warisan Sigmund Freud, seorang ahli ilmu jiwa dan penemu teori psikoanalisa. Freud membagi jiwa manusia ke dalam tiga sistem, yaitu id, superego, dan ego. Id, menurut Freud, ada dalam alam bawah sadar kita. la merupakan tempat bagi dorongan-dorongan primitif, yaitu dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan. Dorongan ini ada dua, yaitu dorongan untuk hidup dan mempertahankan kehidupan (life instinct) dan dorongan untuk mati (death instinct). Bentuk dorongan hidup adalah dorongan seksual atau libido. Bentuk dorongan mati adalah agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang ingin menyerang orang lain, berkelahi, berperang, atau marah. Esensi dari id adalah prinsip kesenangan, yang bertujuan memuaskan semua dorongan primitif, dorongan hawa nafsu seksual, membunuh, dan sebagainya.

Sementara superego, menurut Freud, adalah sistem yang dibentuk kebudayaan. Superego berisi dorongan untuk berbuat kebajikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat. Superego selalu berusaha menekan dorongan-dorongan id. Akibatnya akan selalu terjadi saling tekan antara dorongan id dan dorongan superego. Kedua sistem yang saling tekan itu dijaga keseimbangannya oleh ego, sehingga tidak ada satu pun yang terlalu dominan. Tidak boleh terjadi dorongan dari id saja yang dimunculkan ke kesadaran, sebaliknya juga tidak semua dorongan superego saja yang dipenuhi. Ego, menurut Freud, menjalankan prinsip kenyataan (reality principle), yaitu menyesuaikan dorongan-dorongan id dan superego dengan kenyataan di dunia luar. Ego yang lemah tidak mampu menjaga keseimbangan antara superego dan id. Kalau ego terlalu dikuasai oleh dorongan id saja, maka orang itu akan menjadi psikopat (tidak memperhatikan norma-norma dalam segala tindakannya). Kalau ada orang-orang yang semau gue di sekitar Anda, tidak mau tahu dengan etika-etika yang berlaku umum dalam masyarakat, maka hanya ada dua kemungkinan, barangkali orang itu psikopat atau sedang sakau setelah menenggak putau sehingga menjadi kacau-balau.

Kalau seseorang dikuasai oleh superegonya, maka ia akan menjadi psikoneurose. Orang ini berada dalam kondisi depresi karena konflik emosional secara internal. Dorongan primitifnya sebagian besar tidak terakomodasi, tidak tersalurkan, sementara kenyataan hidup yang ditemui tidak demikian, realitas sangat berbeda.

Jika dorongan id dan dorongan superego seseorang dalam kondisi berimbang, maka orang tersebut memiliki kemampuan berpikir, kemampuan merasa dan berbuat secara normal. Kondisi psikologis ini cenderung menen-tukan cara berpikir, merasa, bertindak dan cara-cara ter-tentu dari seseorang dalam merespon lingkungannya, termasuk respon terhadap tiga "ta" tadi. Bila yang mengedepan adalah dorongan-dorongan primitif, maka ketiga "ta" itu akan menjadi musibah, tetapi bila dorongan primitif itu berada dalam suatu perimbangan dengan dorongan-dorongan moral, maka tiga "ta" bisa menjadi berkah.

Moral menyangkut kebaikan. Orang yang tidak baik disebut sebagai orang yang tidak bermoral. Maka secara sederhana kita mungkin dapat menyamakan moral dengan kebaikan orang atau kebaikan manusiawi. Namun tentu sulit membuat deskripsi, orang yang baik atau orang yang bermoral itu orang yang bagaimana?

Moral sebenarnya memuat dua segi yang berbeda, yakni segi batiniah dan segi lahiriah. Orang yang baik adalah orang yang memiliki sikap batin yang baik dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik pula. Sikap batin itu seringkali juga disebut nati. Orang yang baik mempunyai hati yang baik. Akan tetapi sikap batin yang baik baru dapat dilihat oleh orang lain setelah terwujud dalam perbuatan lahiriah yang baik pula.


(2 - 8 Desember 2001)


Tulisan ini sudah di baca 112 kali
sejak tanggal 29-05-2016

Daftar isi buku Panggil Aku Osama

  

  


http://drh.chaidir.net/buku/Panggil-Aku-Osama/101-Tiga-%22Ta%22.html